GPPK 1957 Gelar Seminar Kesehatan Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Serviks

Tampil sebagai pembicara Ketua GPPK 1957 Hj Nurlela Azhar, Risdawati (RSIA Tambak), dr Oni Khonsa SoOG, dan dr Indah Widyasari SpKKi.

GPPK 1957 Gelar Seminar Kesehatan Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Serviks
Istimewa/Tribunnews.com
Gerakan Persatuan Perempuan Kosgoro (GPPK) 1957 mengadakan seminar kesehatan di gedung DPR RI Jakarta. Seminar diikuti oleh perwakilan perempuan Ormas Partai Golkar seperti Perempuan SOKSI, MKGR, Kowani, perwakilan perguruan tinggi yaitu dari Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Kosgoro 1957, dan lain-lain. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA  - Gerakan Persatuan Perempuan Kosgoro (GPPK) 1957 mengadakan seminar kesehatan di gedung DPR RI Jakarta.

Seminar diikuti oleh perwakilan perempuan Ormas Partai Golkar seperti Perempuan SOKSI, MKGR, Kowani, perwakilan perguruan tinggi yaitu dari Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Kosgoro 1957, dan lain-lain.

Kegiatan dibuka oleh Ketua DPR RI Setya Novanto yang juga Ketua Umum DPP Partai Golkar.

Seminar  mengambil tema “Mengenal Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Serviks dan Skin and Body Rejuvvenation – Perawatan untuk Kulit Sehat dan Awet Muda”.

Tampil sebagai pembicara Ketua GPPK 1957 Hj Nurlela Azhar, Risdawati (RSIA Tambak), dr Oni Khonsa SoOG, dan dr Indah Widyasari SpKKi.

Ketua Umum PPK Kosgoro 1957 HR Agung Laksono dalam sambutannya mengatakan ancaman dari serangan kanker serviks kian mengkhawatirkan menyusul tingginya angka kematian ibu di Indonesia yang diakibatkan tumor ganas pada leher rahim ini.

"Disayangkan, masih banyak perempuan, khususnya ibu-ibu ibu, kurang menyadari akan pentingnya pencegahan dan deteksi dini sehingga penyakit mematikan ini mudah berkembang dan menyerang kaum perempuan," ujar Agung Laksono, Kamis (18/5/2017).

Data Balibang Kemenkes 2013 menyebut penyakit kanker serviks menjadi penyebab kematian tertinggi kedua setelah kanker payudara.

"Karena itu kaum perempuan jangan meremehkan penyakit ini dan perlu rajin memeriksa ke dokter serta menerapkan gaya hidup sehat,” kata Agung Laksono.

Data Kemenkes menyebut jumlah penderita kanker serviks 3,5 juta orang dan sebanyak 50 juta perempuan bereksiko mengidap. Sedangkan kematian yang disebabkan tumor ganas ini sekitar 20 orang per hari menyerang perempuan, khususnya ibu-ibu.

“Kondisi ini sangat memprihatinkan , apalagi di Indonesia perempuan merupakan ujung tombak dalam peningkatan kesehatan,” kata Ketua DPR 2004-2009 ini.

Agung berharap GPPK 1957 menjadi pendorong kesadaran perempuan untuk lebih berhati-hati dan meningkatkan deteksi dini. Caranya, dengan melakukan sosialisasi melalui media, turun ke bawah dan aktif menyuarakan pentingnya memeriksa kesehatan , misalnya di Puskesmas, klinik, atau dokter terdekat.

“Dengan deteteksi dini kanker serviks, maka akan mengurangi reksiko pengeluaran biaya tinggi, reksiko kematian dan ancaman kurang produktivitas perempuan,” kata politisi bergelar dokter ini.

Sementara itu Ketua DPR Setya Novanto mengatakan, kegagalan Pemerintah Indonesia dalam memenuhi target Milenium Development Goals (MDGs) 2015 karena tidak mampu menekan angka kematian ibu (AKI), harus menjadi pelajaran berharga. Hal tersebut tidak boleh terulang pada Suintable Development Goals (SDGs) yang merupakan kelanjutan dari MDGs.

“Angka kematian Ibu masih tergolong tinggi, yaitu 359 / 100 ribu (359 kematian per 100 ribu kelahiran hidup). Angka ini jauh dari target yang ditetapkan MDGs pada 2015. Karena itu target SDGs pada tahun 2030 ke depan, yaitu 70/100 ribu kelahiran hidup agar bisa terpenuhi, salah satunya dengan menekan kematian ibu yang diakibatkan karena penyakit kanker, termasuk kanker serviks,” kata Novanto.

Penulis: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help