• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribun Jakarta

Hidayat Nurwahid Curhat Pelarangan Dirinya Jadi Khatib

Senin, 14 Mei 2012 19:35 WIB
Hidayat Nurwahid Curhat Pelarangan Dirinya Jadi Khatib
TRIBUNNEWS.COM/TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Cagub-cawagub DKI Jakarta, Hendarji Supanji, Basuki Tjahja Purnama, Hidayat Nur Wahid, dan Faisal Basri (kiri ke kanan) mengikuti debat di Aula Fakultas Kedokteran UI, Salemba, Jakarta Pusat, Senin (14/5/2012). Debat ini mengenai program kesehatan cagub-cawagub DKI Jakarta untuk Jakarta yang lebih sehat.

Laporan Wartawan Tribun Jakarta Mochamad Faizal Rizki

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hidayat Nur Wahid (HNW), calon gubernur DKI Jakarta yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) beberapa hari lalu merasakan pelarangan dirinya menjadi khatib saat Shalat Jumat di Mesjid An-Ni'mah Pulau Panggang, Kepulauan Seribu.

Saat itu Hidayat ditolak menjadi  khatib oleh pengurus Masjid setempat," saya mendengar betapa gaduhnya di luar kamar, mereka yang menyampaikan larangan itu, dengan alasan yang tidak masuk akal," tutur Hidayat kepada Wartawan seusai menghadiri debat Cagub di Kampus FK UI Salemba, Jakarta, Senin (14/05/2012).

Hidayat menambahkan pola-pola seperti pelarangan khatib berdakwah, atau khatib harus dari partai penguasa dan khatib harus ada izin dari aparat setempat, merupakan pola-pola dari Orde Baru yang masih bercokol dimindset masyarakat.  

Lebih lanjut Hidayat mengatakan, alasan bahwa bila dirinya naik mimbar maka masjid akan mempunyai hubungan buruk dengan aparat sehingga akan kesulitan mengajukan proposal, tidak akan dibantu pemerintah, tak masuk akal."Masa kita dibarter dengan proposal," tutur Hidayat.

Lebih lanjut HNW mengatakan, peristiwa semacam ini terjadi di Jakarta dan menimpa pada dirinya, lalu bagaimana dengan daerah lain. "saya merupakan khatib tetap Masjid Istiqlal dan mantan Ketua MPR RI,  bagaimana bila hal seperti ini terjadi di daerah lain,"kata Hidayat.

"Namun untung saja kita bisa melakukan komunikasi efektif, dan akhirnya pengurus memperbolehkan saya bisa naik mimbar. Yang sangat disayangkan adalah pola seperti ini masih saja bercokol dalam kehidupan kita. Saya sangat prihatin karena pola jahat Orde Baru seperti ini sangat berbahaya bagi kehidupan berdemokrasi kita," ujar Hidayat.

Editor: Yulis Sulistyawan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
530742 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas