Kisah Pelayan Sejati Masjid Nabawi dari Indonesia di Madinah

Meski bekerja seperti cleaning service lainnya, pekerjaan sebagai hadimul hammam di Masjid Suci Nabawi, Madinah bukanlah pekerjaan biasa.

Kisah Pelayan Sejati Masjid Nabawi dari Indonesia di Madinah
Istimewa
Masjid Nabawi di Kota Madinah, Arab Saudi

TRIBUNNEWS.COM, MADINAH - Endang Sanusi (32), bukanlah  tenaga kerja Indonesia (TKI) seperti kebanyakan di Arab Saudi. Pria asal Ciomas, Purwakarta, Jawa Barat ini adalah hadimul hammam (pelayan/pengabdi), di komplek masjid Nabawi di Madinah Al Munawwara. Sebuah pekerjaan yang mulia di tempat yang menjadi tujuan miliaran umat muslim di dunia beribadah.

Raja Arab juga diberi gelar Hadimul Haramain, atau pelayan dua kota haram, Mekkah dan Madina.

"Ya, begini-ini merekalah para hadimul haramain sejati, mereka yang melayani dua kota suci," kata Arif Arfah LC, pembimbing Ibadah Global Haramain, yang sudah 16 kali berhaji dan 36 kali berumrah.

Tugas Endang memang seperti cleaning service kebanyakan. Tapi, yang dia bersihkan adalah masjid yang disucikan hampir setengah miliar muslim dunia setelah Masjidil Haram di Mekah.

"Saya dikontrak 2 tahun sama Saudi Bin Ladin, tapi baru 4 bulan, disini," katanya kepada Tribun saat ditemui di Daural Miyah wal Wudhu No 21 di Sektor Selatan, Masjid Nabawi, Rabu (23/3/2011).

Sanusi mengaku ada sekitar 500 TKI yang jadi hadim di tiga masjid suci di Madina; Masjid Nabawi, Masjid Kuba, dan Masjid Kiblatain. Mereka, bersama sekitar 1.000 pekerja di Madina, disediakan pemukiman khusus di Birr Ali, sekitar 3 km sebelah utara Madina. Sedang 1.000 pekerja lainnya mayoritas berasal dari Bangladesh, India, Afghanistan, dan Pakistan.

"Sedikit-sedikit saya sudah bisa bahasa Urdu, dan mulai lancar bahasa Arab," kata Baidhawi, hadim lainnya menjelaskan pergaulannya dengan para pekerja dari negeri muslim di semenanjung anak Benua Asia itu.

Pekerja dari empat negara itu, memang mayoritas dan sudah hampir empat dekade jadi pekerja di Masjidil Haram. TKI asal Indonesia, baru bekerja dua dekade terakhir. Di sana ada mess khusus. Kamar mereka disesuaikan dengan pangkat dan jenis pekerjaan di Madina.

"Gaji memang sama. Tapi kami berkeja sesuai warna baju," tambah Endang.

Jika Anda pernah menunaikan rukun utama ibadah haji dan umrah di Masjid Nabawi (Arbain, salat jamaah 40 waktu), maka anda akan melihat jenjang kepangakatan para hadim itu.

Halaman
12
Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help