• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 23 April 2014
Tribun Jakarta

Polisi Temukan Keanehan di Kasus Pelecehan Artis JM

Kamis, 5 April 2012 12:46 WIB
Polisi Temukan Keanehan di Kasus Pelecehan Artis JM
net
ilustrasi korban pelecehan

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Wahyu Aji

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Polres Jakarta Timur yang menangani kasus pelecehan yang dialami JM (22), artis pendatang baru FTV yang mengaku ditelanjangi dan dicabuli oknum sopir taksi Blue Bird, menemukan keganjilan dalam kasus ini.

Menurut Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Jakarta Timur, Ajun Komisaris Endang, dari hasil pemeriksaan, JM bercerita bahwa saat itu ia pulang dari gereja di dekat Taman Mini, Pondok Gede.

Ketika itu JM hendak pergi ke rumah teman prianya di kawasan Semper, Jakarta Utara Minggu (1/4/2012) pukul 20.00. JM akhirnya mendapatkan taksi untuk le rumah temannya itu. "Dia bilang mau ke tempat temannya untuk antar kado," ujar Endang.

Namun sesampainya di depan rumah teman JM itu sekitar pukul 22.00, sopir taksi justru mulai merayu JM. "Dia bilang apa nggak enak kalau jam segini datang ke rumah temannya itu. Setelah itu mereka berbincang cukup lama di depan rumah dan JM akhirnya mengurungkan niatnya keluar dari taksi," ucap Endang.

JM mengaku dirinya menemukan kecocokan dengan sang sopir. Di tengah perbincangan itulah sopir berinisial RM (46) itu mengaku bisa membaca aura JM. RM mengatakan kalau aura JM sepertinya tidak baik sehingga perlu diobati, agar kehidupan dan rezekinya diperlancar.

"Pelapor kemudian diminta membeli aqua gelas. Nah, airnya diteteskan ke telapak tangan pelapor sambil sopir itu membaca garis tangan. Di situ sang sopir bilang perlu dilakukan pengobatan di penginapan, tapi yang bayar si pelapor dan disanggupi," papar Endang.

Keduanya pun mencari-cari penginapan murah di sekitar Condet, Jakarta Timur. Namun tidak ada penginapan yang sesuai dengan kemampuan kantong JM. RM kemudian menawarkan kontrakan adiknya di kawasan Cipayung, Jakarta Timur.

Di tempat tersebut, RM mulai menggerayangi tubuh JM. Tapi keduanya tidak sampai melakukan hubungan dan masih berpakaian lengkap.

Menjelang subuh JM minta diantar ke rumahnya. JM tiba di rumah pukul 06.00 WIB. Dari kronologi yang diceritakan JM, polisi menaruh curiga, sebab hipnotis yang disebut-sebut itu sebenarnya tidak ada.

JM, kata Endang, bisa dengan sangat baik menceritakan waktu demi waktu dan tindakan demi tindakan. Tidak ada yang lupa satu pun. Selain itu, JM juga mengaku mau secara sadar dibawa ke penginapan karena terlanjur merasa cocok dengan sang sopir.

"Dia bilang sopirnya baik banget, dan bisa bantu perbaiki aura. Pelapor percaya saja, dan dia secara sadar mengaku sukarela mau dibawa ke penginapan dan kontrakan," ujarnya.

Polisi telah membaca hasil visum JM. Tetapi hasil itu tidak menyebutkan adanya tanda-tanda kekerasan yang menunjukkan jika perbuatan itu dipaksa sang sopir.

"Kami bukannya tidak sensitif pada perempuan. Tapi ini fakta, saya tidak mengada-ada, dari korbannya sendiri juga yang mengaku dia mau dibawa untuk dipijit-pijit sopir. Di hukum, tidak ada yang namanya hipnotis," jelas Endang.

Penulis: Wahyu Aji
Editor: Dodi Esvandi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
416822 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas