Mengenaskan TMII Tak Punya Banyak Info soal Pendakian Everest

Pernahkah anda tahu bahwa mendaki gunung juga dianggap olah raga nasional. Walaupun tidak ada cabangnya pada Koni, maupun tidak dilombakan pada Pekan Olahraga Nasional (PON).

Mengenaskan TMII Tak Punya Banyak Info soal Pendakian Everest
tmii
Taman Mini Indonesia Indah di Jakarta ramai pengunjung
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pernahkah anda tahu bahwa mendaki gunung juga dianggap olah raga nasional. Walaupun tidak ada cabangnya pada KONI, maupun tidak dilombakan pada Pekan Olahraga Nasional (PON).

Di Taman Mini Indonesia Indah, menyediakan sebuah sudut, di mana prestasi indonesia sebagai negara tropis pertama yang menancapkan bendera pada atap dunia, yaitu Puncak Everest, pada tahun 1997.

Pada lemari kaca tersebut dipajang sejumlah peralatan mendaki gunugn. Mulai dari sleeping bag, down jacket, hingga fixed harnest. Ini adalah peralatan  pernah digunakan oleh Tim Everest Indonesia. Sedangkan pada sudut lainnya dari lemari kaca tersebut, terdapat manequin yang dipasangi peralatan mendaki gunung lengkap.

Namun sayangnya, informasi yang disajikan terkesan seadanya. Siapapun yang datang ke tempat tersebut hampir dipastikan mengalami kesulitan untuk mencerna informasi macam apa yang disajikan pihak museum.

Bahkan ketika Tribunnews.com mencoba menggali informasi kepada sang penjaga museum, ia pun hampir tidak tahu apa-apa mengenai prestasi Indonesia di puncak Himalaya itu.

Pada tahun 1997, salah seorang jendral TNI, Prabowo Subijakto pada waktu itu berinisiatif untuk membentuk tim guna menaklukan puncak tertinggi di dunia, Mt. Everest (8848 Mdpl). Tim yang dibentuk angggotanya merupakan gabungan antara militer serta sipil. Militer yang diwakili oleh Kopasus, lalu sipil diwakili oleh anggota pencinta alam seperti Mapala UI dan Wanadri.

Dengan persiapan yang singkat, setelah sekitar satu bulan mendaki puncak Evrest, Tim indonesia akhirnya dapat menancapkan bendera di titik 8848 Mdpl itu. Tiga orang yang berhasil adalah para anggota Kopasus dua di antaranya yaitu Asmudjiono dan Misirin.

Keberhasilan tersebut adalah terakhir kalinya Indonesia dapat menjejakan kaki di puncak Everest, yang juga dikenal sebagai Sagarmata itu. Setelah percobaan oleh tim sipil militer itu percobaan-percobaan oleh tim Indonesia lainnya selalu gagal. Hal tersebut terutama terkendala pada masalah biaya.

Untuk izin mendaki gunung tersebut, satu orang setidaknya akan dikenakan biaya sebesar 50.000 dolar AS atau sekitar Rp 500 juta. Hal tersebut pastinya diluar biaya untuk peralatan, logistik, maupun sewa guide profesional.

Tentunya pada era ekonomi Indonesia yang sedang berkembang belakangan ini, sangat sulit untuk mengalokasikan uang sebesar itu hanya untuk mendaki gunung.

Prestasi Everest 1997 itu juga diakui oleh Suharto yang kala itu masih menjabat sebagai presiden. Namun pengakuan prestasi mendaki gunung itu, tidak serta merta membuat olah raga mendaki gunung diperlombakan di PON, maupun didirikan cabangnya oleh Koni.

Editor: Widiyabuana Slay
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help