Ada Jembatan Udara, Warga Papua Senang Harga 5 Jenis Bahan Pokok Turun

jembatan udara merupakan realisasi Nawacita ke-7, yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Ada Jembatan Udara, Warga Papua Senang Harga 5 Jenis Bahan Pokok Turun
KOMPAS.com/BAMBANG P. JATMIKO
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sesaat akan terbang menggunakan pesawat Twin Otter yang dioperasikan Demonim Air dari Bandara Timika ke Nabire Papua, Rabu (20/12/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Permasalahan harga bahan pokok terutama di daerah tertinggal, terpencil, terluar dan perbatasan merupakan masalah yang yang belakangan muncul di Indonesia.

Untuk mengatasinya, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan kemudian menggagas program Jembatan Udara.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi pun menginisiasi program Jembatan Udara untuk daerah terluar di Timika ibu kota Kabupaten Mimika, Papua; Dekai (Ibu Kota Kabupaten Yahukimo, Papua); Wamena (Ibu Kota Kabupaten Jayawijaya, Papua); Masamba (Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan) dan Tarakan (Kota Tarakan, Kalimantan Utara).

Untuk tahun ini juga akan memperluas wilayah cakupan yaitu Korwil Tanah Merah. Wilayah Papua dipilih untuk menjalankan program tersebut lantaran di wilayah tersebut harga-harga bahan pokok cukup tinggi karena dipengaruhi oleh mahalnya transportasi untuk kegiatan distribusi.

Program itu juga merupakan perwujudan program Nawacita pemerintahan Joko Widodo. Terutama Nawacita ke-3, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Baca: Rekrutmen Pegawai Kontrak Pemerintah Akan Diumumkan Pekan Ini

Program tersebut juga merupakan realisasi Nawacita ke-7, yaitu mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Keberadaan jembatan udara diharapkan dapat menggerakkan ekonomi di daerah. Sehingga, tidak hanya membawa barang menuju daerah yang jauh tetapi juga mengangkut kembali barang yang dihasilkan daerah tersebut ke daerah lain di pelosok Indonesia.

Program jembatan udara terdiri dari angkutan udara perintis kargo yang melayani penerbangan dari kabupaten ke wilayah distrik atau cakupan dengan menggunakan pesawat yang disesuaikan dengan kapasitas maksimum yang dapat dioperasikan di bandara asal maupun tujuan dan subsidi angkutan udara khusus kargo yang melayani penerbangan dari ibukota kabupaten ke ibukota kabupaten lainnya dengan menggunakan pesawat berbadan besar sekelas Boeing 737 freighter.

Dirjen Perhubungan Udara Polana B Pramesti mengatakan program Jembatan Udara yang digagas Ditjen Perhubungan Udara ternyata berhasil menurunkan disparitas harga di daerah yang dilayani. Program ini telah memberikan dampak signifikan terhadap penurunan harga rata-rata 5 bahan pokok sebesar 57,21 persen.

Karena suksesnya program tersebut Polana berfokus pada peningkatan keselamatan dan keamanan transportasi udara, serta peningkatan kapasitas di beberapa lokasi.

Halaman
1234
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved