Kenapa Orang Bisa Kerdil?

PERTUMBUHAN seorang manusia menggambarkan kualitas keadaan fisik, mental, dan lingkungan sekitarnya.

Pertumbuhan dipengaruhi  sejumlah faktor namun yang akan dibahas secara spesifik kali ini adalah gangguan pertumbuhan akibat gangguan fungsi hormonal dalam tubuh.

Pertumbuhan saat di dalam kandungan maupun setelah lahir dipengaruhi oleh berbagai kadar hormon dalam tubuh. Bila terjadi kekurangan dalam produksi hormon akan terjadi penurunan proses tumbuh sedangkan bila terlalu banyak akan terjadi kelebihan proses tumbuh.

Hormon diproduksi oleh kelenjar-kelenjar tertentu dalam tubuh yang produksinya tergantung dari rangsangan system di atasnya, fungsi dari kelenjar tersebut dan tersedianya bahan baku. Selain itu hormon dapat bekerja bila reseptor pada sel yang menerima hormon jumlahnya cukup dan sensitive terhadap rangsangan hormon.

Manusia dikatakan berperawakan pendek (kerdil) bila tinggi badan dua kali di bawah tinggi badan rerata orang-orang yang sama usia dan jenis kelaminnya.

Ada dua jenis perawakan pendek yaitu :

1. Dwarfism (cebol)
Yaitu gangguan pertumbuhan akibat gangguan pada fungsi hormon pertumbuhan / growth hormone. Gejalanya berupa badan pendek, gemuk, muka dan suara imatur (tampak seperti anak kecil), pematangan tulang yang terlambat, lipolisis (proses pemecahan lemak tubuh) yang berkurang, peningkatan kolesterol total / LDL, dan hipoglikemia.

Biasanya intelengensia / IQ tetap normal kecuali sering terkena serangan hipoglikemia berat yang berulang.Hormon pertumbuhan ini diproduksi oleh somatrotop (bagian dari sel asidofilik) yang ada di kelenjar hipofisis. Hormon ini merupakan hormon yang penting untuk pertumbuhan setelah kelahiran dan metabolisme normal karbohidrat, lemak, nitrogen serta mineral.

Hormon ini tidak bekerja secara langsung dalam mempengaruhi pertumbuhan, tetapi melalui perantaraan suatu peptida yang disebut somatomedin (IGF I dan IGF II) yang produksinya diinduksi oleh hormon pertumbuhan.

Somatomedin yang produksi utamanya di hati ini dipengaruhi juga oleh usia dan status gizi seseorang. Somatomedin inilah yang akan berikatan dengan reseptor-reseptor dalam sel tubuh guna merangsang pertumbuhan melalui:

    * Sistesis protein. Hormon pertumbuhan akan meningkatkan produksi protein dan transportasinya ke sel-sel otot sehingga merangsang pertumbuhan otot dan jaringan pada umumnya.

    * Metabolisme karbohidrat. Hormon pertumbuhan memiliki efek antagonis terhadap insulin sehingga meningkatkan kadar gula dalam darah, yang nantinya akan meningkatkan proses konversi karbohidrat menjadi protein.

Halaman
12
Editor: OMDSMY Novemy Leo
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help