Transfer Teknologi Endoskopi Antara Jepang dan Indonesia

Meningkatnya kasus-kasus tersebut disebabkan oleh pola makan yang salah dan rokok.

Transfer Teknologi Endoskopi Antara Jepang dan Indonesia
Istimewa
Dari kiri Prof Hisao Tajiri (President Japanese Gastroenterological Endoscopy Society/JGES), Prof Seigo Kitano (President Asia Pacific Society of Digestive Endoscopy/APSDE), Dr.dr. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP (Ketua Umum PB PEGI) dan Prof Eiji Umegaki, MD dari Department of Gastroenterology, Kobe University School of Medicine. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyakit saluran cerna kini menjadi salah satu penyakit yang diderita banyak orang. Mereka umumnya menderita penyakit maag, batu kandung empedu, penyakit pankreas dan saluran empedu, penyakit saluran cerna baik atas maupun bawah, penyakit usus halus, dan lain-lain. 

Meningkatnya kasus-kasus tersebut disebabkan oleh pola makan yang salah dan rokok.

Untuk mendiagnosanya, selain melalui tanya-jawab dengan pasien dan pemeriksaan darah, dokter biasanya dibantu dengan peralatan endoskopi. 

Endoskopi merupakan salah satu peralatan kedokteran untuk memindai atau meneropong kelainan atau penyakit pada organ-organ pencernaan.

Peralatan ini dilengkapi dengan kamera mikro yang dihubungkan dengan komputer.

Masalahnya, jumlah tenaga dokter yang dapat mengerjakan endoskopi relatif masih terbatas. Di Indonesia, diperkirakan sekitar 600 dokter saja.

Baca: Dampak Saluran Pencernaan Rusak, Tessy Masih Kerap Rasakan Sakit

Namun dari jumlah tersebut, kurang dari 50 dokter spesialis penyakit dalam yang memiliki kemampuan mumpuni menggunakan peralatan tersebut yang lebih modern.

Itu pun sebagian besar terpusat di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Medan, Makasar, Manado, dan Surabaya.

Kemampuan para dokter endoskopi di Indonesia sebenarnya sudah cukup mahir dan mampu bersaing dengan dokter-dokter dari negara-negara lain.

Halaman
1234
Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help