• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 30 Agustus 2014
Tribun Jakarta

Dugaan Penggelembungan Suara di Tanjung Barat Tak Terbukti

Selasa, 24 Juli 2012 16:43 WIB
Dugaan Penggelembungan Suara di Tanjung Barat Tak Terbukti
Warta Kota/Henry Lopulalan
Calon Gubernur (incumbent) DKI Jakarta, Fauzi Bowo menunjukkan kertas suaranya seusai memberikan hak pilih dalam Pilkada DKI Jakarta di TPS 01, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (11/7/2012). Hari ini warga Jakarta memberikan hak suara mereka dengan memilih salah satu dari enam pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta Periode 2012-2017.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Jakarta Selatan memutuskan bahwa dugaan penggelembungan suara di Tanjung Barat, Jakarta Selatan, tidak terbukti.

Hal itu diputuskan setelah Panwaslu Kota Jakarta Selatan memeriksa 13 saksi.

Ketua Panwaslu Kota Jakarta Selatan, Andi Maulana, mengatakan, ke 13 saksi tersebut berasal dari unsur internal Panwaslu, PPS (Panitia Pemungutan Suara) dan PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan).

Panwaslu menggunakan alat bukti D2-Plano memperlihatkan tidak ada satupun pencatatan dengan goresan angka perubahan.

"Jadi tidak perlu memanggil tim sukses nomor 3 (Jokowi-Ahok), lurah, kepolisian. Cukup 13 saksi kita nyatakan dugaan penggelembungan tidak terbukti," ujar Andi di Kantor Panwaslu DKI Jakarta, Selasa (24/7/2012).

Namun, Andi mengatakan, anggotanya terkena sanksi karena tidak mengawasi penghitungan suara di wilayah Tanjung Barat, Jakarta Selatan.

Selain itu, Andi juga menghimbau kepada saksi pasangan calon untuk menjalankan fungsinya dengan baik. "Yang kita lihat tidak memiliki data, jadi supaya mereka juga memiliki data soal suara di TPS," tuturnya.

Andi mengaku pihaknya telah melakukan rekonstruksi terhadap kasus tersebut. Dalam kasus tersebut petugas PPK berinisial D, diketahui membacakan hasil rekapitulasi bukan berdasarkan data Tanjung Barat tetapi dari data milik sendiri. "Jadi tidak membaca dari kotak suara," ujarnya.

Andi mengatakan pihaknya menemukan adanya hubungan antara anggota panwaslu berinisial B dengan anggota PPS berinisial S dan anggota PPK berinisial D. "Ketiga orang ini berinisiatif membuka kotak tanpa disaksikan yang lain," tuturnya.

Mereka akhirnya menghitung kembali dan menemukan hasil bahwa pasangan nomor urut pertama memperoleh suara 6.820. D mengakui kesalahannya dan mengatakan saat itu dirinya kelelahan sehingga kehilangan konsentrasi saat menghitung.

Sebelumnya, dari hasil rekapitulasi surat suara pada setiap TPS, pasangan nomor urut pertama memperoleh suara 6.820 tetapi ketika dilakukan penghitungan ulang di tingkat PPK Jagakarsa, jumlah tersebut menggelembung menjadi 10.671.

KLIK JUGA:

Penulis: Ferdinand Waskita
Editor: Anwar Sadat Guna
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
757561 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas