Gangguan Penglihatan dan Kebutaan Berimplikasi Multidimensional

Data WHO, ada lebih dari 285 juta penduduk dunia mengalami gangguan penglihatan

Gangguan Penglihatan dan Kebutaan Berimplikasi Multidimensional
TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI GHOZALI
DETEKSI DINI GLAUKOMA. Tenaga medis dari rumah sakit mata Dr Yap melakukan pemeriksaan mata kepada salah satu warga yang mengikuti pemeriksaan dini glaukoma di Puskemas Gondokusuman I, Kota Yogyakarta, Rabu (14/3/2018). Deteksi dini glaukoma yang dilakukan secara gratis kepasa 100 orang warga tersbeut diadakan dalam rangka peringatan pekan glaukoma sedunia sebagai bentuk peringkatan pengetahuan masyarakat akan penyakit yang menjadi penyebab kebutaan permanen no satu didunia. TRIBUN JOGJA/HASAN SAKRI 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa gangguan penglihatan dan kebutaan memiliki implikasi yang multidimensional.

Dampak fisik menyebabkan menurunnya kualitas hidup (quality of live), bahkan sampai pada berkurangnya produktifitas seseorang dalam melakukan pekerjaan ataupun aktivitas harian.

Dampak sosial yang akan timbul adalah rentan terhadap masalah kesehatan, risiko jatuh, depresi dan ketergantungan pada individu lain dalam hal ini yang terdekat adalah keluarga dan

"Dampak psikologis terkait kepuasan dalam hidup maupun status emosional," kata Anung Sugiharto, Direktur Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dalam acara Pers Briefing Hari Penglihatan Sedunia Tahun 2018 "Mata Sehat Untuk Semua' Selasa (2/10/2018) di Kementian Kesehatan RI, Jakarta Selatan. .

Data WHO, ada lebih dari 285 juta penduduk dunia mengalami gangguan penglihatan dan 39 juta diantaranya mengalami kebutaan, 124 juta dengan low vision serta 153 juta mengalami gangguan penglihatan karena kelainan refraksi yang tidak terkoreksi.

Baca: Beruntung Punya Mata Besar, Bocah Ini Ternyata Alami Kondisi Membahayakan Hingga Risiko Kebutaan

Sebanyak 90 persen penyandang gangguan penglihatan dan kebutaan ini hidup di negara dengan pendapatan rendah, yang jika dibiarkan begitu saja tanpa ada tindakan apapun, maka jumlah penderita gangguan penglihatan dan kebutaan ini akan membengkak menjadi dua kali lipat pada tahun 2020.

Sementara hasil Survei Kebutaan Rapid Assessment of Avoidable Blindness atau RAAB tahun 2014 – 2016 di lima belas provinsi dengan sasaran populasi usia 50 tahun ke atas diketahui bahwa angka kebutaan mencapai 3%.

Penyebab kebutaan terbanyak adalah katarak 81%, diikuti oleh kelainan segmen posterior non RD 5,8%, kekeruhan kornea non trachoma 2,8% kelainan bola mata/SSP abnormal 2,7%, glaukoma 2,5% dan kelainan refraksi 1,7%.

Baca: SPG Matahari Mall yang Diduga Melakukan Pembuangan Bayi dari Lantai 3 Gedung, Tidak Terdeteksi Hamil

Sedangkan prevalensi gangguan penglihatan menurut Riskesdas Tahun 2013, diperkirakan 0,4% penduduk Indonesia mengalami kebutaan/gangguan penglihatan.

Sebanyak 80 persen penyandang gangguan penglihatan dan kebutaan ini dapat dicegah bahkan diobati.

Data ini mendasari fokus program penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia, pada penanggulangan katarak dan gangguan penglihatan dengan penyebab lainnya.

Dalam rangka memperingati World Sight Day (WSD) atau Hari Penglihatan Sedunia 2018, yang jatuh setiap tahun pada hari kamis minggu kedua bulan Oktober, Kementerian Kesehatan RI mencanangkan SIGALIH.

Ini adalah kepanjangan dari Sistem Penanggulangan Gangguan Penglihatan Nasional (SIGALIH), merupakan suatu sistem informasi yang berbasis web/android. 

"Aplikasi ini bukan hanya berfungsi untuk skrining saja, melainkan untuk menemukenali sejak dini persoalan-persoalan tentang mata yang bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan nanti," ungkapnya.

Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help