• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 25 Juli 2014
Tribun Jakarta

Warga Asli Jakarta Tinggal di Kolong Jembatan di Aliran BKT

Rabu, 1 Agustus 2012 17:11 WIB
Warga Asli Jakarta Tinggal di Kolong Jembatan di Aliran BKT
Wahyu Aji/Tribunnews.com
Penghuni kolong jembatan di aliran BKT

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bau menyengat dari aliran sungai dan sampah yang teramat sangat memenuhi ruang gelap di sebuah kolong Jembatan di Jl Basuki Rachmat, Jakarta Timur.

Tidak akan ada yang mengira di bawahnya terdapat tempat berteduh sekitar 3 keluarga. Gorong-gorong itu berada tak jauh dari jembatan Komplek Perumahan Cipinang Indah, Cipinang Muara, Jakarta Timur.

Pantauan Tribunnews.com di gorong-gorong ini, setiap bedeng terbuat dari triplek dan kusen yang dibuat seadanya. Ukurannya pun terbilang sangat kecil, hanya sekitar 3X3 meter. Namun sempitnya bedeng-bedeng itu harus dimanfaatkan sebisa mungkin oleh tiga keluarga yang bermukim di sana.

Anehnya, mereka yang bermukim di sana bukanlah warga yang datang dari luar Jakarta. Mereka adalah warga Jakarta asli, yang lahir dan besar di Jakarta, serta memiliki kartu identitas penduduk Jakarta.

"Nih saya punya KTP dan kartu keluarga Jakarta. Saya bukan penduduk gelap. Tapi saya tidak pernah diperhatikan pemerintah, karena itu saya terpaksa tinggal di sini," ujar Aisyah (35) salah seorang penghuni, Rabu (1/8/2012).

Ia mengaku terpaksa tinggal di gorong-gorong yang lembab dan bau itu setelah rumah kontrakannya digusur untuk pembangunan KBT. Sejak itu pula ia mengalami kesulitan untuk mencari rumah kontrakan lain, mengingat mahalnya harga sewa rumah di Jakarta.

"Ngontrak rumah kan mahal, mau pindah kemana lagi. Karena di sini ada gorong-gorong, ya kita sekeluarga pindah ke sini," ujar Aisyah.

Sebuah pengakuan Aisyah yang lebih mencengangkan. Yakni meski mereka berada di gorong-gorong dan sangat dekat dengan saluran pembuangan air limbah rumah tangga warga sekitar, bedeng yang mereka diami tercatat di tingkat RT dan RW.

"Gubuk kami ini tercatat di RT 009, RW 014, Kelurahan Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Karena itu keberadaan kami di sini sah kok," jelasnya.

Aisyah mengungkapkan, ia tidak mendapat kartu gakin, yang dapat ia gunakan untuk berobat. Ia juga menuturkan bahwa dirinya tidak mendapat informasi bagaimana untuk membuat surat keterangan tidak mampu (SKTM).

"Karena itu saya tidak mau sakit, sebisa mungkin untuk tidak sakit. Di Jakarta nggak boleh sakit," sesalnya.

Meski begitu kini ia tengah dirundung cemas dan duka, pasalnya salah satu anaknya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga terbaring tak berdaya karena menderita penyakit maag.

Alhasil kini anaknya itu hanya bisa terbaring, dengan pengobatan seadanya. Aisyah mengaku anaknya tidak mau dibawa berobat karena tidak mau membebani keluarga dengan biaya rumah sakit yang mahal.

"Saya sudah ajak berkali-kali berobat. Tapi dia nggak mau, sepertinya takut membebani saya," kata Aisyah.

Ia mengakui, semenjak anaknya itu mengalami sakit, hanya satu orang anaknya yang membantu mencari nafkah dengan menjadi kuli kasar. Penghasilan anaknya dari kuli kasar itu hanya sedikit.

Bahkan meski Aisyah bekerja sebagai pedagang es di sekitar KBT dan suaminya bekerja sebagai pengangkut sampah, jumlah penghasilan mereka terbilang kurang untuk biaya kebutuhan sehari-hari dan membayar sewa listrik dan air yang mereka gunakan.

"Listrik dan air kita ambil dari warga yang rumahnya dekat sini. Tapi kita bayar sebulan Rp 120 ribu. Belum lagi biaya makan dan anak-anak yang masih sekola," ucapnya.

Suami Aisyah, Mitan (51), mengakui bahwa ia terpaksa membawa istri dan delapan orang anaknya ke gorong-gorong itu setelah rumah kontrakannya digusur saat akan dilakukannya pembangunan KBT.

Kini dia hanya dapat berharap suatu saat Jakarta dapat menjadi kota yang ramah bagi warganya, dimana tidak ada lagi penggusuran dalam bentuk apapun.

Penulis: Wahyu Aji
Editor: Johnson Simanjuntak
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
785262 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas