Berkunjung ke Brunei, Jangan Lewatkan Menyicipi Nasi Katok nan Lezat

Jika suatu waktu melakukan perjalanan ke Brunei Darussalam, maka tak akan lengkap cerita jika belum makan nasi katok

Berkunjung ke Brunei, Jangan Lewatkan Menyicipi Nasi Katok nan Lezat
IST
Gerai resoran nasi katok di pusat kota Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, yang menjual nasi katok Mama dengan harga satu dolar Brunei. Resto ini sangat populer dan ramai dikunjungi warga Brunei maupun pendatang. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Andi Asmadi, dari Brunei Darussalam

TRIBUNNEWS.COM - Jika suatu waktu melakukan perjalanan ke Brunei Darussalam, maka tak akan lengkap cerita jika belum makan nasi katok. Ya, ini adalah makanan khas Brunei yang sangat populer di segala lapisan masyarakat. Menunya hanya berupa nasi lemak dan sepotong ayam goreng plus sambal. Harganya dipatok flat, satu dolar Brunei (kurs beli saat ini Rp 8.100).

Untuk ukuran Brunei, harga satu dolar tergolong murah, meski sebenarnya jika dihitung menurut volume dan rasa sudah sepantasnya. Bandingkan dengan makan di resto cepat saji Kentucky Fried Chicken (KFC) atau Jollibee yang dengan minumannya sekitar 5 dolar Brunei. Atau di berbagai rumah makan dan kedai, sekitar 3,5 dolar Brunei.

Nasi katok menjadi makanan cepat saji ala Brunei. Sangat gampang menemukannya karena dijual di mana-mana. Di Terminal Bus Bandar Seri Begawan, ada banyak kedai yang menjual makanan yang dikemas dalam kotak plastik ini. Bahkan, ada beberapa tempat yang jual 24 jam. Harganya sama, satu dolar. Perbedaannya tentu pada kualitas makanan, dan terutama pada cita rasa sambalnya.

Satu di antara rumah makan yang jual nasi katok 24 jam adalah Restoran Seri Mama di Jalan Cator, hanya belasan meter dari Terminal Pusat Bandar Seri Begawan, atau sekitar 100 meter dari Hotel Brunei. Dengan merek populer "Nasi Katok Mama", resto yang berada tepat di jantung bisnis Bandar Seri Begawan ini sangat ramai dikunjungi. Meski menyediakan tempat makan, namun kebanyakan orag beli untuk delivery.

Proses delivery sangat cepat. Pembeli yang berada di antrean terdepan tinggal menyebut mau beli berapa bungkus. Pelayan akan mengambilkan nasi lemak dan dituangkan ke dalam bungkus kertas. Pembeli dipersilakan memilih potongan ayam yang dikehendaki, lalu pelayan akan menyatukannya dengan nasi dan membungkusnya. Tinggal dimasukkan ke dalam kantong plastik, selesai, satu dolar.

Meski harga murah, pembeli justru banyak dari kalangan berduit. Seperti yang terlihat ketika Tribun ikut antre untuk beli nasi katok, Minggu (11/8/2013), beberapa di antara pengunjung naik mobil mewah keluaran terbaru. Mereka beli rata-rata di atas 10 bungkus. Ketika pelayan resto kemudian menyampaikan sambel habis, beberapa dari mereka tak jadi beli.  Rupanya, satu di antara daya tarik Nasi Katok Mama adalah sambelnya yang punya cita rasa khas.

Dari mana datangnya nasi katok ini? Menurut cerita teman wartawan Brunei, nasi katok sudah ada sejak 1960-an. Ada keluarga asal Tionghoa yang menjual nasi secara kecil-kecilan di Mabohai. Harganya ketika itu belum satu dolar, tapi hanya 60 sen. Menunya nasi lemak plus sambal pusu yang terbuat dari ikan bilis. Makanan yang dijual keluarga Low San ini sangat populer di kalangan warga, sehingga tengah malam pun, kala lapar, mereka akan mendatangi rumah Low San dan mengetuk-ngetuk (katok) pintu.

Akhirnya, banyak yang kemudian ikut berjualan nasi ala Low San, tentu dengan variasi menu, dengan nama yang berkembang menjadi populer: nasi katok. Menu kebanyakan berupa nasi lemak pluas sepotong ayam dan sambal. Ada beberapa yang memvariasikannya dengan menambahkan potongan telur goreng, atau mengganti ayam goreng dengan telur dadar.

Sebagaimana diceritakan tadi, nasi katok yang sangat populer bagi warga Brunei adalah nasi katok Mama yang dijual di Restoran Seri Mama. Nah, cerita sukses tentang  nasi katok Mama ini, seperti dirilis Brunei Times, tak lepas dari perjuangan Jaidi Hj Kipli (41) yang kini sukses mengembangkan bisnisnya dalam lima gerai di seluruh Brunei.

Dari modal 1.000 dolar Brunei, Jaidi memulai usahanya menjual nasi katok di Lambak Kanan pada 2004. Pada hari pertama, untung bersihnya hanya 40 dolar. Sebulan, untungnya melonjak jadi 3.000 dolar. Kini, dengan lima gerai resto yang dikelolanya, Jaidi mendapatkan keuntungan bersih 100.000 dolar sebulan. Dari jualan nasi katok satu dolar sekotak, ia bisa mengendarai Nissan GTR keluaran terbaru, yang harganya Rp 2,5 miliar.

Dari mana Jaidi terinspirasi untuk menjual nasi katok yang mengantarkannya menjadi miliuner? Pria ini masih luntang lantung ada era 90-an. Beragam usaha yang dicobanyak tak berhasil. Ia menjual anak ayam, buka kafe, semua gagal. Nah, suatu waktu istrinya melahirkan anak kembar. Ia pun menungguinya di rumah sakit.

Tengah malam, ia sangat lapar. Ia keluar dan berkeliling, tapi tak menemukan ada makanan yang dijual selama 24 jam dan dengan harga murah. Dia pun jadi kepikiran, pasti banyak orang sepertinya, yang kelapaan tengah malam dan mencari makanan siap saji dengan harga murah. Ia lalu mulai menyusun rencana bisnisnya.

Sayang, ia kepentok modal. Ia minta pinjaman 1.000 dolar ke bank, ditolak karena tidak ada jaminan. Akhirnya, dengan susah payah ia mengumpulkan pinjaman dari keluarga dan teman. Ia pun membuka kedai nasi katok pertamanya pada 2004, dan dari situ sukses pun menyelimutinya. Du balik sukses itu, Jaidi mengaku ada rahasianya. Apa itu? "Harus jujur, jangan main perempuan, jangan minum alkohol, dan jangan main judi. Insya Allah, Tuhan akan menolong kamu," pesannya.

Editor: Widiyabuana Slay
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved