• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 25 Juli 2014
Tribun Jakarta

Ketua PWNU Jakarta: Warga Ibukota Hadapi Tiga Tantangan Berat

Selasa, 21 Juni 2011 23:28 WIB
Ketua PWNU Jakarta: Warga Ibukota Hadapi Tiga Tantangan Berat
wordpress.com
Ilustras Monas

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua PWNU DKI Jakarta Djan Faridz menyebut ada ada tiga tantangan gelombang sosial politik yang menggerogoti nilai-nilai tradisi, sejarah dan keagamaan masyarakat di Jakarta. Tiga gelombang tersebut adalah demokratisasi, modernisasi, dan regenerasi.

“Demokratisasi yang awalnya dimaksudkan untuk menciptakan tatanan pembangunan berbasis aspirasi masyarakat, justru menghancurkan tatanan masyarakat itu sendiri akibat arena infrastrukturnya tidak disiapkan dengan baik. Hal itu terutama menyangkut SDM, penegakan hukum, dan pelayanan publik,” tulis Djan Faridz dalam rilis yang diterima Tribunnews.com, Selasa (21/6/2011).

Djan Faridz menyatakan hal itu terkait dengan peringatan Harlah Fatayat NU di Jakarta yang jatuh pada tanggal 20 Juni. Ia mengatakan, modernisasi yang mencakup kecanggihan teknologi yang seharusnya membuat beban masyarakat lebih mudah, namun justru membuat manusia yang menjadi objek modernisasi. Padahal, manusia sejatinya adalah subjek dari modernisasi tersebut.

Masalah regenerasi, jelas Djan Faridz, sangat mempengaruhi perkembangan masyakarat. Ia mengatakan, kalau remaja yang dibesarkan dengan pengalaman hidup dan nilai-nilai kebangsaan yang minim, bisa kewalahan dengan perubahan zaman.

“Fatayat NU kami minta untuk bisa memanfaatkan perkembangan demokratisasi, modernisasi dan regenerasi untuk kemajuan, kemudahan, dan kemaslahatan umat, khususnya warga Jakarta,”lanjut anggota DPD RI asal DKI Jakarta tersebut.

Menurutnya, jika umat tidak semakin maju hidupnya, maka Islam akan semakin kehilangan tempat. Jika umat tidak semakin mudah hidupnya, maka konflik akan semakin keras dan kolektivisme dan pluralisme akan semakin pudar.

Dan bila umat tidak semakin bermartabat, maka Jakarta akan semakin biadab, dan semakin sulit bagi Indonesia untuk terhormat di mata dunia.

“Pemudi Fatayat NU adalah ujung tombak perbaikan demokrasi dan regenerasi dalam gelombang modernisasi saat ini. Istilah Islam yang moderat benar-benar hidup dan dipercaya di seluruh dunia, karena umat Islam di Indonesia menjadi buktinya. Dan ini sebagian besar karena pengaruh NU yang plural, kultural dan moderat. Saya percaya, kalau Fatayat NU bisa berbuat lebih banyak lagi, maka istilah "Islam yang cantik dan modern" yang akan mulai muncul dan diteladani pula di seluruh dunia,” jelas Djan Faridz.

Editor: Yulis Sulistyawan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas