Deutsche Welle

Efektifkah Teknologi Tinggi Gempur Perdagangan Ilegal Satwa Langka?

Para pecinta lingkungan manfaatkan teknologi tinggi dalam pertempuran mereka melawan perdagangan ilegal berbagai satwa yang terancam…

Baca juga;

Photo Ark: Dokumentasi Biodiversitas Sebelum Musnah

Rumah Penyelamatan Monyet Maroko

Tantangan masih besar

Meskipun ada serangkaian undang-undang yang bertujuan untuk melindungi satwa liar, penjaga hutan dan polisi di Indonesia kekurangan sumber daya ilmiah, demikian dikatakan para pakar.

"Apa yang banyak orang tidak sadari adalah petugas penegak hukum bukan ahli biologi," kata Pritchett. "Mungkin ada beberapa dari mereka yang mengkhususkan diri, tapi ketika sampai pada hal itu kita berbicara tentang sekitar 25.000 sampai 30.000 spesies di seluruh dunia yang dilindungi dari perdagangan internasional."

Ini adalah celah yang ingin dilakukan Plugin Freeland saat mengembangkan aplikasi identifikasi smartphone WildScan. Aparat penegak hukum dan anggota masyarakat dapat menggesek dan mengklik melalui pertanyaan dan foto untuk menentukan apakah mereka melihat spesies yang dilindungi. Mereka kemudian dapat memotret dan melaporkannya ke pihak berwenang di seluruh Asia Tenggara dengan menggunakan aplikasi ini.

Pritchett mengatakan laporan yang dihasilkan melalui aplikasi - yang memiliki database sekitar 700 spesies dan 2.000 foto - telah membuat pihak berwenang bisa mengambil tindakan di Indonesia dan Thailand.

Namun, terlepas dari upaya terbaik para konservasionis dan kemajuan teknologi yang besar, banyak pakar percaya bahwa pertempuran ini masih berada di medan yang berat.

Undang-undang yang ketinggalan jaman, kurangnya sumber daya penegak hukum dan tingkat penuntutan yang rendah tetap menjadi tantangan utama dalam menghentikan perdagangan, demikian menurut laporan tahun 2015 oleh badan bantuan pembangunan USAID.

Yang terpenting, tidak adanya kemauan politik untuk mengatasi pasar gelap yang menguntungkan, kata Ian Singleton, direktur Program Konservasi orangutan sumatera (SOCP), yang menggunakan pesawat tak berawak untuk melacak orangutan dan pembukaan hutan ilegal yang mengancam habitat mereka. "Tanpa ketegasan pemerintah, tidak ada teknologi yang akan mengubah apapun," katanya.

ap/yf(afp)

Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved