Sulitnya Mencari Laksa Betawi, Masakan Paling Kaya Rempah

Masakan khas Betawi yang kini makin sulit ditemui, bahkan di kalangan komunitas Jakarta asli.

Sulitnya Mencari Laksa Betawi, Masakan Paling Kaya Rempah
eph Ganis/Wisata Jajan Khas Daerah Di Jabodetabek
Ketupat laksa atau laksa betawi yang mulai langka. 

TRIBUNNEWS.COM - Mati segan, hidup ogah-ogahan. Begitulah nasib laksa, masakan khas Betawi yang kini makin sulit ditemui, bahkan di kalangan komunitas Jakarta asli.Tak heran, mencari kedai penjual laksa ibarat melacak jarum di tumpukan jerami. Orang Betawi bilang, suse be'eng (sulitnya minta ampun)!

Harus diakui - entah karena cita rasanya yang kurang cocok di lidah orang luar Betawi, atau cara membuat bumbunya yang kelewat repot, atau kedai penjualnya yang jarang ada - laksa betawi tak banyak dikenal orang. Awam lebih ngeh pada taoge goreng atau laksa bogor.

Padahal, kenikmatan laksa yang sering disetarakan dengan laksa "nyonya malaka" (masakan tradisional Malaysia) itu - khususnya buat mereka yang suka pedas dan sayuran - benar-benar tiada tara. Ketika dimakan bareng ketupat, bukan hanya perut yang bakal dimanjakan. Bumbu laksa yang menyengat dan sedikit pedas dijamin bisa mengusir semua problem dari pikiran, setidaknya saat makan (setelah itu tentu di luar tanggungan).

Apalagi jika masakan yang sangat populer di tahun 1970-an dan 1980-an ini dikombinasi dengan empal, semur telur, atau semur daging, kian lengkap sudah sensasi laksa, yang artinya "sepuluh ribu", menurut kamus bahasa Indonesia itu.

Jangan tanya kenapa, karena Muroni, istri Haji Darus, pemilik kios "Ketupat Laksa" akan menjawab, mengapa cita rasa kuah laksa yang berkelir kuning itu begitu menyengat. "Laksa bisa dibilang masakan paling 'kaya' ramuan. Dia pake semua bumbu, kecuali asam dan kayumanis," ucap perempuan asli Betawi yang sudah menjajakan laksa sejak 1971 ini.

Muroni menambahkan, "Laksa betawi beda dengan taoge goreng dan laksa bogor. Taoge goreng sama laksa bogor 'kan pake oncom dan mihun. Kalau laksa betawi, yang diutamain justru sayurannye, kucai, taoge, dan kemangi. Makanya, enggak pake oncom. Kalo ditambain lagi oncom, apalagi mihun, nanti yang lebih terasa rasa oncom sama mihunnye. Rasa sayurannye jadi ilang" cerocos ibu dari 11 anak ini begitu lancar dan fasih.

Di tengah kian langkanya kedai khusus laksa di Jakarta, keberadaan warung Ketupat Laksa pasutri Muroni dan Haji Darus (yang kini mulai sakit-sakitan, karena prostatnya terganggu) bak oase di padang pasir. Kedai yang mengambil porsi ruang tamu (desainnya persis seperti rumah, bukan kayak warung kebanyakan) dari rumah keluarga Haji Darus itu sanggup menampung 15-20 orang pelanggan sekaligus, terlihat bersih dan nyaman. Atapnya tinggi, dilengkapi kipas angin model baling-baling, serta akuarium berukuran lumayan besar.

Dawam, anak kedelapan yang sehari-hari menjadi "mandor" warung menginformasikan, setiap hari rata-rata 100 - 200 ketupat disandingkan dengan laksa. Lumayanlah untuk ukuran Warung Ketupat Laksa. "Kami juga sering nerima pesenan, misalnya untuk acara pernikahan. Kadang datang dari luar kota, seperti Bogor. Tapi pernah juga ada yang bawa sampai ke Lampung," tandas Dawam.

Seperti masakan Betawi lainnya, laksa pun dapat dinikmati dengan harga sesuai kantung. Cukup murah untuk masakan - yang karena langkanya - barangkali hampir bisa disebut sebagai makanan eksotis.

Peracik laksa betawi sekelas Muroni sangat dibutuhkan, bukan hanya agar warungnya tetap langgeng dan menyumbang dapur. Tapi juga untuk melestarikan ilmu yang mulai dilupakan generasi sekarang, ilmu membuat dan menyajikan laksa nan sedap dan merangsang selera.

"Saya sendiri udah ngajarin ke anak-anak, mantu, keponakan, supaya ilmu yang saya punya enggak ilang begitu aja. Biar nanti mereka bisa nerusin warung," harap Muroni. Ya, sayang kalau laksa yang kaya bumbu dan cita rasa sampai mati suri, apalagi mati beneran. • (Muhammad Sulhi

Ketupat Laksa
Jln.As-siroth 2, Kampung Baru (antara Jln. Raya Kebayoran Lama - Kebonjeruk),
Jakarta Barat.
Buka: Pukul 10.00 - 21.00 WIB.

Editor: Anita K Wardhani
Sumber: Intisari
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved