• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribun Jakarta

Edi Priyatno, Amankan Jakarta Dari Banjir

Senin, 7 Mei 2012 10:24 WIB
Edi Priyatno, Amankan Jakarta Dari Banjir
(Tribunnews/Hendra Gunawan)
Edi Priyatno, penjaga Waduk Muara Baru, Jakarta Utara

TRIBUNNEWS.COM - TANGAN kekar Edi Priyatno (41) mulai mendayung sekoci yang terbuat dari gabus di waduk Muara Baru, Jakarta Utara. Matanya terus mengawasi sampai mana eceng gondok yang tumbuh subur  di waduk tersebut. Meski sulit dibasmi, tanaman yang menjadi perusak tersebut harus dikontrol pertumbuhannya. "Setiap hari diambil, tetapi tidak habis-habis," ujar Edi.

Edi Priyatno adalah operator dan pengurus waduk Muara Baru. Waduk yang berada di sebelah utara Jakarta tersebut, fungsinya sangat penting karena menjadi lokasi akhir mengalirnya sebanyak 13 anak sungai di Jakarta sangat menentukan kondisi Jakarta.

Sebagai pengurus waduk, selain mengontrol eceng gondok lelaki yang akrab disapa Yatno ini bertugas mengoperasikan pintu-pintu air waduk. Setiap pukul 13.00 siang pintu harus dibuka hingga air turun ke laut. Itu kalau kondisi cuaca normal, karena debit air dari selatan Jakarta tidak meluap. Tetapi kalau daerah di Bogor dan sekitarnya mengalami hujan deras, maka pintu air bisa dibuka pada pagi hari. Yang jelas, ujarnya, kalau eskalasi air di waduk sudah melebihi 1,9 meter, maka Yatno dengan timnya harus bersiap-siap membuka waduk.

Ayah dari dua anak tersebut bekerja hampir setiap hari mengawasi dan mengoperasikan pintu.Dirinya tercatat sebagai karyawan di bawah Dinas PU DKI Jakarta. Ia dibantu 20 orang pegawai lepas harian (PLH). Bagaimana pun, jelasnya, waduk Muara Baru ini merupakan penampung aliran sungai terbesar di Jakarta, bila di waduk Muara Angke dan Sunter bisa mengalirkan air sekitar 1 kubik per detik, di waduk Muara Baru alirannya mencapai 7-8 kubik per detik.

Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah terjadinya sedimentasi pada waduk seluas 83 hektare tersebut, banyaknya eceng gondok di danau itu mempercepat pengendapan lumpur. "Sepuluh tahun lalu kedalaman waduk ini sekitar 12 meter, kalau sekarang sudah semakin dangkal, ada lokasi yang dalamnya enam meter ada yang tiga meter juga," ujarnya.

Dengan semakin dangkalnya kedalaman waduk, jelasnya, wilayah sekitar waduk sangat rentan terhadap banjir. Padahal, Waduk Muara Baru mengamankan sejumlah wilayah penting, seperti Istana Presiden dan pusat pertokoan Mangga Dua.

Disebutkannya, kejadian banjir besar di Jakarta pada 2007 lalu juga terjadi karena tanggul yang membatasi laut dengan daratan jebol. Saat itu air tidak bisa tertahan karena dari arah laut dan darat semuanya meluap. "Waktu itu di rumah saya saja banjirnya sampai sedada orang dewasa," ujarya.

Rencananya pemerintah  akan melakukan perluasan waduk dan pengerukan agar pengamanan Jakarta dari banjir bis aditingkatkan. Namun Yatno mengatakan dirinya tidak tahu kapan itu bakal terlaksana.

Penulis: Hendra Gunawan
0 KOMENTAR
506862 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas