Minggu, 23 November 2014
Tribun Jakarta

Tak Mau Kebanjiran, Jangan Tinggal di Jakarta

Rabu, 20 Juni 2012 18:56 WIB

Tak Mau Kebanjiran, Jangan Tinggal di Jakarta
Tribunnews.com/Iismanto
BANJIR: Mobil terendam dijalan KH Abdullah Syafiie, Kampung Melayu, Tebet, Jaksel akibat banjir luapan Sungai Ciliwung, Rabu (19/1/2012) lalu.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Banjir yang terjadi di Jakarta selama ini dinilai akibat kegagalan politik tata ruang yang diterapkan.

Pengamat perkotaan Yayat Supriatna bahkan mengatakan jangan tinggal di Jakarta bila tak mau kebanjiran.

"Kalau tidak mau kebanjiran, jangan tinggal di Jakarta. Banjir ini sudah terjadi sejak lama. Inti masalahnya karena politik tata ruang yang gagal dan memperparah banjir," ujar Yayat, Rabu (20/6/2012) saat acara diskusi di Indonesian Institute.

Yayat menuturkan sebenarnya banjir yang di Jakarta dapat diminimalisir walaupun secara geografis rentan terhadap banjir. Menurutnya saat ini pengaturan tata ruang di Jakarta cukup lemah sehingga banjir kian parah.

"Politik tata ruang di Jakarta tidak jalan karena ada disfungsi negara. Negara sudah gagal mensejahterakan rakyatnya sehingga lalai pada penataan tata ruang kota," cetusnya.

Yayat menambahkan, untuk menyelesaikan masalah banjir di Jakarta membutuhkan kerjasama antara Pemprov DKI dengan pemerintah pusat. "Selain kegagalan politik tata ruang, juga ada hambatan institusional dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan di bidang penataan ruang," tandasnya.

Penulis: Danang Setiaji Prabowo
Editor: Rachmat Hidayat

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas