Sabtu, 30 Mei 2015
Tribunnews.com

Kepada Siapa Boleh Bercerita Tentang Seks

Kamis, 25 Maret 2010 22:48 WIB

Kalau Anda mendengar percakapan yang agak "nyerempet" seperti di atas, dan Anda bukan penggemar omongan seks pasti akan tertegun dan mengernyitkan dahi sembari membatin "Aduh, rahasia ranjang kayak gitu kok diobral sih? Apa enggak ada cerita lain?"

Jangan buru-buru apriori dulu. Pada dasarnya, seks adalah naluri primitif dan alamiah yang dipunyai setiap manusia. Sebagai bagian dari naluri, seks terkadang keluar dalam bentuk verbal, yang berupa obrolan itu tadi.


"Membicarakan seks, sama artinya menuntaskah hasrat dan fantasi soal seks yang terpendam," kata Jennifer L. Hillman dalam bukunya Clinical Perspectives on Elderly Sexuality. Issues in the Practice of Psychology (Springer Inc. 2006).
Senada dengan Hillman, Dr. Ferryal Loetan, ASC&T, Sp.RM, MKes., (MMR), seksolog dari RSUP Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur, mengatakan manusia pada dasarnya makhluk seksual. Jadi segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas seksual pasti akan menarik untuk dibahas atau dijadikan topik, apalagi kalau ditambah dengan bumbu-bumbunya.

Bila ada yang enggan membicarakannya di depan publik lantaran norma sosiallah yang membatasinya. Berdasarkan kesepakatan-kesepakatan bersama yang sering kali tidak tertulis, ditentukanlah apa saja yang dianggap etis atau tidak. Contoh, dalam kesepakatan norma tersebut muncul bahwa soal seks masih dianggap wilayah pribadi yang tidak boleh diumbar di depan umum, baik secara verbal ataupun kata-kata, apalagi dengan perbuatan.

Mengenai orang yang senang ngobrolin seks di muka umum harus dilihat dulu konteksnya. "Kalau seorang ahli yang berkompeten berbicara di muka audience yang sedang belajar ya wajar saja. Begitu pun jika seseorang bicara di depan teman-teman dekat dan pembicaraannya bisa diterima bersama. Tapi kalau bicara di depan orang yang tidak dikenal, dan dia hanya menikmati sendiri, itu namanya tidak wajar," jelasnya.

Meskipun yang dilontarkan hanya bersifat candaan, Ferryal mengingatkan agar jangan sembarangan berbicara. "Lihat dulu siapa pendengarnya, akrab atau tidak. Kalau antarteman akrab yang memang sudah terbuka dan tak keberatan mendengarkan, mungkin boleh saja. Tapi kalau tidak, ya tentu kurang pas."

Selain terkait faktor kedekatan dengan audiensi, keinginan untuk mengumbar obrolan tentang seks sebetulnya tak lepas dari kepribadian seseorang. "Orang-orang dengan kepribadian ekstrover akan lebih mudah mengatakan dan mendengarnya," ujar Ferryal. Orang-orang seperti ini lebih terbuka dan spontan. Argumentasi mereka, "Lo memang kenapa kalau saya mengobrol soal seks? Toh saya tidak mengganggu orang lain? Lagian kan cuma ngobrolin doang."

Halaman1234
Editor: Iswidodo
Sumber:
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas