Selasa, 23 Desember 2014
Tribun Jakarta

Kubu Jokowi-Ahok Bantah Ikut Ajukan Gugatan di MK

Sabtu, 14 Juli 2012 01:39 WIB

Kubu Jokowi-Ahok Bantah Ikut Ajukan Gugatan di MK
Tribun Jogya/Ade Rizal
Calon Gubernur DKI Jakarta dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Joko Widodo yang juga menjabat sebagai Wali Kota Solo, langsung kembali bekerja setibanya di Solo, Kamis (12/07/2012). Pria yang akrab disapa Jokowi itu, tiba di rumah dinasnya di Loji Gandrung sekitar pukul 11.30 WIB. (Tribun Jogya/Ade Rizal)

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kubu Joko Widodo (Jokowi)-Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membantah berada di belakang gugatan judicial review yang diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK).

"Untuk apa kita ajukan itu. Hak-nya dia (M. Sholeh) kalau mau," kata tim sukses Jokowi-Ahok, M Taufik di Jakarta, Jumat (13/7/2012).

Taufik mengatakan tidak ada untungnya bila pihaknya mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi(MK). Menurut Taufik, bukan berarti bila ada celah hukum di MK maka dapat begitu saja melayangkan gugatan.

"UU ini dibuat agar pemimpin DKI sebagai ibukota mendapatkan legitimasi lebih dan yang berbeda dengan daerah lain," tuturnya.

Sebelumnya, pengacara dari Surabaya bernama M. Sholeh, akan melayangkan gugatan judicial review terkait Undang-undang nomor 29 Tahun 2007. Gugatan itu sendiri akan mengatasnamakan seorang warga Jakarta bernama Abdul Hafidz. Sayangnya, Sholeh enggan merinci siapa Abdul Hafidz ini.

Menurut Sholeh, pelaksanaan pemilukada DKI aneh karena mengacu pada dua undang-undang sekaligus, yaitu Undang-undang nomor 29 tahun 2007 serta Undang-undang nomor 12 tahun 2008. Menurutnya dalam Undang-undang nomor 29 tahun 2007 hanya mengatur satu pasal, yaitu pemilukada dua putaran harus digelar jika tidak ada calon yang mendapatkan suara 50 persen plus satu.

Sedangkan dalam Undang-undang nomor 12 tahun 2008, kata Sholeh, disebutkan bahwa penetapan dua putaran hanya dilakukan jika tidak ada calon yang memperoleh suara 30 persen plus satu.

"Lalu apa bedanya antara Jakarta dengan daerah lain? Ini sungguh aneh," paparnya.

Meskipun gugatan ini akan menguntungkan pasangan Jokowi-Basuki Tjahaja Purnama, Sholeh membantah jika ini adalah pesanan.
"Saya bukan orang Jakarta. Saya diskusi dengan beberapa teman dan sepakat untuk membuka mata, semua kesalahan dalam pelaksanaan pemilukada DKI," pungkasnya.

Penulis: Ferdinand Waskita
Editor: Willy Widianto

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas