Pil KB Bikin Moody? Fakta ataukah Mitos?

Banyak mitos yang beredar mengenai penggunaan pil KB. Ada yang mengatakan pil KB bikin gemuk, mengganggu kesuburan, atau bikin Mama jadi cantik.

Pil KB Bikin Moody? Fakta ataukah Mitos?
THINKSTOCKPHOTOS
Ilustrasi. 

TRIBUNNEWS.COM - Banyak mitos yang beredar mengenai penggunaan pil KB. Ada yang mengatakan pil KB bikin gemuk, mengganggu kesuburan, atau bikin Mama jadi cantik.

Lalu, ada juga yang mengatakan pil KB bikin moody. Benarkah begitu?

Salah satu efek samping penggunaan alat kontrasepsi ini memang perubahan suasana hati (mood swing), dan beberapa perempuan mengaku mengalaminya dalam kondisi yang parah.

"Mereka mulai menangisi hal-hal remeh, mudah marah, jadi gampang tersinggung," ujar Dr Veetha Venkat, konsultan kebidanan dan direktur Harley Street Fertility Clinic, mengacu pada pengalaman pasiennya.

Mood swing ini menurutnya disebabkan kandungan estrogen dalam pil KB.

Hormon sintetis ini diberikan dalam kadar yang lebih tinggi daripada yang ada di dalam tubuh, sehingga membuat kita lebih emosional.

Namun, perempuan yang mengalami gejala pre-menstrual syndrome (PMS), seperti jerawat, kelelahan, dan lekas marah, seringkali melihat gejala-gejala ini mereda ketika mereka mulai mengonsumsi pil, karena hal itu membuat hormon mereka tidak naik turun.

Bagaimana hormon-hormon memengaruhi mood sebenarnya tidak diketahui dengan jelas, demikian menurut Profesor Saffron Whitehead, ahli endokrinologi di St George’s Hospital, South London.

"Kita tahu estrogen bertindak di sistem limbik pada otak, yang berkaitan dengan mood. Tapi para ilmuwan tidak yakin dari mana datangnya mood. Yang kita tahu, hormon itu memengaruhi otak kita," jelasnya.

Selama bertahun-tahun, para peneliti memang telah banyak meneliti apakah kontrasepsi memang menyebabkan depresi.

Pada tahun 2013, sebuah studi yang diterbitkan di American Journal of Epidemiology mendapati bahwa perempuan yang menggunakan kontrasepsi hormonal menunjukkan gejala depresi yang lebih rendah daripada mereka yang menggunakan kontrasepsi non-hormonal.

Pada tahun-tahun sebelumnya, studi berhasil membuktikan bahwa pil KB memang memicu depresi.

Tahun 2005, misalnya, Profesor Jayashri Kulkarno dari Monash University membandingkan gejala depresi di antara orang-orang yang memakai dan tidak memakai pil KB.

Ia mendapati bahwa perempuan yang mengonsumsi pil KB memiliki tingkat depresi rata-rata sebesar 17,6, sedangkan mereka yang tidak mengonsumsi pil KB tingkat depresinya 9,8. Itu artinya, pengguna pil KB cenderung lebih rentan mengalami depresi.
 

Editor: Fajar Anjungroso
Sumber: Nakita
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help