Vonis 3,5 Tahun terhadap Sonori, Ibu yang Memukul Anaknya Hingga Meninggal Dianggap Terlalu Berat

Gifu Fertility Net dan pendukungnya meminta agar hukuman bagi seorang ibu yang dituduh membunuh anaknya sendiri, diringankan.

Vonis 3,5 Tahun terhadap Sonori, Ibu yang Memukul Anaknya Hingga Meninggal Dianggap Terlalu Berat
NHK
Seiko Itoigawa, Ketua Gifu Fertility Net (kedua dari kiri pegang kertas putih) juga anggota Asosiasi Pendukung Fertilitas Jepang menuju Pengadilan Tinggi Nagoya, Senin (13/5/2019). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo di Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO  - Komunitas pendukung fertilitas Jepang, Gifu Fertility Net yang dipimpin Seiko Itoigawa membawa petisi tandatangan dari 10.000 pendukungnya agar hukuman bagi seorang ibu yang dituduh membunuh anaknya sendiri, diringankan.

"Saya rasa banyak orang terutama yang mengirimkan tandatangannya kepada saya akan merasa simpati kepada ibu tersebut dan sangat prihatin dipisahkan dengan anak-anaknya. Tolong pikir kembali keadaan tersebut apakah tidak berat sekali bagi seorang ibu?" ungkap Itoigawa, Senin (13/5/2019) saat menyerahkan surat petisi 10.000 penandatangan kepada Pengadilan Tinggi Nagoya.

Matsuri Sonori (30), seorang ibu dari Kota Toyota Perfektur Aichi tahun lalu dituduh membunuh anaknya sendiri yang berusia 11 bulan dengan cara memukulinya hingga meninggal di rumahnya.

Pengadilan Nagoya cabang Okazaki mengomentari Maret 2019 bahwa simpati itu memang boleh-boleh saja dimana seorang ibu pasti mengalami masa sangat berat mendidik dan membesarkan anak-anaknya dan mengakibatkan depresi bagi sang ibu.

Pengadilan Nagoya memutuskan hukuman penjara 3,5 tahun yang dianggap terlalu berat bagi kalangan ibu-ibu dan komunitas fertilitas di Jepang.

Seiko Itoigawa, Ketua Gifu Fertility Net (kedua dari kiri pegang kertas putih) juga anggota Asosiasi Pendukung Fertilitas Jepang menuju Pengadilan Tinggi Nagoya, Senin (13/5/2019).
Seiko Itoigawa, Ketua Gifu Fertility Net (kedua dari kiri pegang kertas putih) juga anggota Asosiasi Pendukung Fertilitas Jepang menuju Pengadilan Tinggi Nagoya, Senin (13/5/2019). (NHK)

Itulah akibatnya kelompok pendukung tersebut meminta agar hukuman ditunda dan bahkan diringankan karena dianggap terlalu berat.

Kasus itu kini naik ke pengadilan tinggi sekaligus menerima petisi keberatan dari komunitas fertilitas ibu-ibu Jepang tersebut.

Menurut petisi tersbeut menuliskan bahwa semua yang menandatangani petisi menganggap putusan hukuman tidak pantas dan perlu dievaluasi kembali.

Baca: Terkuak dari Hasil Autopsi Kasir Indomaret yang Dimutilasi, Polisi Pastikan Tidak Ada Hubungan Badan

Membesarkan dua atau tiga anak atau lebih bukan hal ringan, sangat berat di Jepang.

Halaman
12
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved