Inspirasi

Koleksi Uang Kuno Bawa Berkah Besar Bagi Bocah-bocah Ini

Anda punya koleksi uang kuno? Belajarlah dari bocah-bocah ini yang menjadikan koleksi uang kuno sebagai hobi yang membawa berkah.

Koleksi Uang Kuno Bawa Berkah Besar Bagi Bocah-bocah Ini
TRIBUNNEWS/ YOGI GUSTAMAN
Indra A Boenawan dan Gustama Amanusa, dua bocah kolektor uang kuno.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yogi Gustaman

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
Usianya masih 13 tahun. Tapi siapa sangka, Gustama Amanusa memiliki hobi yang mungkin jauh dari pikiran anak-anak seusianya kebanyakan, yakni mengoleksi uang kuno.

Kendati begitu, siswa Kelas 1 SMP Kristen Kalam Kudus Surakarta ini sangat jatuh hati dengan uang kuno. Baginya, uang kuno menyimpan sejarah sebuah bangsa, termasuk Indonesia.

Kesukaannya terhadap uang kuno berawal ketika ia duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu, sang ibu Lili Maherani memberi uang peninggalan neneknya, uang kertas pecahan Rp 5 ribu tahun 1986. Uang yang bergambar seseorang sedang mengasah intan, masih disimpan Gustaman hingga kini. Ia mengaku sampai kapan pun, uang ini tak akan ia lepas untuk dijual.

Di sela-sela ajang Kidpreneur Award 2012 yang digagas Berani Magz dengan menggandeng Permata Bank sebagai sponsor utama, kepada Tribun di Jakarta, Jumat (7/9/2012) malam, Gustama bercerita prospek bisnis mengoleksi uang kuno cukup menjanjikan. Ia benar-benar tertarik dengan uang kuno sejak Agustus 2011. Semua hal yang berbau uang kuno, ia cari tahu dari dunia maya.

 "Idenya bermula waktu TK, saya melihat perangko. Kok bagus ya untuk koleksi. Dari TK sampai kelas lima SD saya mengoleksi perangko. Tapi, saya menilai perangko bukan koleksi yang bisa diperhitungkan karena enggak ada pengaman yang jelas. Beda dengan uang yang ada watermark. Memang beberapa uang ada yang belum memakai teknologi watermark," katanya memberi alasan.

Setelah dipikir masak-masak, bungsu dari dua bersaudara ini memantapkan hati menekuni hobi mengoleksi uang kuno. Mulailah ia mencari tahu soal uang kuno lewat internet. Dari sebuah tulisan soal uang kuno, mengantarnya ke pasar maya yang menjual uang kuno dengan harga murah. Impiannya menambah uang kuno kesampaian setelah ia mendapatkannya lewat cara lelang.

Ia masih ingat uang kuno hasil lelang pertama yang didapatnya adalah uang pecahan Rp 100 tahun 1992 sebanyak 100 lembar. Uang itu bergambar perahu finisi. Harga selembar uang yang ia harus tebus Rp 500. Harga ini tiga kali lebih murah dari harga pasaran konsumen di pasar barang antik. Kala itu, uang pecahan Rp 100 tahun 1992 dibanderol Rp 2.000 per lembar.

Modal Juara Matematika

Mengoleksi uang kuno, selain membutuhkan kecintaan, ketekunan juga modal. Hal yang terakhir bukan masalah bagi Gustama. Karena modal untuk mengoleksi uang kuno, ia dapat dari hasil juara Olimpiade Matematika. Sejak SD, Gustama selalu mewakili sekolahnya di ajang Olimpiade Matematika. Uang hasil juara matematika yang dikumpulkan sampai Rp 2 juta lalu ia investasikan untuk hobinya.

Halaman
1234
Penulis: Y Gustaman
Editor: Agung Budi Santoso
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help