• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 21 Agustus 2014
Tribun Jakarta

Jenderal Sempat Comblangi Ahok dengan Prijanto

Rabu, 25 April 2012 15:58 WIB
Jenderal Sempat Comblangi Ahok dengan Prijanto
FX ISMANTO
AHOK OPTIMISTIS: Bakal Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang disapa Ahok, berkunjung ke Redaksi Tribun, Senin (24/4) di Jalan Palmerah Selatan. Tribunnews/FX ISMANTO)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Basuki Tjahaja Purnama ternyata telah lama menyimpan impiannya menjadi pemimpin DKI Jakarta. Setidaknya pada tahun 2010, pria yang akrab dipanggil Ahok ini mulai terpikir mengenai masalah kepemimpinan di DKI Jakarta.

Ahok, sapaan Basuki Tjahaja Purnama memang kelahiran Manggar, Belitung Timur, 29 Juni 1966. Namun sebagian bear hidupnya dilewati di Jakarta. Ia bukan orang baru di Jakarta. Selama 31 tahun dia tinggal di Ibu Kota.

Dia melewati masa-masa bersekolah di bangku SMA dan perguruan tinggi di Jakarta. Ahok menamatkan pendidikannya di Fakultas Teknologi Mineral jurusan Teknik Geologi Universitas Trisakti, dan meraih gelar Sarjana Teknik Geologi tahun 1989. Ahok pun memiliki tempat tinggal di Jakarta.

Sejak muda, Ahok dalam keseharian terbiasa menjelajah sudut-sudut Jakarta serta pusat-pusat pereknomoian di Ibu Kota. Semua itu dia lakukan untuk membantu orang tuanya yang bekerja di bidang swasta.

Dia terbiasa nauik turun angkutan umum atau bus kota untuk berbelanja alata-alat apotik, suku cadang dan segala rupa yang dibutuhkan masyarakat Bangka Belitung.

“Ibu saya punya apotek. Saya biasa mencarikan obat sampai ke daerah Pasar Minggu. Lalu membantu usaha keluarga dengan berkeliling ke berbagai daerah,” kenang Ahok sambil tertawa ketika berkunjung ke kantor Redaksi Tribunnews di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, Selasa (24/4/2012).

Ia pun memiliki banyak kawan yang tersebar di berbagai wilayah DKI. Untuk bepergian Ahok terbiasa menumpang beragam angkutan publik di Jakarta karena orang tua Ahok tak mau anaknya dimanja dengan kendaraan pribadi.

Saat berkeliling Jakarta, Ahok sering terusik melihat kondisi Jakarta yang semrawut. Dia pun berpikir-pikir bagaimana semestinya menata kota yang menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia. Tapi, jalan hidup pada awalnya mengantar Ahok untuk berkiprah di Bangka Belitung.

Di Belitung, Ahok sempat menekuni pekerjaan di bidang swasta. Kemudian ia lolos menjadi anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur, seterusnya terpilih menjadi Bupati Belitung Timur.

Saat kampanye menuju Bupati, dia melawa pakem yang biasa berlaku, bagi-bagi uang, kaus, maupun barang kebutuhan pokok kepada calon pemilih. Dia tidak melakukan itu semua, melainkan rutin mendatangi langsung warga, sambil membagi-bagi kartu nama yang mencantumkan nomor telepon selulernya.

Setelah terpilih, dia membuat terobosan, semua warga Belitung Timur dimasukkan asuransi kesehatan. Sektiar 50 ribu warga dibayarkan premi Rp 10 ribu per orang. Dan sejak itu, warga yang hendak berobat ke Puskesman maupun Rumah Sakit kelas III, tidak perlu bayar, cukup bayar cukup membawa kartu kepesertaan asuransi.

Ahok pun nyaris menjadi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung pada Pemilukada 2007. Dia mengaku kalah sedikit selisih suara karena dicurangi lawan. Ahok pun akhirnya berkiprah sebagai anggota DPR RI dari Partai Golkar melalui Pemilu 2009.

Awal kisah keikutsertaan Ahok di Pemilukada DKI bermulai ketika seorang rekannya datang ke ruang kerja Ahok di DPR RI pada tahun 2010. Saat itu, Ahok masih berencana mencalonkan diri menjadi kandidat Gubernur Bangka-Belitung.

Maklum, Ahok ingin bertugas kembali ke kampung halamannya, membangun masyarakat setempat. Namun, temannya itu mengubah pandangan Ahok. Lalu seorang jenderal mendatanginya beberapa kali, yang bertindak sebagai penghubung atau makcomblang dengan Prijanto, meminta Ahok agar bersedia maju sebagai wakil calon gubernur DKI.

"Aku didatangi seseroang, jenderal bintang dua. Dia intelijen. Dia bilang, Saudaraku, kalau mau mengubah Indonesia ya di Jakarta. Tidak ada sejarah Indonesia diubah dari kampung. Jadi Gubernur DKI saja saudaraku," kata Ahok menirukan ucapan rekannya.

Ahok mengatakan rekannya itu ingin menjodohkan dirinya dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta saat, Prijanto. Sosok Prjanto bukan figur asing bagi Ahok, tapi dia belum menganggap serius tawaran tersebut.

"Saya pikir apa tidak salah, burung di tangan dilepas, burung di langit belum kelihatan. Saya minta tanda saja deh," kata ayah tiga anak itu.

Temannya itu lalu mendesak agar Ahok mulai memikirkan mengenai kepemimpinan DKI Jakarta. Ahok diminta untuk menaikkan citra diri. Caranya, dengan melakukan diskusi-diskusi dengan biaya sekitar Rp 50 juta per bulan.

Ahok menolak. Ia mengaku tidak memiliki dana untuk pencitraan sebesar itu. Lagipula bukan gaya Ahok untuk berkampanye dengan cara demikian. "Kalau gitu tidak bisa, habis duit gaji saya di DPR," tukas Ahok.

Tetapi, sejak saat itulah Ahok mulai memantapkan tekad untuk tidak kembali ke Bangka Belitung, walaupun ada partai di luar Golkar yang berminat memajukan dia sebagai calon Gubernur Bangka Belitung. Situasi berubah 18 Februari 2012, saat dia diumumkan sebagai calon wakil gubernur DKI mendapingi Jokowi.

(Ferdinand Waskita)

BERITA TERKAIT KLIK TRIBUN JAKARTA DIGITAL NEWSPAPER


Penulis: Ferdinand Waskita
Editor: Domu D. Ambarita
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
473701 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas