• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 2 Agustus 2014
Tribun Jakarta

Pemikiran Sekuler Jokowi-Ahok Tidak Haram

Kamis, 21 Juni 2012 17:49 WIB
Pemikiran Sekuler Jokowi-Ahok Tidak Haram
tribunnews.com/Ferdinand Waskita
Jokowi di halaman rumah Ny Sinta Nuriyah Gus Dur, Minggu (17/6/2012)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pernyataan mengenai pemisahan yang tegas antara ayat suci dengan ayat konstitusi yang dikeluarkan oleh calon Wakil Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mendapat dukungan dari sejumlah mahasiswa yang bergabung dalam komunitas-komunitas tertentu.

Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Pemuda Nusantara (Gemma Nusantara), Jay Mulyadi, mengatakan bila ada calon lain yang merasa 'geli' mendengar komentar Ahok, lebih baik tidak usah berkomentar.

Menurutnya Jokowi yang juga mendukung pernyataan Ahok tersebut mempunyai pemikiran sekuler, yakni memisahkan dengan tegas antara agama dengan konstitusi.

"Pemikiran Jokowi-Ahok seharusnya menjadi wacana yang bagus di negara yang pluralis seperti ini. Jakarta bukan hanya orang Betawi dan Jawa, tetapi juga ada dari Papua dan masyarakat internasional. Pemikiran sekuler yang memisahkan dengan tegas antara agama dan konstitusi itu tidak haram," ujar Jay saat diskusi di Galery Cafe TIM, Cikini Jakarta Pusat.

Dikatakannya, kelompok yang mempermasalahkan ucapan Ahok tersebut adalah kelompok yang memiliki pemahaman ortodok. Menurutnya kelompok seperti itu harus berpikir cerdas.

"Kalau membandingkan kehidupan manusia dari zaman Jahiliyah, memang berpegang pada ayat suci. Tetapi kalau kehidupan bernegara, tentu memakai ayat konstitusi. Statement Ahok itu menyulut kontroversi akibat pemahaman yang dangkal, karena dipenggal kata-katanya," cetusnya.

Jay pun memberikan contoh soal kontorversi Lady Gaga belum lama ini. Menurutnya konstitusi memberikan ruang warga mendapatkan hiburan, namun tetap ada batasan-batasannya. Batasannya tersebut, kata Jay, diatur dalam Undang-undang Pornografi.

"Jakarta ini bukan hanya milik mayoritas tertentu, tetapi pluralis. Ini agama berpolitik atau politik beragama? Kalau agama berpolitik, hancurlah negara ini," ungkapnya.

Jay menambahkan, ucapan Ahok mengenai hal tersebut menjadi seksi dan sensitif karena keluar dari mulut seorang calon Wakil Gubernur DKI. Menurutnya kalau pernyataan itu keluar dari mulut komedian, maka tidak akan ditanggapi.

"Tidak semua suara rakyat suara Tuhan. Di Indonesia, suara rakyat belum tentu suara Tuhan karena disini banyak yang mengatasnamakan rakyat. Kami mendukung gaya kepemimpinan Jokowi-Ahok karena sekuler dan pluralis. Keberagaman yang indah seperti taman bunga," imbuhnya.

Sementara itu, Koordinator Relawan Masyrakat Jakarta (Remaja), Beben Rianto, menyatakan calon lain yang menggembar-gemborkan pernyataan Ahok tersebut hanya ingin menjatuhkan citra Jokowi-Ahok. Menurutnya para calon lain itu mencari kesalahan Jokowi-Ahok sampai sekecil-kecilnya.

"Disini ada aksi gosok menggosok bahasa agama. Kemudian diartikan untuk melecehkan agama tertentu. Ini masuk dalam jajahan politisasi untuk menyudutkan Jokowi-Ahok agar namanya tercoreng depan publik. Kedepannya, berpolitik secara fair, bertarung dengan cara laki-laki. Jakarta baru untuk semua," pungkasnya.

Baca Juga:

Penulis: Danang Setiaji Prabowo
Editor: Johnson Simanjuntak
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
2 KOMENTAR
650942 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
  • Mahmud-Jumat, 22 Juni 2012 Laporkan
    Terserah kpd bangsa ini,
    msh mau menistakan agama
    spt the dark age di Eropa
    abad pertengahan, atau
    meletakkan agama pd tempat
    yg lbh mulia. Hanya nilai2
    universalnya aja yg turun,
    atau menistakannya.
    Menjdkannya hanya sbg alat
    utk mempertahankan
  • Mahmud-Jumat, 22 Juni 2012 Laporkan
    Agama & sprituil tentu 2
    hal yg tak terpisah. Ttp
    bukan bearti org yg sekuler
    tdk memiliki nilai2
    sprituil yg nyata. Spt
    George Washinton,
    keputusannya utk tdk
    serakah pd kekuasaan &
    membatasinya hanya 2
    periode tentu sarat dg
    nilai2 sprituil. S
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas