• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 18 September 2014
Tribunnews.com

Gagal Masuk SMA Favorit, Jokowi Sakit Tipus dan Pendiam

Minggu, 23 September 2012 17:35 WIB
Gagal Masuk SMA Favorit, Jokowi Sakit Tipus dan Pendiam
TRIBUN JOGYA
Jokowi Naik Becak Menuju Rumah Dinas

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
Punya cita-cita setinggi langit boleh saja, asal tetap realistis. Kalau tidak, akibatnya bisa seperti nestapa yang dialami Joko Widodo (Jokowi) di masa remajanya.

Setelah lulus dari sekolah favorit, SMP Negeri 1 Surakarta (Solo), teman-teman dekatnya melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 1 Solo. Sekolah yang juga punya nama dan menjadi incaran siswa baru di kota itu, termasuk Jokowi.

Namun ambisi Jokowi, nama pemberian pembeli mebel warga Negara Prancis, Mircl Romaknan, kandas. Ia terdepak dari siswa yang berhak duduk di SMA 1, dan harus bersekolah di SMA 6 Solo. Saat itu, SMA 6 adalah SMA negeri terbaru di Solo.  "Waktu tidak masuk di SMA 1, dia sudah murung kok. Dia di kamar saja, tidak mau keluar. Keluar kalau mau ke sekolah tok. Bahkan sampai dia sakit, panas, tipus," kata Sujiatmi, ibunda Jokowi, ketika ditemui di kediamannya kawasan Sumber, Jalan Plaret Raya, Solo, Sabtu 18/8/2012) pagi.

Jokowi yang duduk di samping Sujiatmi di bangku panjang berbahan jati menimpali. "Itulah, saya pernah gagal, sekali di sekolah," ujar pendiri perusahaan mebel PT Rakabu dan PT Rakabu Sejahtera, perusahaan ekspor mebel yang berbasis di Solo.

Jokowi gagal melewati proses seleksi melalui ujian masuk sekolah, bukan seperti sekarang yang menggunakan patokan nilai ujian nasional. "Dulu ngertilah, mungkin ada permainan. Saya lulus SMP 1, nilai bagus. Saya ingin masuk sekolah favorit. Saya hampir setengah tahun, murung, ngurung diri di kamar terus. Tidak selera sekolah. Baru kelas dua dan kelas tiga, rajin, ngebut," kata Jokowi.

Laki-laki dengan tinggi badan 175 sentimeter dan berat 53 kilo ini baru semangat belajar setelah motivasinya dilecut sang ibu. Ibunya menasihati, agar Jokowi rajin belajar jika ingin meraih cita-cita melanjut ke perguruan tinggi negeri favorit. "Setelah itu, saya belajar dengan baik, dengan motivasi agar saya bisa dapat di UGM," katanya.

Secara umum, menurut Sujiatmi, anaknya termasuk tekun belajar. Bahkan dia tidak perlu memaksanya untuk belajar. Dengan niat dan kemauannya sendiri, Jokowi rajin mempelajari buku-buku sekolah serta mengerjakan tugas dengan tepat waktu. Jokowi adalah anak penurut yang tidak perlu dijewer, pasti dia belajar sendiri. Dia juga termasuk anak yang rajin salat dan lancar mengaji.

Jokowi wajar kecewa dan malu masuk ke SMA Negeri 6. Sekolah itu berdiri tahun 1976 dengan nama Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan (SMPP) Nomor 40 Surakarta. Namun di masa Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dijabat Daoed Joesoef, kebijakan dan kurikulum diubah, nama SMPP diubah menjadi SMA. Awalnya, masih satu dengan SMA Negeri 5, yang letaknya memang berdekatan.

Saat Joko remaja masuk SMA 6 tahun 1978, baru saja berubah status. "Jokowi adalah angkatan pertama dan lulusan pertama tahun 1980," ujar Slamet Suripto guru fisika yang selama tiga tahun mengajari Jokowi.

Menurut Slamet Suripto, saat itu, SMA 6 adalah SMA negeri terakhir di Solo. SMA 1 sampai SMA 6. Muridnya pun banyak. "Dan muridnya dianggap bodoh. Jadi guru betul-betul ngajar murid bodoh. Tidak seperti SMA 1 yang dikenal sebagai sekolah murid pintar, favorit. SMA 1 sekolah favorit, sedangkan SMA 6 sekolah paling jelek. Dan namanya SMPP (Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan), jadi orang sering salah sangka, dikira SMP," ujar Slamet.

SMPP semula disiapkan untuk mendidik murid yang mau siap kerja, semacam sekolah menengah kejuruan (SMK) saat ini. Dengan sasaran itu, SMPP dibangun dengan banyak labortorium, misalnya laboratorium kayu, besi, mesin, listrik, IPS (mengetik), dan laboratorium pembukuan.

Akan tetapi, begitu Mendikbud Muhammad Mashuri digantikan Daud Joesof, saat itu semua SMPP disamaratakan menjadi SMA. Lalu nama sekolah SMPP ditulis dalam kurung SMA 6, karena banyak yang mengira SMP.

Selain mengingat sebagai sosok ulet dan rajin belajar, sosok Jokowi semakin membekas di ingatan Slamet karena muridnya itu lulus sebagai juara umum. Slamet Suripto juga mengaku bangga karena dapat melihat sosok pemimpin yang berintegritas, kaya namun tetap jujur dan sederhana, pada sosok Jokowi. Dia bangga karena ketika mengajar, termasuk di kelas Jokowi pada tahun 1978-1980, dia dan guru lainnya, selalu menyelipkan pesan moral.

Setiap guru mengajarkan filsafat kehidupan, mengajarkan kepada setiap anak didiknya untuk tetap berada pada jalur kehidupan yang mulia. Ya, walaupun dia guru Fisika, dia tetap berusaha untuk menyelipkan pendidikan tersebut sebagai bekal berperilaku dan tingkah pola anak didiknya setelah keluar ke masyarakat.

"Dia sudah menjalankan apa yang ada di hati saya. Misalnya menjadi pemimpin jujur, dia sudah jujur. Pemimpin yang memasyarakat, dia sudah memasyarakat. Jadi apa yang saya ajarkan dulu, sudah dia jalankan. Beda misalnya, korupsi. Tidak ada guru ngajari muridnya korupsi," kata pensiunan yang memasuki masa purnabakti pada tahun 2009 ini.

Murdi Suyitno, pensiunan guru Geografi SMA 6 yang pernah mengajar Jokowi, juga membanggakan berkas muridnya itu. "Lulusan dari SMA 6 banyak yang jadi pejabat, selain Jokowi, ada juga yang jadi camat Banjarsari, dan lain-lain," kata Murdi yang menjadi guru sejak 17 Agustus 1959, dan pensiun dari SMA 6 pada tahun 2000. (*)

Baca artikel menarik lainnya

Penulis: Domu D. Ambarita
Editor: Agung Budi Santoso
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
960332 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas