Selasa, 25 November 2014
Tribun Jakarta

Hendardji Curhat Soal DPT Fiktif kepada Wartawan

Selasa, 29 Mei 2012 17:15 WIB

Hendardji Curhat Soal DPT Fiktif kepada Wartawan
TRIBUNNEWS.COM/WAHYU AJI

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hendardji Soepandji, calon gubernur DKI Jakarta dari jalur independen, menyambangi tempat nongkrong wartawan Jakarta Timur.

Sekitar 30 jurnalis dari berbagai media massa di ibu kota menyambutnya di Mapolsek Jatinegara, Jalan Otto Iskandardinata, Selasa (29/5/2012) sekitar pukul 12.30 WIB.

Sambil menyantap Soto Betawi, mantan Danpuspom pun menjawab santai beberapa pertanyaan wartawan kepadanya.

Menurut Hendardji, daftar pemilih tetap (DPT) tidak boleh ada yang fiktif. DPT fiktif, tuturnya, tidak hanya data warga yang telah meninggal dunia masih tercatat, tapi juga warga yang seharusnya memiliki hak pilih menjadi tidak terdaftar.

Hal ini dialami oleh beberapa pendukungnya. Hendardji mengungkapkan, pendukungnya merupakan warga Jakarta yang sudah tinggal puluhan tahun di ibu kota, namun tak terdaftar.

"Ada yang aneh. Orang sudah meninggal masuk daftar. Ada pendukung saya sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta tidak masuk daftar. Koordinator kelurahan pendukung saya mau memasukkan nama itu tidak bisa.
Di kelurahan dipersulit, di kecamatan dipersulit juga. Kalau sampai KPUD dihambat juga, akan kami tempuh jalur hukum," tegas Hendardji.

Menanggapi masih carut-marutnya DPT, Hendardji sepakat dengan keputusan diundurnya penetapan DPT yang sedianya akan dilakukan pada 26 Mei lalu, menjadi 2 Juni 2012 mendatang.

Pengunduran waktu penetapan ini dilakukan dengana harapan KPU DKI dapat segera membenahi DPT.

"Tapi, pilkadanya tidak boleh diundur. Nanti gubernurnya menjabat selama 10 tahun," selorohnya.

Ditegaskan Hendardji, bila pendukungnya terus dihambat agar bisa masuk daftar pemilih, pihaknya sudah meyiapkan langkah hukum.

Tim Hendardji bakal menggugat KPU DKI tanpa partai pendukung pasangan lain, yang dikabarkan juga akan melakukan gugatan.

"Masalahnya kan beda-beda. Pendukung saya ya pendukung saya," cetusnya.

Permasalahan karut marutnya DPT, menurut Hendardji tidak terlepas dari tidak transparannya KPU DKI selama ini.

"KPU keterbukaannya tidak ada. Verifikasi KTP tidak pernah dibuka sampai sekarang, tanpa alasan yang jelas. Akibatnya, karena tidak pernah terbuka muncul di ujung soal DPT," paparnya. (*)

BACA JUGA

Penulis: Wahyu Aji
Editor: Yaspen Martinus

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas