• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribunnews.com

Lubang Candu di Lawang Ombo

Sabtu, 11 Mei 2013 18:50 WIB

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo

TRIBUNNEWS.COM, LASEM - Di lantai bangunan utama komplek "Lawang Ombo," Lasem, Rembang, Jawa Tengah terdapat sebuah lubang berdiamater sekitar 80 sentimeter. Berjarak satu meter dari bibir lubang itu, terdapat genangan air keruh, tidak jelas terlihat berapa dalam lubang tersebut.

Menurut pemilik Lawang Ombo, Soebagio (52), lubang itu konon digunakan untuk menyeludupkan Candu (Papaver Somniverum).

Lawang Ombo adalah komplek bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 6000 meter persegi. Bangunan tersebut di kelilingi oleh pagar setinggi satu setengah meter. Pintu gerbang untuk memasuki kawasan tersebut kata Soebagio dahulunya terbuat dari kayu, dengan ukuran yang lumayan besar. Dari ukuran tersebut lah nama Lawang Ombo yang dalam bahasa Jawa berarti pintu besar itu lahir. Kini pintu tersebut telah diganti dengan pintu besi degan ukuran yang lebih kecil.

Di komplek tersebut terdapat dua bangunan utama. Bangunan yang terletak di bagian depan komplek merupakan bangunan satu lantai bermarna putih kusam dengan arsitektur khas Tiong Hua. Atap bangunan tersebut terdiri dari dua tumpuk, dengan tumpukan paling atas berukurang lebih kecil dari tumpukan di bawahnya. Pada sisi atap itu terdapat semacam pagar kecil.

Di bagian depan bangunan tersebut terdapat teras yang dilindungi oleh atap yang ditopang oleh tiang-tiang kayu. Di teras tersebut terdapat perabotan kayu.

Pintu utama untuk memasuki bangunan itu berukurang lumayan besar, yakni dengan tinggi sekitar 4 meter dengan lebar sekitar 2 meter. Pintu berwarna krem tersebut terbuat dari kayu yang cukup tebal, dengan balok kayu sebagai bingkainya. Di sebelah kiri dan kanan pintu itu terdapat jendela yang ukurannya juga lumayan besar, yakin dengan tinggi sekitar 2 meter dengan lebar sekitar 1 meter, dengan tralis kayu sebagai penutupnya. Di pojok timur bagian muka bangunan itu juga terdapat pintu. Di ruangan yang terletak di balik pintu itu lah terdapat lubang Candu itu.

Soebagio menyebutkan dari cerita ibunya, lubang tersebut konon digunakan untuk menyeludupkan candu. Di dasar lubang itu dulunya terdapat lorong besar yang bisa di muati perahu, dan lorong tersebut tersambung dengan sungai Babakan, yang mengalir di arah barat kompel tersebut, dengan jarak sekitar 20 meter. Kini lorong perahu itu sudah dipenuhi dengan lumpur.

Rumah tersebut menghadap ke sungai. Soebagio mengaku ia juga sempat diceritakan orangtuanya bahwa dahulu kala rumah-rumah di kawasan tersebut menjorok hingga ke sungai, dan memanfaatkan sungai sebagai sarana transportasi. Hal itu berlangsung ratusan tahun hingga tentara Jepang datang ke tanah air, dan menghancurkan bagian depan rumah yang menjorok ke sungai untuk membuat jalan.

"Tidak cuma lubang saja, jaman dulu peti mati juga digunakan untuk menyeludupkan candu. Jadi peti mati itu bukan diisi orang mati, tapi diisi candu. Peti itu di kawal seluruh keluarga sambil menangis biar polisi tidak curiga," katanya.

Candu-candu yang sampai ke rumah itu kata Soebagio disimpan di bangunan dua lantai yang terletak di tenah komplek itu. Bangunan tersebut secara garis besar mirip dengan bangunan yang terletak di bagian muka komplek, hanya ssaja bangunan tersebut memiliki dua lantai dengan teras di bagian muka lantai dua nya.

Bangunan tersebut kata dia awalnya di bangun oleh seorang Kapiten Cina bermarga Liem. Ia menduga dirinya adalah keturunan ketujuh dari Kapiten yang juga dikubur di komplek tersebut. Sejak awal bangunan tersebut didirikan, kecuali pintu masuk kawasan tersebut dan bangunan yang dihancurkan tentara Jepang hampir tidak ada yang dirubah.

Bangunan tersebut sebenarnya tidak diwariskan ke dirinya. Pada sekitar tahun 1996 sepupunya yang mewarisi bangunan itu jatuh bangkrut. Khawatir bangunan itu dijual ke orang lain, ia pun memutuskan untuk membeli bangunan itu dengan harga Rp 350 juta.

Lawang Ombo dibiarkan selama puluhan tahun kosong. Walaupun demikian komplek tersebut kata Soebagio terus ia rawat. Bangunan itu sempat diminta oleh Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah diubah sebagai tempat penginapan untuk turis.

Ia menolak dengan halus usul tersebut karena khawatir akan menimbulkan polemik. Di tempat itu kini kerap digelar acara budaya. Soebagio mengaku akan mengizinkan siapapun yang meminjam tempat tersebut tanpa memungut bayaran.

James R. Rush dalam makalahnya yang berjudul "Social Control And Influence In Nineteenth Century Indonesia: Opium Farms and The Chinese of Java," menjelaskan bahwa sejak awal kedatangannya bangsa Belanda pada abad ke 15, orang-orang keturunan Tiong Hua dimanfaatkan sebagai perantara dalam mengatur perdagangan di Nusantara, termasuk perdagangan Opium. Orang-orang Tiong Hua tersebut pun diberi pangkat layaknya tentara, salah satu pangkat itu adalah Kapiten.

Di pulau Jawa pada masa penjajahan Belanda setidaknya terdapat lima ladang Opium yang terletak di Cirebon, Tegal, Pekalongan, Kediri dan Rembang. Saat itu opium dijual bebas, bahkan ditawarkan secara resmi dari pintu ke pintu.

Animo masyarakat yang sangat tinggi menghasilkan keuntungan yang menggiurkan, sehingga memicu persaingan tidak sehat diantara pemegang hak berdagang opium. Pemerintah Belanda kemudian mengeluarkan peraturan untuk membatasi jumlah maksimal kepemilikan Opium tiap orang. Bahkan Opium yang berasal dari bukan ladang resmi juga dilarang. Melanggar peraturan-peraturan tersebut merupakan tindak pidana yang pelakunya bisa diancam mulai dari denda, penjara hingga penyiksaan brutal.

Pada buku James R.Rush yang berjudul "Opium to Java:Revenue Farming and Chinese Enterpries In Colonial Indonesia in 1860-1910 diceritakan salah satu kasus tentang kepemilikan Opium ilegal. Pada September 1980 seorang warga Rembang bernama Djojodiningrat dituduh telah memiliki 865 kilogram opium ilegal. Seorang pedagang Opium di Kediri bernama Liem Kok Sing diduga ikut terlibat dengan kasus Djojodiningrat. keduanya pun mendapat hukuman dari pemerintahan Belanda.

Penulis: Nurmulia Rekso Purnomo
Editor: Anita K Wardhani
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1773252 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas