• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Tribunnews.com

Koleksi Uang Kuno Bawa Berkah Besar Bagi Bocah-bocah Ini

Senin, 10 September 2012 21:30 WIB
Koleksi Uang Kuno Bawa Berkah Besar Bagi Bocah-bocah Ini
TRIBUNNEWS/ YOGI GUSTAMAN
Indra A Boenawan dan Gustama Amanusa, dua bocah kolektor uang kuno.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yogi Gustaman

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
Usianya masih 13 tahun. Tapi siapa sangka, Gustama Amanusa memiliki hobi yang mungkin jauh dari pikiran anak-anak seusianya kebanyakan, yakni mengoleksi uang kuno.

Kendati begitu, siswa Kelas 1 SMP Kristen Kalam Kudus Surakarta ini sangat jatuh hati dengan uang kuno. Baginya, uang kuno menyimpan sejarah sebuah bangsa, termasuk Indonesia.

Kesukaannya terhadap uang kuno berawal ketika ia duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu, sang ibu Lili Maherani memberi uang peninggalan neneknya, uang kertas pecahan Rp 5 ribu tahun 1986. Uang yang bergambar seseorang sedang mengasah intan, masih disimpan Gustaman hingga kini. Ia mengaku sampai kapan pun, uang ini tak akan ia lepas untuk dijual.

Di sela-sela ajang Kidpreneur Award 2012 yang digagas Berani Magz dengan menggandeng Permata Bank sebagai sponsor utama, kepada Tribun di Jakarta, Jumat (7/9/2012) malam, Gustama bercerita prospek bisnis mengoleksi uang kuno cukup menjanjikan. Ia benar-benar tertarik dengan uang kuno sejak Agustus 2011. Semua hal yang berbau uang kuno, ia cari tahu dari dunia maya.

 "Idenya bermula waktu TK, saya melihat perangko. Kok bagus ya untuk koleksi. Dari TK sampai kelas lima SD saya mengoleksi perangko. Tapi, saya menilai perangko bukan koleksi yang bisa diperhitungkan karena enggak ada pengaman yang jelas. Beda dengan uang yang ada watermark. Memang beberapa uang ada yang belum memakai teknologi watermark," katanya memberi alasan.

Setelah dipikir masak-masak, bungsu dari dua bersaudara ini memantapkan hati menekuni hobi mengoleksi uang kuno. Mulailah ia mencari tahu soal uang kuno lewat internet. Dari sebuah tulisan soal uang kuno, mengantarnya ke pasar maya yang menjual uang kuno dengan harga murah. Impiannya menambah uang kuno kesampaian setelah ia mendapatkannya lewat cara lelang.

Ia masih ingat uang kuno hasil lelang pertama yang didapatnya adalah uang pecahan Rp 100 tahun 1992 sebanyak 100 lembar. Uang itu bergambar perahu finisi. Harga selembar uang yang ia harus tebus Rp 500. Harga ini tiga kali lebih murah dari harga pasaran konsumen di pasar barang antik. Kala itu, uang pecahan Rp 100 tahun 1992 dibanderol Rp 2.000 per lembar.

Modal Juara Matematika

Mengoleksi uang kuno, selain membutuhkan kecintaan, ketekunan juga modal. Hal yang terakhir bukan masalah bagi Gustama. Karena modal untuk mengoleksi uang kuno, ia dapat dari hasil juara Olimpiade Matematika. Sejak SD, Gustama selalu mewakili sekolahnya di ajang Olimpiade Matematika. Uang hasil juara matematika yang dikumpulkan sampai Rp 2 juta lalu ia investasikan untuk hobinya.

Bagi Gustama, matematika dan uang kuno tak bisa dipisahkan dalam hidupnya. Tiap kali ia mengikuti ajang Olimpiade Matematika di beberapa kota. Beberapa kota yang pernah jadi target perburuan uang kuno Gustama kala mengikuti lomba matematika adalah Surabaya (toko Mirota), Jogjakarta (Pasar Bringharjo dan Pasar Wirobrajan), Solo (Pasar Ngarsopuran), Jakarta (Pasar Baru).

Pencarian uang kuno di Toko Mirota, Surabaya, mengantarkan Gustama dengan komunitas kolektor uang kuno. Kala itu, ia mendapati seorang pria Surabaya yang sedang mencari perangko untuk koleksinya. Terjadi obrolan di antara Gustama dan orang ini yang usianya hampir kepala tiga. Si pria kaget setelah mengetahui Gustama memiliki hobi mengoleksi uang kuno.

"Orang itu kagum dan sok mengetahui saya mengoleksi uang kuno. Dia bilang ke saya, 'Kok kamu kecil amat. Masih kecil sudah suka uang kuno hebat sekali. Oke saya akan kenalkan kamu dengan kolektor uang kuno lainnya.' Enggak lama, dia menelpon teman-temannya sesama kolektor. Saya diselamati. Sungguh saya merasa sangat terhormat dihargai di komunitas itu," kenangnya.

Lewat komunitas, hobi Gustama semakin tersalurkan. Di samping terus mencari koleks baru dari dunia maya, ia memanfaatkan jejaring komunitasnya untuk bertukar atau membeli uang kuno yang diburunya. Menurutnya, berburu uang kuno di sesama komunitas lebih murah harganya, ketimbang memburu langsung di pasaran. Di kotanya, Solo yang terbilang kota budaya, harga uang kuno selangit.

Suka Sejarah

Menjadi kolektor uang kuno bukan melulu persoalan cinta dan suka. Tapi seorang kolektor uang kuno harus mengerti sejarah uang itu sendiri. Sebagai pendatang baru, Gustama tahu diri. Ia membekali pengetahuannya soal uang kuno dengan banyak membaca buku sejarah soal uang kuno. Buku yang menjadi sumber pengetahuannya adalah buku terbitan Asosiasi Numismatik Indonesia (ANI).

Sekitar 2005 sampai 2008 setiap beberapa bulan sekali ANI, cerita Gustama, menerbitkan buku yang isinya pengetahuan soal uang kuno. Mulai dari sejarah, perebutan Belanda di Indonesia, masuknya uang Indonesia yang menggantikan uang Jepang dan Belanda, pemindahan kekuasaan tangan dari Belanda ke Jepang, sampai perebutan kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah.

Sekian lama menjalani hobi mengoleksi uang kuno, Gustama sudah tidak hapal lagi berapa kali menang lelang dan melakukan barter dengan sesama kolektor. Tapi ada pengalaman yang ia tak bisa lupakan ketika ia melakukan barter dengan orang Belanda. "Beberapa uang Indonesia milik saya dibarter dengan uang Belanda yang waktu itu berlaku di Indonesia. Barter yang saya terima selembar lima Gulden seri 1 Federal tahun 1946," ceritanya.

Dari semua koleksi uang kuno Gustama yang paling bagus nilainya adalah uang terbitan Bank Indonesia tahun 1975. "Kondisinya memang bagus, gress, dan itu pecahan terbesar di kelasnya. Saya membelinya seharga Rp 800 ribu. Rencananya saya akan jual di angka Rp 1.5 juta. Uang ini nilai investasinya paling besar. Karena nilai kenaikannya per tahun sangat bagus, melebihi bunga bank," jelasnya.

Ia mengaku sangat menikmati hobinya mengoleksi uang kuno. Hati semakin melambung ketika hobinya yang membutuhkan keseriusan, kehati-hatian, dan ketelitian, dihargai orang lain yang mau membeli atau membarter uang kuno koleksinya. Gustama memberi tips, nilai uang kuno akan jatuh ketika terlipat. Ia bersyukur selama ini belum ada uang kuno yang nilainya tinggi terlipat dengan sengaja.

Namun, ia pernah melipat uang kunonya dengan sengaja untuk kertas origami. Kebetulan, uang kuno yang ia pakai untu keterampilan itu nilainya murah. Saking hati-hatinya menjaga uang kunonya, Gustama memiliki brankas khusus yang ia simpan di tempat yang aman. Tak seorang pun tahu kunci untuk membukanya termasuk orangtuanya.

Saking sayangnya Gustama dengan hobinya ini, keuntungan dari penjualan uang kuno tak pernah dia jajankan. Keuntungan dari uang kuno selalu ia kembalikan untuk investasi uang kuno. Kalau pun ia membutuhkan uang dari keuntungan menjual uang kuno, hanya sebatas dipinjam, dan akan dikembalikan jika mendapat uang pengganti.

Bisnisnya mengoleksi uang kuno, dan menjualnya kembali, menurut Gustama bukan perkara mudah. Pasalnya, menjual uang kuno tidak seperti menjual makanan ringan atau kacang goreng. Ia mengaku lebih menggunakan pasar dunia maya Toko Bagus yang terpercaya untuk menjual uang kunonya.

"Untuk meyakinkan pembeli di Toko Bagus ada sistem verified member. Kalau ada surat kode verifikasi, maka alamat penjual dipastikan ada dan valid. Dengan verified member pembeli percaya. Di toko bagus saya tidak memasang foto saya. Karena orang dewasa akan tidak mempercaya anak kecil. Yang benar-benar tahu saya anak kecil cuma beberapa orang saja," katanya.

Ia baru akan melepas uang kunonya jika pembeli sudah mentransfer uang sampai masuk ke rekeningnya. Jika tidak, uang kuno miliknya tak jadi pindah tangan. Gustama memberi catatan, kepercayaan menjadi landasannya untuk bisnis uang kuno. Ia menjamin, semua uang kuno yang ia jual asli, gress, terawat. Selama ini berbisnis, ia mengaku tak pernah kena tipu pembelinya. Tapi ada yang berusaha menipunya.

Ada perbedaan karakter pembeli yakni kolektor tulen dan mereka yang butuh hanya untuk mas kawin. Kolektor tulen serius membeli dan permintaannya disampaikan baik-baik, dan tidak menipu. Beda denga pembeli untuk mas kawin yang penyampaiannya kadang kasar. Bagi Gustama, model pembeli kedua dapat dimaklumi karena awam soal uang kuno.

"Karena orang awam tapi butuh uang kuno untuk mahar, seringkali bahasanya pun kurang baik, dan saya makluminya. Tapi pembeli model begi memiliki banyak kesempatan untuk menipu saya. Waktu itu sempat ada pembeli yang mau menipu dengan pura-pura sudah mengirimkan uang ke rekening saya. Setelah saya cek ternyata belum masuk. Saya sms dia, akhirnya enggak lagi transaksi," cerita Gustama.

Di ajang Kidpreneur Award 2012, Gustama dan patnernya Indra Argadhitya Boenawan lewat bendera Permata Nusa tak mendapatkan juara apa-apa. Tapi perjalanannya masuk 10 finalis ke Jakarta sudah cukup mereka syukuri.  Target pertamanya lolos sebagai finalis hasil seleksi 250 tim kesampaian. Tapi tidak untuk target kedua, di mana mereka berharap menjadi finalis enam terbaik, atau setidaknya menjadi juara harapan.

"Menang kalah sudah biasa saya hadapinya dengan lapang dada. Saya kasih selamat kepada pemenang. Momentum ini berharga karena kita bisa bertemu dengan orang-orang besar. Pengalaman orang-orang besar memberi inspirasi bagi saya, dan mejadi modal untuk mengembangkan bisnis ke depan," kata Gustama menyikapi hasil keputusan dewan juri yang tak memilihnya sebagai juara.

Patner Gustama, Indra mengaku rasa menyesal tak mendapatkan juara apa-apa sempat ada. Pasalnya, saat meninggalkan sekolah untuk berjuang di ajang ini, masa belajar mendekati ujian tengah semester. Saat itu adalah masa di mana semua murid sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian. Bahkan, ulangan dan pekerjaan rumah hampir penuh setiap harinya. Penyesalan itu mungkin akan terobati setidaknya jika juara.

"Setelah kalah ya mau gimana lagi. Sementara waktu kekalahan ini harus dilupakan. Pas sampai ke rumah kita harus mengerjakan pekerjaan rumah yang menumpuk. Kita juga akan langsung ke rumah teman meminjam catatan untuk belajar menghadapi ulangan. PR kita kan banyak berikut tugas dan ulangan lainnya," ucap Indra yang malam itu sudah mengantuk karena jam sudah menujuk pukul 23.00 WIB. Di bisnis uang kuno ini, Indra menjadi marketingnya.

Baca artikel menarik lainnya

Terkini
Penulis: Y Gustaman
Editor: Agung Budi Santoso
1 KOMENTAR
916401 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas