Depkop

Indonesia Sampaikan Empat Agenda Dalam WTSA-16

Indonesia menyampaikan empat agenda yang akan ditindaklanjuti oleh Indonesia di bidang standardisasi TIK di Pertemuan WTSA-16.

Indonesia Sampaikan Empat Agenda Dalam WTSA-16
dok. Kominfo
Indonesia menyampaikan empat agenda yang akan ditindaklanjuti oleh Indonesia di bidang standardisasi TIK di World Telecommunication Standardization Assembly (WTSA-16), pada 24 Oktober -3 November 2016 di Yasmine Hammamet, Tunisia. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia menyampaikan empat agenda yang akan ditindaklanjuti oleh Indonesia di bidang standardisasi Teknologi Informasi (TIK) di Pertemuan ITU-T World Telecommunication Standardization Assembly (WTSA-16).

Sidang yang diselenggarakan Badan Telekomunikasi PBB atau International Telecommunication Union(ITU) pada 24 Oktober sampai dengan 3 November 2016 di Yasmine Hammamet, Tunisia.

Sidang WTSA merupakan sidang ITU bidang standardisasi TIK yang diselenggarakan setiap 4 tahun untuk menyepakati program kerja ITU-T untuk periode 4 tahun kedepan (2017-2020).

Tugas WTSA16 utamanya menjamin bahwa ITU menyediakan para anggotanya perangkat kerja dalam merumuskan standar yang optimal guna membantu pemerintah dan industri mencapai tujuan mereka pada tahun 2020 dan seterusnya.

Sidang didahului dengan pertemuan Global Standards Symposium (GSS) pada 24 Oktober tersebut dihadiri oleh 97 negara anggota ITU dengan total 702 peserta, dimana 171 orang di antaranya dari kalangan akademisi, industri, dan pakar (expert).

Delegasi Republik Indonesia (Delri) diketuai oleh Nur Akbar Said, Kasi Standarisasi Perangkat dan Infrastruktur Teknologi Informasi, Direktorat Standardisasi PPI dengan anggota Delri Direktorat Standardisasi PPI: Ika Dyah Martanti, Cahya Kania Purawijaya, dan Lucia Ika Susanti; Badan Penelitian dan Pengembangan SDM: Eyla Maranany; dan pejabat Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Tunisia: George Junior.

Prinsip yang mendasari proses standardisasi adalah memberi jaminan bagi semua anggota agar semua suara dapat didengar, tidak memihak kepentingan komersial tertentu, dan standard yang dihasilkan memiliki dukungan konsensus dari anggota ITU yang terdiri dari beragam pemangku kepentingan.

Rangkaian sidang WTSA-16 terdiri dari workshops, pertemuan committee dan working group melalui Global Standards Symposium 2016 (GSS-16), ITU-T 60th Anniversary Talks on Digital Finance Services (DFS),ITU-T 60th Anniversary Talks Artificial Intelligent (AI), ITU Woman in Standardization Expert Group (WISE), Committee 1: Steering Committee, Committee 2: Control Budget, Committee 3: Working Methods of ITU-T, Committee 4: ITU-T Work Programme and Organization, dan Committee 5: Editorial Committee.

GSS-2016 mengambil tema “Security, Privacy & Trust in Standardization” yang diisi dengan diskusi tentang bagaimana ketertarikan para pemangku kepentingan dan para ahli yang mewakili unsur pemerintah, regulator, badan standardisasi, dan industri untuk dapat berkolaborasi dan bekerja sama dalam membangun kerangka kerja internasional untuk Security, Privacy & Trust.

GSS-16 dibuka dengan sambutan Menteri Teknologi Komunikasi dan Ekonomi Digital Tunisia H.E. Mohamed Anouar Maarouf, Sekretaris Jenderal ITU Houlin Zhao, dan Direktur TSB Mr. Chaesub Lee, serta dipimpin oleh Mantan Menteri ICT Tunisia Mr. Mongi Marzoug.

Sidang ditutup oleh Menteri Teknologi Komunikasi dan Ekonomi Digital Tunisia H.E. Mohamed Anouar Maarouf dan dilanjutkan dengan sambutan penutup oleh Direktur TSB Mr. Chaesub Lee, Direktur Radiocommunication Bureau (BR) Mr. Fran ois Rancy mewakili Sekretaris Jenderal ITU, dan ChairmanWTSA-16 Mr. Moktar Mnakri.

Delegasi Republik Indonesia menyampaikan bahwa setidaknya ada empat hal yang perlu ditindaklanjuti oleh Indonesia.

Pertama, perlunya kementerian dan lembaga terkait merumuskan peta jalan (roadmap) pengembangan regulasi dan standardisasi TIK kedepan, dengan mempertimbangkan hasil sidang WTSA tersebut.

Kedua, ITU-T sangat mengharapkan partisipasi aktif para pakar negara berkembang sebagai global expert,termasuk dari Indonesia, untuk memberikan kontribusi atau masukan dalam kegiatan perumusan standar TIK dalam berbagai pertemuan Expert Group dan Study Group ITU-T.

Ketiga, perlunya peran kelembagaan untuk pembahasan kontribusi atau masukan Indonesia sebelum disampaikan ke pertemuan Expert Group dan Study Group ITU-T.

Dan terakhir, perlunya upaya-upaya mengantisipasi tren teknologi TIK 2020 dimana aspek security (keamanan), privacy (privasi), dan trust(kepercayaan) pada infrastruktur TIK menjadi sangat penting, demikian juga dengan teknologi 5G, Internet of Thing (IoT) beserta aplikasinya termasuk Smart Cities yang akan berkembang pesat pada masa mendatang.

Hasil sidang selengkapnya dapat dilihat pada http://www.itu.int/en/ITU-T/wtsa16/Pages/default.aspx.

Editor: Advertorial
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved