Hmmm...Nikmatnya Bubur Asyura

Setiap 10 Muharam warga Kalsel memiliki menu khusus. Bubur Asyura namanya. Rasanya sungguh nikmat.

Hmmm...Nikmatnya Bubur Asyura
Banjarmasin Post Group/Siti Hamsiah
Warga Banjarmasin Kalsel memasak bubur Asyura pada 10 Muharam.
Laporan Wartawan Banjarmasipost.co.id, Siti Hamsiah

TRIBUNNEWS.COM, BANJARMASIN - Beberapa orang bapak asyik mengaduk beras di dandang di atas kompor menyala di beranda rumah Hj Wati Jalan Keramat, Banjarmasin. Sambil ngobrol, tangan mereka tak henti bekerja. Sementara ibu-ibu, asyik memotong sayur-sayuran dan umbi-umbian, dan sebagiannya mengulek bumbu.
    
Ketika beras sudah menjadi bubur, dimulai dengan ucapan basmalah satu persatu satu jenis sayur dan umbi, kacang-kacangan, hingga daging dimasukkan ke dalam dandang. Tidak lupa santan, serta bumbu yang telah dihaluskan.    
    
Ehm, aroma bubur berpadu aneka bumbu menebar membangkitkan selera. Nikmat!
    
Setelah bubur siap, usai salat Ashar berbondong-bondong warga tua muda, lelaki perempuan, dengan masing-masing membawa rantang atau tempat makan menuju rumah Hj Wati, tempat bubur dibuat bergotong royong. Mereka pun kebagian bubur yang hanya bisa ditemui dan dinikmati pas Hari Asyura.
    
Kamis (16/12/2010) kemarin bertepatan 10 Muharram 1432 Hijriah adalah hari Asyura. Warga sekitar Jalan Keramat rutin setiap tahun memperingatinya dengan membuat bubur Asyura.
    
"Setiap hari Asyura, kita memang biasa membuat bubur Asyura, bubur dengan campuran 41 macam. Kemudian dibagikan ke masyarakat sekitar untuk dinikmati," kata tokoh masyarakat Jalan Keramat, H Abdullah Masri.
    
Hal tersebut, lanjut lelaki yang juga Ketua Badan Pengelola Masjid Misbahul Mukminin, sudah dilakukan sejak orang-orang tua dahulu.     
    
"Kami tinggal melanjutkan tradisi yang didasari nilai-nilai keagamaan, apalagi itu juga positif karena buburnya sekalian untuk berbuka puasa Asyura," imbuh Hj Wati.
    
Tradisi ini masih lestari di Kalimantan Selatan (Kalsel). Hampir semua umat muslim di daerah ini memasak menu spesial ini.
    
Budayawan Banjar H Syamsiar Seman mengatakan, bubur Asyura biasa dibuat urang Banjar per RT atau kampung. Dulu campurannya benar-benar 41 macam, sampai lumut, batu, menjadi pelengkap.
    
Kemudian bubur dimakan di langgar atau musala, dengan sebelumnya dibacakan doa selamat.
    
"Terlepas dari nuansa keagamaan yang melatarbelakangi, proses membuatnya menunjukkan semangat kebersamaan dan gotong royong di antara warga Banjar," tandasnya.

 

Editor: Anita K Wardhani
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved