• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribunnews.com

Bagaimana Mengatasi Nyeri Leher Bagian Belakang?

Selasa, 3 Juli 2012 15:31 WIB
Bagaimana Mengatasi Nyeri Leher Bagian Belakang?
NET
Ilustrasi

TRIBUNNEWS.COM, YOGYA - Seorang pembaca Tribun Jogja (grup Tribunnews.com) bertanya, bagaimana mengatasi rasa nyeri di leher kiri bagian belakang leher. Dia merasakan  terkadang, leher terasa sangat sakit seperti ditarik.

Apa sebenarnya penyebab nyeri leher? Bagaimana cara mengatasinya? Orthopaedi & Traumatologi RSUP Dr Sardjito menjelaskan, leher terdiri atas tulang dan bagian lunak, antara lain otot, ligamen, dan saraf. Tulang belakang bagian leher berfungsi untuk pergerakan dan penopang berat kepala. Tidak seperti tulang belakang bagian lain, tulang leher bagian belakang tidak dilindungi oleh tulang lain, sehingga rentan terhadap cedera yang menimbulkan rasa sakit dan membatasi pergerakan.

Sakit leher pada kondisi tertentu dapat hilang dengan sendirinya, tapi sebagian memerlukan diagnosis dan perawatan medis lebih lanjut. Nyeri leher dapat disebabkan oleh kelainan di jaringan lunak, yakni otot, ligamen, dan saraf, juga tulang serta sendi tulang belakang. Penyebab paling umum sakit leher adalah kelainan jaringan lunak karena cedera kecil tetapi berkepanjangan. Meskipun jarang, hal tersebut dapat juga disebabkan oleh infeksi, tumor, dan kelainan bawaan tulang belakang.

Saat ini, penyebab terbanyak adalah penyakit leher degenerasi karena proses penuaan dan aktivitas yang berlebihan. Di beberapa orang, adanya masalah tulang belakang bagian leher menimbulkan rasa sakit di punggung atas, bahu, dan lengan.

Berikut macam-macam penyakit inflamasi di tulang belakang:

1.Rheumatoid Arthritis
Rheumatoid arthritis dapat merusak sendi-sendi di leher dan mengakibatkan kekakuan, biasanya di daerah leher bagian atas.

2.Degenerasi  Diskus Intervetebral Cervical (Spondylosis)
Degenerasi disk biasanya terjadi pada usia 40 tahun atau lebih. Disk dapat menonjol dan memberikan tekanan terhadap saraf tulang belakang ketika tepi dari disk melemah.

3.Cedera
Kecelakaan kendaraan bermotor atau kecelakaan olahraga dan jatuh, dapat mengakibatkan cedera di leher. Tabrakan mobil dapat mengakibatkan hyperextension(gerakan leher ke belakang di luar batas normal) atau hyperflexion (gerakan leher maju melampaui batas normal). Pada umumnya, cedera mengenai jaringan lunak. Lebih parahnya, dapat mengakibatkan cedera leher disertai fraktur atau dislokasi tulang leher, yang dapat merusak saraf tulang belakang dan berpotensi mengakibatkan kelumpuhan.

Beberapa pengobatan yang dapat dilakukan:

1.Pengobatan non-infasif

A. Pemberian obat-obatan (medikamentosa)

Pada umumnya, dokter akan memberikan obat-obatan antiradang dan atau antinyeri untuk menghilangkan rasa sakit. Pengobatan ini akan efektif untuk menyembuhkan kelainan yang bersifat ringan.

B. Fisioterapi
Biasanya, dokter akan merujuk kepada dokter ahli rehabilitasi medik dan memberi terapi hangat dengan sinar infra merah atau diatermi atau terapi latihan, dengan tujuan memperkuat otot-otot tulang leher, sehingga susunan tulang leher bertambah stabil dan tak mudah goyang, yang dapat mengakibatkan leher bertambah sakit.

2.    Pengobatan invasif

Saat ini, banyak metode pengobatan dengan terapi minimal invasif untuk mengatasi masalah nyeri leher. Salah satunya dengan pengobatan Radiofrequency yang ditujukan kepada saraf sendi tulang belakang, sehingga sakit yang bersumber dari sendi tersebut tidak dapat dihantarkan ke otak, dan rasa sakit pun menghilang. Terapi ini cukup efektif bila diagnosanya tepat.

Terapi minimal invasif terhadap kelainan di leher dengan menggunakan mikroskop, sehingga sayatan yang diperlukan sangat kecil dan menguntungkan pasien. Sebab, rasa sakit yang ditimbulkan setelah operasi akan sangat minimal dan tentunya perawatan pascaoperasi akan lebih cepat.

Pada keadaan tertentu, operasi besar diperlukan untuk mengatasi nyeri leher, tentunya dengan pertimbangan yang sudah dijelaskan kepada pasien tentang untung ruginya. Apapun pengobatan yang dilakukan, mencegah terjadinya sakit adalah hal yang terbaik.

Editor: Anita K Wardhani
Sumber: Tribun Jogja
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas