• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribun Jakarta

Tipu Rp 1,4 Miliar, RH Mondar-mandir di Ruang Kapolda

Senin, 4 Juni 2012 15:10 WIB
Tipu Rp 1,4 Miliar, RH Mondar-mandir di Ruang Kapolda
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto,

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Adi Suhendi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - RH, otak pelaku penipuan yang menjanjikan bisa mengurus pembebasan pelaku narkoba di Polda Metro Jaya, mondar-mandir terlebih dahulu di ruang tunggu Kapolda Metro Jaya untuk meyakinkan korbannya.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto saat ditemui di ruang kerjanya, mengatakan, memang, siapa pun yang berkepentingan bisa masuk ruang tunggu Kapolda.

"Untuk meyakinkan korbannya, pelaku (RH) dekat dengan penyidik Polda, ia masuk ke ruang tunggu Kapolda dan keluar masuk. Untuk diyakinkan seolah-olah dia seperti akrab dengan orang-orang di situ (ruang tunggu Kapolda Metro Jaya)," jelas Rikwanto, Senin (4/6/2012).

Jelas Rikwanto, ruang tunggu Kapolda memang berlaku umum, siapun yang ada di sana bisa duduk di ruang tersebut. "Siapa pun bisa bertamu, itu siapa saja, baik yang sudah membuat janji dan tidak membuat janji," ucapnya.

Sebenarnya, tidak ada yang dilakukan RH, ia untuk meyakinkan sang korban, sengaja berjalan seolah-olah ia menemui Sespri Kapolda, padahal ia berjalan ke kamar kecil.

"Hal itu dilakukan untuk meyakinkan korban bahwa dia ada hubungan yang akrab dengan lingkungan di situ (ruang tunggu Kapolda)," ucap Rikwanto.

Siapa pun orang akan merasa percaya bila gerak-gerik RH yang bisa duduk-duduk dan berjalan-jalan di ruang tersebut, seakan pelaku bukan orang asing di lingkungan Polda Metro Jaya.

Witya Husen warga asal Polonia, Medan yang memang sedang berurusan dengan penyidik Polda Metro Jaya pun yakin, bahwa RH bisa membantu anggota keluarga Witya yang ditahan di Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya.

Setelah yakin, pelaku kemudian meminta sejumlah uang untuk melicinkan pengurusan pembebasan anggota keluarga Witya. "Pelaku kemudian meminta anggaran untuk memuluskan penyidik mengurus dikeluarkannya tahanan tersebut," tutur Rikwanto.

Untuk meyakinkan Witya, kemudian RH membawa empat orang pelaku lainnya, S, AA, AS, dan D. AS berperan sebagai penerima uang, D mengaku sebagai anggota BNN, sedangkan S dan AA mengaku sebagai orang yang kenal dengan penyidik Polda Metro Jaya.

"Kemudian korban mengeluarkan uang Rp 1,4 miliar. Untuk pemberian pertama sebesar Rp 400 juta, uang tersebut menurut para pelaku akan diberikan ke penyidik Polda, Direktur Reserse Narkoba, dan Kapolres. Kemudian sisanya, RH beralasan uang tersebut kurang untuk anggota BNN dan lain-lain, kemudian dikirim lagi oleh korban sampai totalnya Rp 1,4 miliar," ungkapnya.

Tetapi anggota keluarganya tersebut tidak kunjung keluar dari tahanan, sampai akhirnya Witya pun melaporkan kejadian tersebut ke Polda Metro Jaya pada 1 Juni 2012.

"Keluarganya tidak dibantu (seperti yang dijanjikan), tetapi seperti yang lain kasusnya tetap diproses," ucap Rikwanto.

Berdasarkan laporan tersebut, kemudian polisi menindaklanjutinya dan ditangkaplah dua pelakunya S dan AA pada 1 Juni 2012. "Kita masih mengejar tiga pelaku lainnya RH, AS, dan D," ucap Rikwanto.

Penulis: Adi Suhendi
Editor: Anwar Sadat Guna
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
590392 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas