Rabu, 8 Juli 2015
Tribunnews.com

Alat Pembunuh Kanker Diminati Pasien dari Luar Negeri

Selasa, 20 November 2012 17:29 WIB

Alat Pembunuh Kanker Diminati Pasien dari Luar Negeri - sehat.jpg
Sehatnews
Prof Warsito Taruno dan alat pembunuh kanker bikinannya.
Alat Pembunuh Kanker Diminati Pasien dari Luar Negeri - bra_(1).jpg
Tempo.co
Bra terapi antikanker ciptaan Prof Warsito Taruno.

Laporan Wartawan Tribunnews, Nurmulia Rekso

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
Ditemukannya alat pembunuh kanker oleh Prof Dr Warsito Purwo Taruno membuat geger (heboh) dunia medis, tidak hanya di Indonesia bahkan sampai mancanegara.

CTECH Labs (Center for Tomography Research Laboratory) Edwar Technology, Ruko Perumahan Modernland, Tanggerang, Banten, pun kini setiap hari kerja, yakni Senin-Jumat didatangi puluhan pasien kanker yang ingin menyembuhkan diri dari gerogotan penyakit mematikan ini.

Pasien berdatangan dari berbagai penjuru. Ada dari Aceh, Papua hingga dari luar negeri sekalipun, seperti Belgia. Prof Dr Warsito Purwo Taruno, penemu alat berbasis medan listrik pembunuh kanker, mengatakan sudah ada lima pejabat yang mengobati penyakitnya, namun sayangnya Warsito enggan menyebutkan identitas pejabat tersebut.

"Tempat ini bukan klinik ya, kami tidak meminta orang yang datang untuk menginap maupun meminum obat dari kami. Tempat ini adalah payung dari penelitian tentang alat saya," ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, setiap penderita kanker yang datang akan disodorkan formulir persetujuan, yang menegaskan perkembangan kesehatan sang penderita akan digunakan untuk kepentingan penelitian medis.

Ia mengaku sejauh ini tidak pernah menemui kendala mengenai perizinan usaha tersebut.
"Alat kami menggunakan tenaga listrik sekitar 3 volt, dan memang tidak ada peraturan yang bisa mengatur hal tersebut," tutur Warsito.

Di ruko dua lantai tersbut, Warsito bersama puluhan stafnya mengumpulkan data mengenai efek dari ciptaannya terhadap penderita kanker. Kini ia tengah mengumpulkan syarat-syarat, agar alat tersebut mendapatkan clearance dari Badan penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, sehingga penggunaan alat tersebut bisa disejajarkan dengan kemoterapi ataupun radiasi di rumah sakit.

Halaman1234
Penulis: Nurmulia Rekso Purnomo
Editor: Agung Budi Santoso
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas