Tekuni Rendang Kemasan Berbekal Resep Nenek

Siapa tak kenal dengan rendang? Makanan satu ini dinobatkan sebagai salah satu makanan terlezat di dunia.

Tekuni Rendang Kemasan Berbekal Resep Nenek
net

Laporan wartawan Tribun Jabar, Ida Romlah

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Siapa tak kenal dengan rendang? Makanan satu ini dinobatkan sebagai salah satu makanan terlezat di dunia. Tidak hanya di Indonesia, masyarakat di dunia juga menyukai rendang.

Biasanya rendang mudah ditemui di rumah makan yang menawarkan pasakan khas Sumatra Barat, disajikan dalam piring, bersama sejumlah menu lain asal Ranah Minang.

Namun di tangan Intan Rahmatillah, rendang justru ditawarkan lebih praktis, yakni dalam kemasan dengan desain menarik dan mudah dibawa ke mana saja. Rendang pun tahan lebih lama, yakni sampai dua bulan.

Ditemui dalam acara peringatan Hari Ibu yang digelar Senior Club Hati Indonesia (Sehati) di Sekretariat Shafira Foundation Jalan Pelajar Pejuang 45, Bandung, Kamis (27/12), Intan bercerita, ia membuat rendang dalam kemasan karena alasan kepraktisan.

"Kebetulan juga banyak orang yang merasa perlu membawa rendang dalam perjalanan panjang ke luar negeri atau luar kota. Kalau tidak dikemas, tentu lebih repot membawanya," ujarnya.

Pada Juni 2011 pun, Intan coba-coba membuat rendang kemasan. Awalnya dia tidak menggunakan plastik vakum sebagai kantong untuk mengemas rendang buatannya. Ibu satu anak ini hanya menggunakan plastik biasa, lalu memasukkan plastik berisi rendang itu ke dalam stoples.

Namun lama-kelamaan Intan mulai memikirkan bagaimana agar rendang kemasan itu bisa tahan lebih lama. Akhirnya dia memutuskan menggunakan plastik vakum sebagai kemasan rendang agar hampa udara. Plastik vakum berisi rendang itu kemudian dimasukkan ke kotak dus kecil yang praktis untuk dibawa. "Ternyata setelah dites, rendang pakai plastik vakum bisa tahan sampai dua bulan asal plastiknya tidak dirusak," katanya.

Satu bungkus rendang Intan tawarkan Rp 35.000-Rp 55.000 dengan isi bersih 200 gram untuk rendang daging sapi dan 250 gram untuk rendang berbahan baku yang lain. Kebetulan Intan memproduksi beragam rendang mulai daging sapi, jamur, ati, paru-paru, limpa, bebek, sampai jengkol.

Penjualan rendang kemasan buatan Intan masih sangat terbatas, yaitu secara online, di sebuah toko di Jalan Pajajaran, reseller di Bekasi, dan toko oleh-oleh di Jalan Sultan Agung, Bandung. Jumlah rendang yang dijual pun terbatas karena produksi rendangnya masih minim.

"Satu kali bikin paling kalau daging sapi hanya sekitar 10 kilogram. Saya juga tidak setiap hari bikin, tapi sepekan sekali," kata alumnus ITB ini. Dalam produksi, Intan dibantu lima karyawan yang tak lain para tetangganya.

Menurut Intan, ia berdarah Padang dan Sunda, tapi lama menetap di Bandung. Keahliannya membuat rendang didapat dari belajar pada neneknya. Sang nenek memiliki resep khusus dalam membuat rendang agar rendang lebih empuk dan lezat rasanya.

"Tadinya saya sama sekali tak bisa membuat rendang. Tapi belajar pada Nenek, dan akhirnya bisa. Iseng-iseng jualanlah rendang," kata Intan. Karena menggunakan resep neneknya, Intan memberi merek pada rendang kemasan buatannya dengan nama Rendang Nenek.

Sebagai modal awal, kata Intan, ia hanya merogoh kocek sedikit. Dia pun memilih membuat rendang perdana dengan bahan baku 3 kilogram daging sapi. Rendang pun pertama kali ditawarkan ke tetangga dan rekan kerja suami.

Kini, penjualan Rendang Nenek sudah makin luas. Saat ini konsumen rata-rata adalah mereka yang suka travelling tapi tetap ingin menikmati cita rasa masakan khas Indonesia.

Editor: Sanusi
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help