• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 23 Agustus 2014
Tribun Jakarta

Lelah, Tangis, dan Amarah Korban Xenia Maut

Senin, 23 Juli 2012 16:30 WIB
Lelah, Tangis, dan Amarah Korban Xenia Maut
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Afriyani Susanti (tengah), saat akan mengikuti sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (23/7/2012).

Laporan Riana Dewi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Isak tangis dan amarah kembali membanjiri ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, saat sidang kasus Xenia maut dengan terdakwa Afriyani Susanti, Selasa (23/7/2012).

Keluarga korban tak bisa menerima putusan hakim yang kembali menunda sidang. Yadi, ayah keluarga korban, bangkit dari duduknya dan berteriak di ruang persidangan, sesaat setelah hakim memutuskan menunda sidang.

"Sidang macam apa ini? Ditunda-tunda terus. Kami capek! Ini anak kami korbannya!" katanya emosi sambil membawa foto almarhum putranya, Ari Bukhari.

Teriakan Yadi membangkitkan emosi keluarga lainnya. Dalam persidangan, hadir juga keluarga Muhammad Akbar. Sang ibu yang sudah renta, Minah, keluar dari ruang sidang dengan langkah gontai dan air mata menggenang.

Ia teringat putranya yang meninggal karena tertabrak, sesaat setelah latihan bermain bola di Monas. Tak lama setelah berjalan keluar dari ruang persidangan, Minah berteriak. Ia tak dapat lagi menahan emosinya.

"Ini anak kesayangan saya! Udah meninggal, Pak. Kenapa ditunda terus?" teriaknya sambil menangis terisak, teringat kecelakaan maut yang menimpa putranya.

Kecelakaan maut yang menimpa Ari dan Akbar terjadi pada 20 Januari 2013, di Jalan Ridwan Rais, Jakarta Pusat. Kecelakaan tersebut memakan sembilan nyawa.

Mereka adalah warga Tanah Tinggi, Jakpus, yaitu Firmansyah (17), Buhari (17), Muhammad Huzaifah (16), dan M Akbar (22). Keempaatnya bersama lima orang lain, yaitu Wawan Hermawan (25), Nur Alfih Fitriasih (18), Yusuf Sigit Prasetyo (2,5), Nani Riyanti (25), dan Suyatmi (50).

Pengemudinya, Afriyani Susanti ditengarai sedang mabuk karena sebelumnya mengonsumsi alkohol dan obat terlarang. Keluarga korban menyesalkan sikap hakim dan jaksa, yang tak bisa berbuat maksimal untuk mengumpulkan bukti.

"Kenapa tidak dari kemarin dikumpulkan? Hukum memang tidak berpihak pada rakyat kecil," tutur Minah terisak.

Senada dengan Minah, anaknya yang juga merupakan kakak korban, Djumari, menyayangkan sikap hakim dan jaksa yang sering menunda proses hukum.

"Awas aja kalau hakim main duit!" cetus Djumari lantang.

Djumari dan Minah menuduh Afriyani adalah pembohong. Sebab, dalam persidangan sebelumnya, Afriyani mengaku tak mengonsumsi alkohol saat menyetir.

"Pembohong itu! Pembohong! Mana mungkin bisa nabrak sembilan orang kalau hanya minum air putih!" tutur Djumari.

Yadi, Djumari, Minah beserta keluarga korban lain, akhirnya meninggalkan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan air mata dan amarah di dada. Mereka berharap keadilan tak hanya berpihak bagi mereka yang berduit. (*)

BACA JUGA

Editor: Yaspen Martinus
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
753421 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas