• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 25 Juli 2014
Tribun Jakarta

Lemah di Media Sosial, Penyebab Jebloknya Suara Foke

Sabtu, 14 Juli 2012 01:02 WIB
Lemah di Media Sosial, Penyebab Jebloknya Suara Foke
Warta Kota/Bian Harnansa/Alex Subhan
Calon Gubernur (Cagub) DKI Jakarta, Fauzi Bowo (kiri). Calon Gubernur DKI Jakarta Haji Joko Widodo, (kanan). Siap mengikuti Pilkada Putaran kedua. (Warta Kota/Alex Subhan, TRIBUN JAKARTA/Bian Harnansa)

Laporan Wartawan Tribun Jakarta Mochamad Faizal Rizki

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tidak digunakannya media sosial sebagai salah satu sarana berkampanye menjadi salah satu penyebab jebloknya perolehan suara duet Foke-Nachrowi.

"Meskipun media sosial ini miliknya kelas menengah ke atas, namun, influence(pengaruh) terhadap berbagai elemen di masyarakat."kata Direktur Political Wave.com, Yose Rizal kepada Tribunnews.com,Jumat (13/7/2012).

Meskipun frekuensi pembicaraan pengguna sosial media seperti twitter, facebook, blog, online forum, berita online dan youtube terhadap Foke sangat tinggi, namun hal tersebut didominasi oleh sentimen negatif.

"Foke menyadari bahwa, tidak punya basis pemilih yang kuat di kalangan  menengah ke atas, sehingga ia mengabaikannya,"kata Yose.

Foke kata Yose tidak memiliki prestasi yang baik untuk ditampilkan di masyarakat pengguna sosial media. Sehingga kurang optimal dalam merebut hati para pemilih di kelas menengah.

"Foke juga kurang memperhatikan  'serangan-serangan' yang diluncurkan oleh kandidat lain terhadapnya, sehingga sentimen negatif terus meluncur ke arahnya hingga implikasinya ialah turunnya perolehan suara pada pemilu lalu," jelasnya.

Berlawanan dengan Foke, kandidat yang diusung PDI P dan Gerindra yakni Jokowi dan Ahok, mampu memaksimalkan peran media sosial sehingga mampu menggiring opini publik terhadapnya.

"Bahkan di sosial media seperti twitter, tidak hanya simpatisan Jokowi-Ahok yang berasal dari dalam partai, tetapi juga masyarakat di luar yang ikut memberikan sentimen positif kepada Jokowi," katanya.

Hal ini juga didukung oleh mayoritas kelas menengah yang memang menginginkan adanya perubahan dari status quo yang selama ini dianggap berbohong dan gagal mengemban janji-janji saat kampanyenya dulu.

"Kenapa Jokowi-Ahok bisa begitu populer di sosial media. Karena  kelas menengah, ingin perubahan, muak dengan incumbent, track record terjaga dengan baik dll, di sisi lain pihak incumbent kurang mengoptimalkan media sosial karena menganggapnya tidak begitu penting," pungkasnya.

Editor: Willy Widianto
Sumber: Tribun Jakarta
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
722862 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas