Prof Achmad Syawqie : Tar Lebih Bahaya Dibandingkan Nikotin

Koalisi Indonesia Bebas Tar dibentuk atas inisiatif bersama menanggapi rendahnya pemahaman publik mengenai bahaya Tar

Prof Achmad Syawqie : Tar Lebih Bahaya Dibandingkan Nikotin
tribunnews.com/Bian Harnansa
STOP MEROKOK - Dua petugas penyuluh anti Rokok melakukan happening art saat peluncuran mobil kampanye stop merokok di Jakarta 

TRIBUNNEWS.COM. JAKARTA - Beberapaa sosiasi dan organisasi yang menaruh perhatian khusus terhadap bahaya Tar terhadap kesehatan publik meluncurkan Koalisi Indonesia Bebas Tar (KABAR).

KABAR dibentuk untuk mencari solusi terbaik dalam mengatasi dampak buruk Tar dengan cara mengedukasi publik mengenai bahaya TAR, salah satunya berasal dari rokok yang dikonsumsi dengan cara dibakar.

Koalisi ini beranggotakan Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Tar Free Foundation, Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan KesehatanMasyarakat Indonesia (PDK3MI), serta Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI).

KABAR dibentuk atas inisiatif bersama menanggapi rendahnya pemahaman publik mengenai bahaya Tar.

“Selama ini orang lebih banyak mendiskusikan mengenai bahaya nikotin yang menyebabkan kecanduan padahal TAR jauh lebih berbahaya karena mengandung zat-zat karsinogenik yang dihasilkan  dari pembakaran rokok,” ujar Prof Achmad Syawqie, Ketua KABAR kepada Tribunnews, Selasa (7/11/2017).

Baca: Atasi Defisit BPJS Kesehatan, Menteri Sri Mulyani Andalkan Pajak Rokok

Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjajaran Bandung ini khawatir pengetahuan yang rendah ini berakibat pada kesalah pahaman masyarakat dalam menentukan pilihannya, utamanya yang berkaitan dengan dampak dari produk tembakau.

"Apakah mereka akan tetap mengonsumsi produk tembakau yang dibakar atau mempertimbangkan beralih pada produk tembakau alternatif yang tidak menghasilkan TAR,” ujarnya.

Koalisi ini berkomitmen menjadi bagian dari solusi atas permasalahan dampak rokok bagi kesehatan dengan mengedepankan informasi berbasis penelitian ilmiah dan teknologi demi mengatasi dampak buruk tar melalui produk tembakau alternatif.

Di negara-negara maju, mereka melakukan berbagai penelitian dan pengembangan atas produk tembakau alternatif yang memiliki tingkat bahaya yang lebih rendah guna mencari solusi para perokok.

"Kami berharap KABAR bisa memberikan kontribusi dan mendorong berbagai pihaku ntuk melakukan penelitian dan kajian Ilmiah yang sama demi menurunkan risiko kesehatan masyarakat akibat tar,” jelas Syawqie.

Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help