Pentingnya Pemeriksaan Rutin Tekanan Darah di Rumah bagi Penderita Hipertensi

Obat hipertensi seharusnya tidak hanya berfungsi menurunkan tekanan, tapi juga menurunkan fluktuasi tekanan darah dan bisa dikonsumsi tiap hari

Pentingnya Pemeriksaan Rutin Tekanan Darah di Rumah bagi Penderita Hipertensi
darahtinggihipertensi.com
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Saat ini lebih dari 1,4 miliar penderita hipertensi di seluruh dunia dan di Asia, termasuk Indonesia kesadaran masyarakat terhadap penanganan penyakit ini masih sangat rendah.

Di Indonesia diperkirakan 25-30 persen menderita hipertensi dan jika mengacu Riskesdas 26,5 persen, namun data terbaru yang belum dirilis saat ini angkanya di sekitar 31 persen.

“100 orang penderita hipertensi 60 tidak tahu kalau hipertensi, jadi awarenessnya masih sangat rendah,” kata dr Yuda Taruna, SpS(K), Ketua Indonesian Society of Hypertension (INA-SH) di Jakarta, akhir pekan lalu.

Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu faktor utama yang bisa menyebabkan penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung dan stroke.

Yuda menekankan, bicara tekanan darah, harus berbicara variabilitas tekanan darah, makin besar makin besar variabilitas maka  risiko besar mati atau cacat juga makin besar.

Baca: Pantangan Makanan Untuk Penderita Hipertensi

Dokter yang berpraktek di RS Atma Jaya ini  mencontohkan  kalau seseorang tekanan darah bervariasi misalnya 110, 150 170,  120 dan rata-ratanya tetap sama misalnya 150, risiko terkena stroke sama dengan yang memiliki tekanan darah 150.

“Saya sering bertanya ke pasien berapa tekanan darah di klinik, namun berapa variasi tekanan darah di rumah karena di rumah yang mendekati tekanaan darah sebenarnya dibandingkan tekanna darah di klinik,” katanya.

 Untuk itu, ia mendorong kesadaran adalah melakukan pemeriksaan tekanan darah di rumah (PTDR) karena gejala hipertensi dapat diatasi dengan baik bila tekanan darah dapat diperiksa secara mandiri di rumah.

“PTDR diperlukan untuk mengetahui variabilitas atau variasi fluktuasi tekanan darah karena fluktuasi yang berlebihan dapat menjadi tanda peringatan terhadap risiko penyakit jantung dan stroke,” katanya.

Pemeriksaan di rumah bisa mengindentifikasi dua kondisi fluktuasi tekanan darah yakni hipertensi tersamar atau kondisi tekanan darah tinggi ketika diukur di rumah namun normal ketika diukur dokter rumah sakit.

Baca: Waspada! Stroke Sekarang Tak Hanya Menyerang Usia Tua, Usia 20-an Bisa Kena

Sementara hipertensi kerah putih adalah kondisi tekanan darah normal ketika dicek di rumah namun tinggi saat dicek di dokter atau rumah sakit.

Untuk itu obat hipertensi seharusnya tidak hanya berfungsi menurunkan tekanan, tapi juga menurunkan fluktuasi tekanan darah sehingga idealnya bisa obat dikonsumsi tiap hari.

Penulis: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help