• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 16 April 2014
Tribun Jakarta

Digoyang Isu Baju Koko, Jokowi: Ada 'Negative Campaign'

Senin, 23 April 2012 00:18 WIB
Digoyang Isu Baju Koko, Jokowi: Ada 'Negative Campaign'
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA
Calon Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, menjadi pembicara dalam acara saresehan Jakarta Mengapa Harus Jokowi-Basuki, di Kemang, Jakarta, Minggu (22/4/2012). Dalam acara tersebut turut hadir budayawan Romo Magnis Suseno, pengusaha Teddy Widjaja, perwakilan Yayasan Lembaga Konsumen Kesehatan Indonesia, Marius Widjajarta, dan pakar transportasi Darmaningtyas sebagai pembicara. (TRIBUNNEWS/DANY PERMANA)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Calon gubernur Jakarta Joko Widodo atau akrab disapa Jokowi tetap tenang menanggapi dirinya dituding kontroversial terkait baju koko. Ia pun tak emosional menanggapi hal tersebut.

"Dalam masa-masa seperti ini, ada yang namanya negative campaign. Ya sudah biasa saja," ujar Jokowi usai acara sarasehan Jakarta Baru: Kenapa Harus Jokowi-Ahok, di Waroeng Solo, Jakarta, Minggu (22/4/2012).

Jokowi jauh hari sudah memberikan penjelasan soal tudingan banyak orang. Ia mengaku tak aneh dengan baju koko karena tiap kali salat Jumat dan pengajian, selalu memakainya. Seperti dilakukannya saat salat Jumat di Masjid Sunda Kelapa berapa waktu lalu.

Pasangan Basuki Tjahaja Purnama ini membantah telah bermaksud menghina budaya tertentu. "Waktu itu pernyataan saya dipelintir saja," ungkap Jokowi yang masih menjabat sebagai Wali Kota Solo ini.

Karena pelintiran itu, muncul dorongan agar Jokowi meminta maaf kepada masyarakat Betawi. Sampai, Lembaga Kebudayaan Betawi ikut mendesak Jokowi minta maaf terkait ucapannya memakai baju koko hanya mencari simpati publik.

Namun sikap LKB dikritisi oleh budayawan Betawi Ridwan Saidi. Menurutnya, Jokowi tak perlu meminta maaf dan sebaliknya meminta LKB belajar tentang sejarah bahwa baju koko sudah lama menjadi tradisi bukan saja Islam.

Ridwan menegaskan, istilah baju koko dikenal dengan sebutan gunting Cina. Bahkan keberadaan model baju ini, katanya, sudah ada sebelum Islam mulai menyebar.

"Kalau kita lihat potret orang Cina jaman dulu, sudah ada baju model seperti itu. Orang melayu juga pakai model baju seperti ini," ujar Ridwan yang akrab menghiasi kepalanya dengan peci warna hitam ini.

"Mau orang Islam atau bukan. Betawi atau bukan juga pakai baju model ini. Di Minahasa juga ada pakaian khas dengan baju model ini dengan ragam yang lain," tambah Ridwan.

Seperti diketahui dalam kunjungannya ke salah satu media di Jakarta, pasangan Jokowi-Ahok menyebutkan penggunaan baju koko dan peci itu merupakan pencitraan gaya lama, basi dan membosankan.

“Ya bosanlah. Semua yang maju ke pilkada selalu pakai baju koko dan kopiah, biar kelihatan religius ” kata Jokowi.

Berbagai tanggapan pun muncul, Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) H Tatang Hidayat meminta kandidat calon pasangan gubernur DKI  Joko Widodo (Jokowi)- Basuki Tjahja Purnama (Ahok) meminta maaf.  Keduanya diminta mengklarifikasi pernyataan bahwa baju koko plus kopiah yang digunakan kandidat lainnya adalah dalam rangka kandidat tersebut mencari simpati publik, agar terkesan religius dan taat beragama.

Dia menegaskan pernyataan Jokowi-Ahok tersebut menciderai budaya Indonesia, hal itu juga tidak patut diucapkan seorang calon gubernur.

”Seolah-olah dia tidak tahu baju koko itu sudah menjadi kearifan lokal budaya Betawi, dan sudah sejak lama menjadi sebuah identitas nasional seperti halnya baju adat istiadat daerah lain," kata Tatang dalam rilisnya kepada Tribun, Jakarta, Kamis (19/4/2012).

Penulis: Yogi Gustaman
Editor: Willy Widianto
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
464902 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas