• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 24 September 2014
Tribun Jakarta

Calon Independen Bentuk Perlawanan Terhadap Parpol Korup

Selasa, 19 Juni 2012 17:56 WIB
Calon Independen Bentuk Perlawanan Terhadap Parpol Korup
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA
Faisal Basri, salah satu calon gubernur DKI Jakarta dari jalur independen.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kehadiran calon independen untuk memperebutkan kursi DKI 1, merupakan bentuk radikalisasi politik terhadap karakter partai politik (parpol) yang cenderung korup.

Parpol saat ini tengah dilanda persoalan serius, mulai dari kecenderungan parpol yang bergaya oligarki, elitis, serta terjebak pada korupsi akut.

Calon independen dalam pemilukada hendaknya dianggap sebagai alternatif mengatasi stagnasi politik, menjebol kebuntuan oligarki, dan memanipulasi politik representasi.

"Calon independen adalah bagian dari radikalisasi politik, ketika struktur politik konvensional yang diselenggarakan oleh demokrasi prosedural yang diperankan oleh representasi  politik  seperti partai, tidak mendorong upaya-upaya inovasi dan pembaruan pada demokrasi," papar pengamat politik UGM Arie Djito, dalam diskusi bertema  'Mencari Calon Pilihan Rakyat, Antara Independen dan Partai Politik' di Kampus UI Salemba, Jakarta Pusat, Selasa (19/6).

Arie melanjutkan, jika Jakarta tidak melihat peluang pemilukada sebagai arus baru untuk perubahan, maka lima tahun lagi Jakarta akan terjebak pada situasi sama, bahkan akan mengalami decline.

Namun, jika upaya eksperimen radikalisasi politik bisa dilakukan di Jakarta, kata Arie, maka bisa dijadikan barometer bagi daerah lain untuk bisa membenahi dua hal.

"Pertama, ini teguran bagi partai, bahwa selama ini terjadi distrust pada pemilih partai politik. Kedua, partai-partai itu harus segera membenahi diri, melakukan reformasi. Parpol saat ini kian konservatif, enggan memperbaiki situasi tata kelola organisasinya," imbuh Arie.

Cagub independen Faisal Basri, dinilai Arie sebagai sosok yang berani mengambil sikap mengolah kejenuhan politik menjadi terobosan baru.

Faisal, menurut Arie, memiliki integritas, kejujuran, keberanian, dan reputasi politik leadership yang cukup kuat.

"Tapi, Faisal Basri akan menghadapi situasi di mana banyak bandar politik yang mengitari partai, dan ini tidak mudah dihilangkan. Tapi, optimisme untuk melakukan pembelajaran sejarah jauh lebih penting dibandingkan takluk terhadap sejarah yang pragmatis," jelas Arie.

Sementara, pengamat politik UI Andrinof Chaniago menyatakan, kehadiran calon independen adalah upaya memperbaiki kelakuan parpol dan sistemnya.

"Dengan independen, maka secara ekonomi politik, biaya politik akan dikoreksi. Biaya politik yang mahal dalam penyelanggaraan pemilu/pemulikada bisa dikoreksi melalui independen," tutur Andrinof.

Namun, harus diperhatikan juga hasil-hasil survei yang dilakukan di lapangan. untuk mengetahui kriteria pemimpin yang diinginkan masyarakat.

"Itu (survei soal kriteria) harus dilihat. Kriteria utama yang diinginkan masyarakat dalam memilih pemimpin adalah karakter, orangnya jujur dan bisa dipercaya. Kalau ingin mengusung independen, perhatikan kriteria utama orang pilih pemimpin. Popularitas saja tidak cukup," ujar Andrinof.

Andrinof juga melihat Faisal sebagai sosok yang jujur dan punya integritas kuat sebagai pemimpin. (*)

BACA JUGA

Penulis: Mochamad Faizal Rizki
Editor: Yaspen Martinus
Sumber: Tribun Jakarta
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
642781 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas