Kesepian Bisa Picu Penyakit Demensia Alzheimer

Penyakit yang orang awam kenal sebagai pikun ini kebanyakan menyerang orang lanjut usia.

Kesepian Bisa Picu Penyakit Demensia Alzheimer
Istimewa
Demensia kebingungan karena penurunan fungsional disebabkan kelainan otak. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Demensia Alzheimer merupakan kelainan pada otak yang sebabkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir dan berkomunikasi, serta perubahan tingkah lalu seseorang.

Penyakit yang orang awam kenal sebagai pikun ini kebanyakan menyerang orang lanjut usia.

Alzheimer bisa dipicu oleh sejumlah faktor, seperti gaya hidup, kesehatan hingga psikologis. Dokter spesialis penyakit saraf, Yuda Taruna menyebutkan salah satu penyebab Alzheimer yakni loneliness atau merasa kesepian.

"Kesepian di sini bukan sekedar ditinggal sendiri, tetapi merasa tidak diperhatikan. Bisa saja seseorang berada di tengah-tengah keluarganya, tapi merasa kesepian. Kesepian jangka panjang itu juga faktor risiko demensia," kata Yuda usai peresmian ATZI Center di UNIKA Atma Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (29/9/2018).

Dokter yang berpraktik RS Pantai Indah Kapuk ini menjelaskan, penderita Alzheimer pada tahap awal mengalami gangguan kognitif terlebih dahulu.

Kemudian, penderita akan mengalami perubahan tingkah laku seperti mudah marah dan meletakkan barang sembarangan.

Baca: Sekretaris TKN Jokowi-Maruf : Skala Prioritas Tangani Gempa Bumi dan Tsunami Palu

"Awalnya lupa-lupa tapi lambat laun bisa pengaruhi kebiasaan, jadu emosional, muncul halusinasi. Pada masa tahap awal gangguan kognitif, apalagi pada orangtua, dianggap biasa, sehingga datangnya (periksa) saat pasien sudah mengalami gangguan perilaku. Padahal kalau sudah gangguan perilaku, itu terlambat sekali," paparnya.

Yuda mengatakan, belum ada obat untuk menyembuhkan Alzheimer. Obat yang tersedia, lanjutnya, hanya memperlambat proses penuaan di otak.

Ia pun menyarankan agar masyarakat tidak menyepelekan kondisi di saat seseorang mulai pikun.

"Ketika berhadapan dengan pernyakit ini, kita perlu fokus ke dua hal, deteksi dini dan hindari faktor risikonya. Bila sudah ada tanda penurunan daya ingat, segera periksa ke ahli. Selain itu, terapkan pola hidup sehat dan seringlah menstimulasi otak," saran dia.

Penulis: Ria anatasia
Editor: Fajar Anjungroso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved