Pasien Serangan Jantung Butuh Tindakan Cepat dalam Enam Jam Pertama

Kemajuan layanan medis di Indonesia, terutama untuk menangani penyakit-penyakit kritis sebenarnya sudah sama bagusnya

Pasien Serangan Jantung Butuh Tindakan Cepat dalam Enam Jam Pertama
Shutterstock
Serangan jantung

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kemajuan layanan medis di Indonesia, terutama untuk menangani penyakit-penyakit kritis sebenarnya sudah sama bagusnya dengan layanan medis di rumah sakit-rumah sakit luar negeri. Namun sayangnya, mindset atau imej di kalangan masyarakat kita bahwa layanan pengobatan medis di rumah sakit di luar negeri masih lebih bagus dibanding layanan di rumah sakit dalam negeri masih demikian kuat, terutama di kalangan orang berduit.

Untuk penanganan penyakit jantung misalnya, rumah sakit di dalam negeri sudah sanggup menangani pasien yang menderita penyakit tersebut.

Direktur Cardiac Center RS Bethsaida, Serpong, Dr Dasaad Mulijono MBBS (Hons) FIHA, FIMSANZ, FRACGP, FRACP, Phd mengatakan, akibat masih kuatnya persepsi keliru yang seperti itu, triliunan rupiah devisa Indonesia lari ke luar negeri. Untuk pengobatan medis, umumnya devisa Indonesia 'terbang' ke Singapura dan Malaysia, dua negara yang saat ini industri rumah sakit modern-nya agresif menggaet pasien dari Indonesia.

"Sayangnya, banyak pemimpin di negeri kita yang memberi contoh kurang baik, melakukan general check up saja harus di luar negeri," ujar dr Dasaad saat menjadi pembicara dalam seminar setengah hari Seminar "Metode Terbaru untuk Melebarkan Pembuluh Darah Arteri Koroner yang Menyempit (PCI)" di RS Bethsaida, Gading Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (23/9/2013).

"Banyak keluarga konglomerat Indonesia yang melakukan tindakan internensi di RS di Malaysia. Padahal, RS di sana mengambil dokter terbaiknya dari Jepang. Kita di Indonesia mampu menanganinya. Rp 120 triliun uang kita yang terbang ke luar negeri karena kebiasaan masyarakat kaya kita berobat ke luar negeri," ujarnya.

Dia menjelaskan, membawa pasien yang terkena serangan jantung ke luar negeri sangat berisiko. Karena, pasien harus mendapat penanganan cepat, dan tepat dalam waktu enam jam sejak serangan tersebut datang. Lebih dari periode tersebut, otot-otot pada jantung pasien berpotensi mati, dan menyebabkan pasien meninggal dunia sebelum sempat diambil tindakan.

"Tindakan paling baik untuk pasien serangan jantung adalah tindakan intervensi. Jika dalam waktu enam sampai 10 jam tidak dilakukan intervensi, otot-otot keburu mati dan pasien tak tertolong," jelas dokter yang menyelesaikan pendidikan S1 Kedokteran di FKUI dengan predikat summa cum laude ini.

Membawa pasien serangan jantung ke luar negeri, menurut dr Dasaad, juga memakan waktu, karena perlu membawa pasien ke bandara, mengikuti proses check in dan boarding. Pasien selama dalam penerbangan juga terancam meninggal karena
bisa mengalami kekurangan oksigen.

Dia menegaskan, menangani pasien serangan jantung, pilihan terbaiknya adalah menanganinya di dalam negeri dengan membawa pasien ke rumah sakit terdekat yang memiliki peralatan lengkap dan dokter yang full time on call.

"Pasien serangan jantung butuh RS yang dokternya stand by di RS tersebut dan dokter tersebut berpengalaman. Bisa bekerja cepat dan tidak boleh grogi," bebernya.

Halaman
12
Penulis: Choirul Arifin
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help