Rabu, 26 November 2014
Tribunnews.com

Kisah Pelayan Sejati Masjid Nabawi dari Indonesia di Madinah

Jumat, 25 Maret 2011 02:46 WIB

Kisah Pelayan Sejati Masjid Nabawi dari Indonesia di Madinah
Istimewa
Masjid Nabawi di Kota Madinah, Arab Saudi
Laporan Wartawan Tribun Timur, Keysha Nizalitha

TRIBUNNEWS.COM, MADINAH
- Endang Sanusi (32), bukanlah  tenaga kerja Indonesia (TKI) seperti kebanyakan di Arab Saudi. Pria asal Ciomas, Purwakarta, Jawa Barat ini adalah hadimul hammam (pelayan/pengabdi), di komplek masjid Nabawi di Madinah Al Munawwara. Sebuah pekerjaan yang mulia di tempat yang menjadi tujuan miliaran umat muslim di dunia beribadah.

Raja Arab juga diberi gelar Hadimul Haramain, atau pelayan dua kota haram, Mekkah dan Madina.

"Ya, begini-ini merekalah para hadimul haramain sejati, mereka yang melayani dua kota suci," kata Arif Arfah LC, pembimbing Ibadah Global Haramain, yang sudah 16 kali berhaji dan 36 kali berumrah.

Tugas Endang memang seperti cleaning service kebanyakan. Tapi, yang dia bersihkan adalah masjid yang disucikan hampir setengah miliar muslim dunia setelah Masjidil Haram di Mekah.

"Saya dikontrak 2 tahun sama Saudi Bin Ladin, tapi baru 4 bulan, disini," katanya kepada Tribun saat ditemui di Daural Miyah wal Wudhu No 21 di Sektor Selatan, Masjid Nabawi, Rabu (23/3/2011).

Sanusi mengaku ada sekitar 500 TKI yang jadi hadim di tiga masjid suci di Madina; Masjid Nabawi, Masjid Kuba, dan Masjid Kiblatain. Mereka, bersama sekitar 1.000 pekerja di Madina, disediakan pemukiman khusus di Birr Ali, sekitar 3 km sebelah utara Madina. Sedang 1.000 pekerja lainnya mayoritas berasal dari Bangladesh, India, Afghanistan, dan Pakistan.

"Sedikit-sedikit saya sudah bisa bahasa Urdu, dan mulai lancar bahasa Arab," kata Baidhawi, hadim lainnya menjelaskan pergaulannya dengan para pekerja dari negeri muslim di semenanjung anak Benua Asia itu.

Pekerja dari empat negara itu, memang mayoritas dan sudah hampir empat dekade jadi pekerja di Masjidil Haram. TKI asal Indonesia, baru bekerja dua dekade terakhir. Di sana ada mess khusus. Kamar mereka disesuaikan dengan pangkat dan jenis pekerjaan di Madina.

"Gaji memang sama. Tapi kami berkeja sesuai warna baju," tambah Endang.

Jika Anda pernah menunaikan rukun utama ibadah haji dan umrah di Masjid Nabawi (Arbain, salat jamaah 40 waktu), maka anda akan melihat jenjang kepangakatan para hadim itu.

Warna merah muda, yang dipakai Sanusi akan mudah ditemukan di hammam atau toilet dan tempat wudhu. Pakaian warna hijau adalah mereka yang sering ditemukan membersihkan lantai di sekitar galon misaaki zam-zam. Warna coklat adalah pembersih pelataran masjid dan lantai.

Mereka yang berbaju abu-abu disebut musahhif. Tugasnya hanya menata mushaf Alquran yang jumlahnya setara dengan daya tampung masjid Nabawi, 500 ribu mushaf.

"Kalau yang warna coklat muda itu murakkib, pengawas. Dia mandor, semua mandor harus bisa bahasa Urdu, dan bahasa Arab," katanya.

Jenjang karier dan warna baju ini juga berlaku untuk hadimaat, atau pelayan masjid di area shalat wanita. Sekadar diketahui, Masjid Nabawi amat ketat menerapkan pemisahan jamaah laki-laki dan perempuan.

Sedangkan yang bertugas di di pintu-pintu masuk (bab) dijaga Taptiis (polisi) adalah pemangku jengang kedua tertinggi setelah majelis pengelola masjid, langsung dibawa taktis wisaratul hajj wal umrah (kementerian haji dan umrah) serta menteri urusan dalam negeri Kerajaan Arab Saudi.

Gaji memang terbatas, tapi para haji memberi mereka gaji dan rezeki yang tak terkira.

"Kalu yang paling rajin nyabil (sabililullah) itu jamaah Turki, Irak, dan Yaman, Kalao Orang Arab, nyabilnya tanggal muda dan besar di bulan Ramadan," kata Endang

Nyabil adalah istilah pemberian sadaqah atau tips bagi para pekerja di Masjid Nabawi dari para jamaah. Sekadar diketahui, tak seperti masid-masjid di Indonesia yang menerima bahkan mencari sumbangan pembangunan masjid, masjidil haram dan Masjid Nabawi justru menolak sumbangan dari pihak ketiga.

Tapi tertutupnya peluang itu, justru menjadi peluang  terbuka bagi para hadimiin, atau pelayan di masjid-masjid suci di dua tanah haram itu.

"Rezeki kami dari para jamaah yang mau membantu, kami dapat tips banyak kalau bulan Ramadan," katanya.

Hadimiin asal Indonesia terkesan enggan bahkan terlihat malu-malu menjawab berapa sedaqah yang dia peroleh dari nyabil.
Editor: Hasiolan Eko P Gultom

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas