Jumat, 19 Desember 2014
Tribunnews.com

Berkat Alat Ini, Nyawa Ibu Tiga Anak Batal Melayang

Senin, 19 November 2012 21:40 WIB

Berkat Alat Ini, Nyawa Ibu Tiga Anak Batal Melayang - sehat.jpg
Sehatnews
Prof Dr Warsito Purwo Taruno menunjukkan alat pembunuh kanker temuannya.
Berkat Alat Ini, Nyawa Ibu Tiga Anak Batal Melayang - bra.jpg
Tempo.co
Bra untuk terapi pembunuh kanker ciptaan Prof Warsito.

Laporan Wartawan Tribunnews, Nurmulia Rekso

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
Ini kabar gembira untuk para penderita kanker. Seorang perempuan bernama Suwarni berhasil sembuh total dari penyakit kanker payudara stadium IV yang menerpanya.

Ibu tiga anak itu bisa sembuh setelah sebulan mengenakan alat yang menyerupai pakaian dalam bagian atas wanita, ciptaan sang adik, Prof Dr Warsito Purwo Taruno.

Penyelamatan jiwa Suwarni, memang tidak lepas dari kehebatan, Warsito, adiknya. Awalnya, Warsito tergerak hati untuk berbuat sesuatu menolong kakaknya yang menderita kanker payudara. Dan lebih tragis, dokter mengdiagnosis, akibat digerogoti sel-sel kanker ganas, jika tidak ada mukjizat, nyawa Suwarni tinggal bertahan dua tahun.

Tidak mau kehilangan kakak, selamanya, Warsito memutar otak menciptakan alat pembunuh kanker yang bersarang di payudara. Bermodal penguasaan ilmu di bidang electrical capacitance volume tomography (ECVT) atau tomografi medan listrik, laki-laki 44 tahun ini membuat pemindai yang bisa mendeteksi posisi tumor atau kanker di tubuh manusia.

Alat berbasis medan listrik yang dia temukan mampu melihat dan mempetakan posisi kanker atau tumor secara jelas. Ia menggunakan lempengan logam yang berfungsi sebagai penghantar listrik yang dialiri arus dari baterai 9 volt. Alat ini bertenaga baterai yang bisa di isi ulang, atau rechargeable.

Ia melibatkan ahli kanker dari RS Dharmais Jakarta dan UGM Yogyakarta, alat diujicobakan pada kultur jaringan sel kanker. Menakjubkan. Hasilnya, sepertiga jaringan kanker mati dalam tiga hari. Posisi yang akurat terhadap posisi tumor penting agar medan listrik melintas tepat di jaringan tumor.

Proses penciptaannya sejak Februari 2010 hingga Juni 2010. Setelah melalui tahapan penyempurnaan, termasuk memasangnya pada kutang kanker, Warsito mencobakan kepada Suwarni, kakaknya.

Alat ciptaan Warsito adalah pembalut dada atau bra atau BH dilengkapi cancer electro capacitive therapy. Bra ECCT. ECCT kepanjangan dari electro capacitive cancer treatment. Penyandang gelar doktor dari Universitas Shizuoka, Jepang tahun 1997 menemukan pemindai tubuh (tomografi) berbasis listrik statis, ECVT. Bentuknya seperti rompi antipeluru setengah badan, atau kutang. Alat inilah yang yang mampu membunuh sel-sel kanker.

Sejak awal tahun 2012, Prof Dr Warsito menjadi dosen tetap di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Indonesia (UI) itu kemudian membuka Ctech Labs (Center for Tomography Research Laboratory) Edwar Technology, Ruko Perumahan Modernland, Tanggerang, Banten. Di tempat inilah masyarakat dapat dengan mudah mengakses "keajaiban" alat ciptaan Warsito, laki-laki kelahiran Karangayar, Jawa Tengah, 16 Mei 1967.

Ditemui di kantornya, Ctech Labs, Kamis (15/11), Warsito mengaku sudah melayani sekitar 3.000 orang. Mereka menggunakan alat ciptaannya dengan sistem sewa, Rp 4 juta untuk masa enam bulan. Alat tidak diperjualbelikan, melainkan disewakan. Setelah usai masa pemakaian, alat ditarik dan didaur ulang.

Kini, bentuk Bra ECCT tidak lagi sebatas menyerupai bra wanita, akan tetapi juga ada yang berbentuk celana untuk penyembuhan kanker rahim. Bahkan ada berbentuk helm untuk membunuh kanker otak, hingga alat berbentuk selimut untuk kanker darah. Ia menyebutkan ada sekitar 50 jenis alat yang tersedia, yang kesemuanya telah mandapatkan hak paten.

"Dari sekitar 3.000 orang itu, 70-80 persen di antaranya kondisinya membaik. Dan pasien yang sembuh total jumlahnya mencapai di atas seratus orang," kata Warsito dengan bangga. Namun dia tidak berdusta, "Ada juga yang stagnan tidak membaik."

Warsito memaparkan umumnya penderita kanker yang kondisinya tidak membaik setelah menggunakan alat ciptaanya, mungkin karena jenis kanker yang diidapnya adalah kanker jinak, yang tidak cukup sensitif terhadap glombang listrik statis. Sebaliknya, penderita kanker yang telah berada di atas stadium II, justru kondisinya membaik.

Warsito mulai membuat pemindai ketika mengajar di Ohio State University, Amerika Serikat, tahun 2001, setelah hijrah dari Jepang pada 1999. Tahun 2003, di tengah kariernya yang cemerlang di Amerika, satu dari 15 peneliti terkemuka yang menjadi anggota Industrial Research Consortium itu memutuskan menyempurnakan alatnya di Tanah Air.

Ia mendirikan Ctech Labs Edwar Technology dan rela pulang-balik Jakarta - Ohio untuk mengajar di Ohio State University. Di laboratorium yang berdiri di rumah toko Modern Land, Tangerang, Banten, itulah ia berhasil menciptakan ECVT-nya tahun 2004.

Dua tahun kemudian, Warsito sudah menerima paten atas temuannya itu dari biro paten Amerika. ECVT-nya telah dibeli berbagai lembaga, termasuk NASA, yang memakainya untuk memindai keretakan dinding pesawat. Untuk Indonesia, ia membuat Sona CT Scanner, yakni pemindai ultrasonik untuk memeriksa dinding tabung gas bertekanan tinggi yang digunakan pengelola bus Transjakarta.

Kontak Prof Warsito P.Taruno

CTECH LABS EDWAR TECHNOLOGY
Jl. Hartono Raya R-28, Modernland, Cikokol, Tanggerang 15117.
Telp. 5529930

Klik TRIBUN JAKARTA Digital Newspaper
(Berita, artikel dan foto-fotonya dijamin WOW!)

Baca Artikel Menarik Lainnya

Penulis: Nurmulia Rekso Purnomo
Editor: Agung Budi Santoso

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas