• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 2 Oktober 2014
Tribun Jakarta

Eep: Waspadai Survei Jelang Pilkada

Minggu, 22 April 2012 22:35 WIB
Eep: Waspadai Survei Jelang Pilkada
net
Eep Saefulloh Fatah

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Tak dipungkiri, jelang pemilihan kepala daerah DKI Jakarta, banyak lembaga survei berlomba memberikan hasil surveinya terhadap pasangan calon. Kadang satu lembaga survey dengan lembaga lainnya berbeda jauh.

Tak sedikit juga lembaga survei yang menjadikan survei sebagai alat politik untuk mengerek popularitas calon di depan publik. Setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan masyarakat dalam menilai hasil survei para calon.

Pengamat politik Eep Saefullah Fatah mencatat, pertama survei digunakan untuk menggiring psikis pemilih. Dengan cara, mengedepankan salah satu calon dari sisi elektabilitasnya saja. Sehingga muncul 'arahan' pemilukada ini hanya satu putaran.

"Survei ini semua hal. Bukan elektabilitas saja. Kedua, banyak lembaga survei bermain-main dengan statistik margin of error," ujar Eep usai menghadiri sarasehan Jakarta Baru: Kenapa Harus Jokowi-Ahok, di Waroeng Solo, Jakarta, Minggu (22/4/2012).

Permainan margin error, kata Eep, sering terjadi. Misalnya, cukup menaikkan lima persen calon yang didukung dari hasil semestinya, dan mengurangi lima persen calon yang tidak didukungnya. Sehingga perbedaan nilai akan terlihat.

Ketiga, harus diwaspadai jika ada lembaga survei yang mengatasnamakan dirinya independen. Sejatinya tak masalah jika survei itu dibiayai seseorang atau tidak. Namun yang pasti, sebuah survei yang dibiayai atau tidak, hasilnya harus sama.

Eep tak menutup diri melakukan survei terhadap Jokowi. Namun, survei itu bukan untuk konsumsi publik melainkan untuk internal Jokowi. "Survei ini untuk pemetaan memandu Jokowi," terang suami Sandrina Malakiano tersebut.

Untuk respondennya, Eep mengaku ada 1200 orang yang disurvei, dengan margin error 2.9 persen. Hasil survey tersebut, kata Eep, mencakup banyak hal dan masih berjalan. Survei ini dengan metode face to face langsung, dan berlangsung 10 hari.

Secara pribadi, Eep melihat kampanye Jokowi unik. "Ada saja orang yang memberikan kontribusi untuk membiayai survei dia. Dan itu ada banyak orang yang tergerak melakukan aktifitas organik, bukan mekanik," terangnya.

Penulis: Y Gustaman
Editor: Rachmat Hidayat
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
464772 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas