Ajinomoto Kembangkan Teknologi Pendeteksi Kanker

Penggunaan teknologi ini pun diyakini Ajinomoto akan mempermudah dokter dan pasien dalam pencehgahan dan mampu mendeteksi kanker.

Ajinomoto Kembangkan Teknologi Pendeteksi Kanker
Richard Susilo
Foto ilustrasi: Kantor Pusat Ajinomoto di Tokyo Jepang 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perusahaan penyedap rasa asal Jepang, Ajinomoto Co mengembangkan teknologi pendeteksi kanker yang diberi nama Amino Index Risk Screening atau AIRS.

Dari data rilis resmi Ajinomoto Co., Inc.-Jepang dijelaskan, AIRS memanfaatkan teknologi asam amino. Berdasarkan sejarah panjang penelitian Ajinomoto terhadap asam amino, diketahui bahwa keseimbangan konsentrasi asam amino dalam darah berubah untuk menunjukkan tingkat kesehatan seseorang.

Hal ini kemudian mengarah ke pengembangan teknologi pemeriksaan kanker praktis, yang dapat meningkatkan kemungkinan pendeteksian bila digabungkan dengan tes pemeriksaan lainnya.

Baca: Jarak Madinah ke KJRI 460 Km, KJRI Jemput Bola Urus Dokumen WNI

Penggunaan teknologi ini pun diyakini Ajinomoto akan mempermudah dokter dan pasien dalam pencehgahan dan mampu mendeteksi kanker.

Nantinya, dokter akan mengambil darah pasien sebanyak 5 ml setiap pemeriksaan. Darah itulah yang lalu diperiksa menggunakan teknpologi asam amino.

Teknologi AIRS dinilai mampu mendeteksi kanker perut, kanker paru-paru, kanker usus besar, kanker pankreas, dan kanker prostat pada pria.

Sedangkan pada perempuan, alat ini akan memeriksa kanker perut, kanker paru-paru, kanker usus besar, kanker pankreas, kanker payudara, dan kanker Rahim atau ovarium.

Pemeriksaan kesehatan secara rutin telah menjadi tren di masyarakat, termasuk di negara Jepang. Kondisi inilah yang dinilai Ajinomoto membuat usia masyarakat Jepang lebih panjang.

Di Jepang, pemeriksaan massal diberikan kepada setiap siswa di sekolah, karyawan di kantor, serta setiap orang dalam sistem perawatan kesehatan universal komunitas dan pemerintahan setempat.

Di negara lain, pemeriksaan kesehatan sering kali hanya diminta oleh mereka yang secara khusus mementingkan kesehatannya, sedangkan di Jepang, ini merupakan suatu aturan.

Hasilnya pun dapat dilihat dari GDP negara Jepang. Setiap tahunnya, Jepang hanya menghabiskan 10% dari GDP negara dibandingkan dengan Amerika Serikat yang menghabiskan 17%. Semakin rendah GDP negara terkait kesehatan, maka semakin sehat masyarakat sebuah negara tersebut.

Menurut Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr Daeng M Faqih, SH, MH, pemeriksaan kesehatan memang harus ditingkatkan di tengah masyarakat, khususnya Indonesia.

Melalui pemeriksaan kesehatan yang rutin dilakukan, masyarakat akan bisa mengantisipasi dan mendeteksi penyakit katastropik seperti kanker, jantung, diabetes, stroke, dan masih banyak lagi.

Di negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan, kata Daeng, masyarakat diwajibkan memeriksa kesehatan agar terhindar dari penyakit katastropik tersebut. Semua biaya ditanggung oleh negara.

“Sebenarnya, bila penyakit katastropik dicegah melalui pemeriksaan kesehatan, negara akan lebih sedikit mengeluarkan biaya untuk mengobati penyakit tersebut,” tutupnya. (Willy Widianto)

Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved