Depkop

Segudang Alasan Pemilih Muda harus Ikut Pemilu Serentak 2019

Tak lama lagi Pemilu akan digelar secara serentak di seluruh Indonesia untuk memilih anggota legislatif (DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, D

Segudang Alasan Pemilih Muda harus Ikut Pemilu Serentak 2019
Isitmewa

TRIBUNNEWS.COM – Tak lama lagi Pemilu akan digelar secara serentak di seluruh Indonesia untuk memilih anggota legislatif (DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, DPD RI) dan Presiden/Wakil Presiden.  Saat ini kita pun sudah memasuki tahapan masa kampanye Pemilu, yang akan berlangsung hingga tanggal 13 April 2019.

Momen ini merupakan momen yang penting bagi mereka yang baru saja berusia 17 tahun dan mendapat e-KTP karena akhirnya bisa menggunakan hak pilihnya sebagai warga negara yang sah di Pemilu Serentak 2019 nanti.

Mereka yang baru mendapat e-KTP ini masuk dalam kategori Pemilih Pemula dan merupakan salah satu segmen yang jadi fokus Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam melakukan sosialisasi.

Para pemilih muda ini jumlahnya cukup banyak, apalagi jika ditambah dengan mereka yang baru pertama kali menggunakan hak pilihnya. Jumlah mereka bisa mencapai 30-40% pemilih di Pemilu Serentak nanti.

Fakta ini membuat pemilih muda memegang peran besar yang bisa menentukan hasil Pemilu Serentak nanti dan memastikan masa depan negara lima tahun ke depan.

Sayangnya, generasi ini kebanyakan masih menyimpan keresahan terutama karena mereka baru pertama kali mengemban tanggung jawab untuk menggunakan hak pilihnya dengan baik dan benar.

Seperti contohnya Suci (21), mahasiswa salah satu kampus di daerah Jakarta Barat ini menyimpan keresahan soal siapa kandidat yang akan dia pilih pada Pemilu Serentak 2019 nanti.

“Keraguan sih sebenarnya sih nggak ada, keresahan yang ada. Soalnya di tahun politik ini kan propaganda dimana-mana, jadi lebih baik kalau lebih transparan aja,” ungkapnya.

Lebih lanjut Suci juga mengatakan kalau keresahannya ini berpengaruh pada siapa yang akan di pilih.

“Mempengaruhi sih rasa keresahan ini, soalnya hate speech dimana-mana. Ada berita positif ada juga yang negatif. Jadi tambah bingung mau milih yang mana,” tambahnya.

Meski mengaku resah, namun Suci tetap ingin “nyoblos” di Pemilu Serentak nanti. Salah satu alasannya adalah karena ini adalah kali pertama dia menggunakan hak pilihnya.

Pemilih muda memang diharapkan tidak golput. Selain karena jumlahnya yang sangat signifikan, tapi dengan memanfaatkan hak suaranya, mereka bisa menentukan ke mana arah negara kita ke depannya.

Sebagai kelompok milenial, mereka masih memiliki idealisme yang tinggi dan bisa menyuarakan bagaimana berpolitik yang bersih, tanpa money politic, tanpa hoax dan tanpa ujaran kebencian.

Masa depan bangsa ini ada di pundak para generasi muda, termasuk milenial, karena mereka lah masa depan bangsa ini. Jadi mereka juga diharapkan tidak apatis terhadap politik dan pemerintahan di Indonesia yang berujung para golput di Pemillu nanti.

Seperti yang diungkapkan Anggota Dewan Penasihat Asosiasi Duta Wisata Indonesia, Adi Pratama (28), “Sebenarnya itu (apatisme terhadap politik Indonesia) gambaran dari ketidakpercayaan seseorang terhadap sistem yang berjalan di negara ini. Menurut aku pribadi, itu juga andil dari kekurangpahaman anak muda, karena sesungguhnya sekecil apapun perbedaan antar calon-calon yang ada, akan memiliki dampak yang besar dengan berjalannya negara ini. Ujung-ujungnya mempengaruhi kehidupan kita juga.”

Adi juga menjelaskan kalau partisipasinya dalam Pemilu Serentak 2019 juga merupakan bentuk kontribusinya pada negara.

“Dengan memakai akal pikiranku untuk memilih yang terbaik dari yang ada, biarpun kata orang nggak ada yang baik, aku akan coba cari mana mana yang paling nggak 1% lebih baik dari yang lain,” jelasnya.

Adi juga menjelaskan bagaimana cara ia mencari yang terbaik dari pada calon, yaitu dengan rajin melihat rekam jejak. “Biarpun susah cari yang sempurna, paling tidak lihat apa yang udah pernah dia buat di masa sebelumnya,” tambahnya.

Hal yang sama juga dilakukan Suci, “Paling mantengin sosmed-nya media online, dapat berita capres/cawapres dan calon wakil dari situ (media online),” tambah Suci.

Dengan mencari tau rekam jejak seperti yang dilakukan Adi dan Suci ini, para pemilih pemula ini bisa menjadi pemilih cerdas yang kemudian bisa menjadi agen perubahan.

Generasi milenial kadang masih ada saja yang bertanya, ‘Buat apa sih ikutan Pemilu? Toh nggak akan ada dampaknya ke saya?’

Pernyataan ini salah besar! Justru pada Pemilu Serentak 2019 ini, kamu diberikan kesempatan untuk menentukan arah masa depan bangsa ini. Melalui suara yang kamu berikan, kamu bisa mengisi gedung parlemen dengan kandidat dan orang-orang yang berkualitas, yang cerdas, yang ‘bersih’ dari kasus hukum, yang bisa membuat regulasi dan Undang-Undang yang memihak kaum marginal atau kaum yang terpinggirkan.

Melalui suara yang kamu berikan, kamu bisa memilih Presiden dan Wakil Presiden yang memiliki visi misi membawa Indonesia menjadi Negara yang disegani di dunia.

Mindset tidak mau ikut Pemilu itu harus diubah! Karena yang akan menghadapi masa depan Indonesia ya kalian semua pemuda pemudi Indonesia alias generasi milenial.

Sekarang saatnya! Generasi milenial ikut berkontribusi, dengan memberikan suara pada Pemilu Serentak 2019 dan aktif melakukan pengawasan.

Selain itu, KPU juga melakukan beberapa upaya lain untuk mencerdaskan pemilih, terutama pemilih muda.

Salah satunya adalah dengan memviralkan tagline dan hashtag, diantaranya “Suarakan Suaramu” untuk mengajak pemilih untuk datang dan berpartisipasi memberikan suara dalam pemilu.

Kemudian ada #GMHP (Gerakan melindungi Hak Pilih), “Kawal Suaramu”, “Kampanye Santun”, #AntiHoaks, #AntiSara, #AntiPolitikUang untuk mengajak masyarakat ikut mengawal proses kampanye yang dilakukan peserta pemilu, agar konten kampanye mereka lebih mencerdaskan dan juga mempersatukan bangsa.

Kemudian KPU juga memviralkan hashtag #PemilihBerdaulatNegaraKuat yang merepresentasikan peran pemilih yang besar dalam mewujudkan Negara yang kuat.

“Kedaulatan pemilih menjadi poin utama dalam mewujudkan tata pemerintahan yang baik. Pemilih yang cerdas akan memilih pemimpin-pemimpin yang berkualitas juga dan sinergi antara pemimpin dan pemilih yang berkualitas tersebut akan berkontribusi postif baik kehidupan bernegara yang baik, adil dan sejahtera,” ungkap Komisioner KPU RI, Wahyu Setiawan.

Setelah memberikan suaranya, KPU juga mengajak pemilih untuk “Kawal Suaramu” yaitu ajakan kepada pemilih untuk mengawal proses rekapitulasi penghitungan suara. Proses pengawalan tersebut juga dapat dilihat melalui aplikasi SITUNG.

Para pemilih juga diharapkan selalu waspada dengan bahaya hoax atau berita bohong. Jangan mudah terprovokasi apalagi ikut menyebarluaskan berita hoax. Jika ikut, maka penyebar informasi bisa dikenakan sanksi.

Teliti dulu sumber informasi yang didapatkan. Informasi yang valid adalah informasi yang datang dari sumber-sumber yang memiliki integritas tinggi.

Perhatikan juga kalau informasi yang diberikan datang dari orang atau pihak yang bisa dipercaya dan memiliki kredibilitas yang baik.

“Menelaah isi dan sumber informasi, informasi seputar pemilu yang valid hampir dipastikan tidak memuat hal-hal yang provokatif,” jelas Wahyu.

Pemilih pemula tidak cukup hanya hadir memberikan suaranya pada Pemilu Serentak 2019 yang akan diselenggarakan pada hari Rabu tanggal 17 April 2019, tetapi juga ikut aktif melakukan pengawasan penyelenggaraan Pemilu. Pemilih pemula memiliki peran besar sebagai pengawas partisipatif  yang memastikan suaranya tidak dimanipulasi.

“Ini juga pemilih pemula punya peran besar untuk juga dalam konteks kami, sebagai pengawas partisipatif artinya setelah pemilih ini menggunakan hak pilihnya maka dia harus memastikan mengawal suaranya tidak dimanipulasi.  Jadi tidak sebatas menggunakan hak pilih doang pas tanggal 17 April 2019 ke Tempat Pemungutan Suara, tapi juga bisa mengawasi dan memastikan bahwa suara yang dia berikan itu aman, dikonversi menjadi suara/kursi. Jangan sampai termanipulasi oleh ketidakadilan oleh penyelenggara, maupun oleh pihak2 yang lain yang mau mencurangi”.

“Itu lah tugas masyarakat, yaitu berpartisipasi dalam pemilu dengan hadir di TPS tanggal 17 April dan juga berpartisipasi dalam hal pengawasan pelaksanaan Pemilu”, kata Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Abhan.

#IkutPemilu2019

Editor: Advertorial
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved