Minggu, 1 Februari 2015
Tribun Jakarta

Papa Sudah tak Pantas Naik Mobil itu

Kamis, 17 Mei 2012 11:18 WIB

Papa Sudah tak Pantas Naik Mobil itu
TRIBUNNEWS.COM/FERDINAND
Salah seorang korban pesawat Sukhoi Superjet 100, Dewi Intan Mutiara. Foto Dewi dipegang oleh ayah tercintanya, Sidup Usman

TRIBUNNEWS.COM,TANGERANG--Dewi Mutiara Intan bercita-cita sebagai pramugari. Impiannya itu, sudah diceritakan kepada ayahnya, Sidup Usman saat masih menjalani pendidikan sekolah dasar. Cita-cita itu langsung didukung sang ayah.

"Saya bilang, saya akan dukung kamu melalui doa dan materi," kata Sidup.

Cita-cita pramugari itu ternyata terus dipupuk Dewi hingga bersekolah di SMK 57, Ragunan, Jakarta Selatan. Dewi adalah salah satu penumpang pesawat Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak, Rabu (10/5/2012) lalu.

"Saya cerita kasus Adam Air yang hilang di lautan. Saya ingatkan resikonya. Dia bilang masalah umur itu Allah yang punya, mau kerja duduk dirumah, dijalan, di udara kalau Allah sudah menghendaki. Akhirnya saya dukung semoga cita-citanya tercapai," tutur Sidup.

Selepas lulus sekolah, Dewi tidak langsung berprofesi sebagai pramugari. Ia sempat merasakan kerja di bidang perhotelan, di Hotel Grand Pacific. Dewi beralasan pekerjaan itu sebagai batu loncatan menuju karier di bidang pramugari.

Bekerja sebagai front office di hotel membuat kemampuan bahasa Inggris, Mandari dan Jepang terasah. Saat Dewi melamar di Lion Air, persyaratan menjadi pramugari dengan mudah dapat dilalui.

"I senang cita-cita tercapai dan banyak teman, saya bilang syukurlah kalau kamu bekerja di bidang yang kamu senangi jadi tidak akan berpindah-pindah lagi," imbuh Sidup.

Halaman12
Penulis: Ferdinand Waskita
Editor: Rachmat Hidayat
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas