• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Senin, 21 April 2014
Tribun Jakarta

Dokter Asik Main Handphone Bayi Pramugari Tewas

Jumat, 25 Mei 2012 11:35 WIB
Dokter Asik Main Handphone Bayi Pramugari Tewas
Ilustrasi

TRIBUNNEWS.COM,JAKARTA--Rumah Sakit Asri digugat lantaran diduga melakukan malapraktik saat melakukan persalinan terhadap seorang ibu dengan metode waterbirth (persalinan di dalam air,) akhir 2011 lalu.

Saat jumpa pers di Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta di Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (24/5) kemarin, ibunda si bayi, Martini Nazif (34) mengatakan, bayinya Mayumi Rose Dees, meninggal usai keluar dari rahimnya pada 8 November 2011. Martini berprofesi sebagai pramugari di sebuah maskapai penerbangan nasional.

Menurut ibu muda yang tinggal di Apartemen Kalibata City, Kalibata, Jakarta Selatan, ini dokter yang menanganinya tidak profesional. Pertama, kata istri Mikes Mardhana (27) tersebut, saat persalinan dokter menangani pasien sambil memainkan handphone (HP). Ketika persalinan, dokter juga menangani dua pasien sekaligus, yakni Martini dan seorang pasien yang juga melahirkan dengan metode waterbirth di sebelah ruang persalinan Martini.

Ketidakprofesionalan makin terlihat saat bayi lahir, dokter dan perawat langsung membawa bayi keluar dari ruang bersalin waterbirth. Kemudian, meninggalkan Martini berkubang di kolam air yang sudah bersimbah darah. "Sekitar satu setengah jam saya ditinggal di dalam kolam itu dalam kondisi penuh darah," katanya.

Lebih menyesakkan lagi, dokter tiba-tiba muncul menyampaikan bahwa bayi Martini meninggal. Alasannya karena paru-parunya tidak berkembang setelah dilahirkan.

Dari urutan kejadian yang dialaminya itu, Martini dan pihak LBH Jakarta menduga kematian yang dialami bayinya terjadi akibat ketidakprofesionalan dalam persalinan. Martini dan suaminya begitu kecewa karena pelayanan yang diberikan dokter berinisial Alt tersebut begitu buruk.

Martini juga mengatakan, sang jabang bayi berada di dalam rahimnya lebih lama dari bayi normal, yakni selama 38 minggu. Selama itu dia tidak merasakan adanya rasa mules sehingga dokter memberikan rangsangan obat untuk mengeluarkan si bayi.

Bahkan, sebelum proses persalinan, Martini sudah lebih dulu menginap di RS Asri selama tiga hari. Namun, menurut dokter bayinya dalam kondisi sehat sehingga dia meyakini bahwa saat dilahirkan bayinya dalam kondisi normal.

Sementara itu, pengacara publik dari LBH Jakarta, Nurkholis Hidayat, menjelaskan jalur hukum akan ditempuh setelah pihaknya berusaha meminta penjelasan dari rumah sakit namun jawabannya tidak memuaskan. Bahkan, kata Nurkholis, Martini yang menuntut rekam medis sampai kini baru memperoleh resume medis saja.

LBH Jakarta mencoba melakukan mediasi dengan harapan dapat memperoleh kejelasan ihwal kasus yang dialami kliennya. Karena dari November sampai akhir April lalu tak mendapat tanggapan positif, pihaknya baru berinisiatif menyebarkan informasi ini ke media dan akan melaporkan perlakuan RS Asri ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI).

Martini mengakui bahwa sebelum proses kelahiran bayi pertamanya itu dia tidak pernah memeriksakan diri di RS Asri, tetapi selalu di RS Saint Mary. Meski demikian, katanya, dokter yang memeriksa dan membantu proses persalinannya sama, yakni dokter Alt.

Adapun alasan Martini memilih proses persalinan di dalam air karena dia memiliki rasa takut terhadap rasa sakit saat melahirkan dan takut dijahit. Atas saran dokter Alt, Martini memilih metode persalinan waterbirth.

Editor: Rachmat Hidayat
Sumber: Warta Kota
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
560282 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas