• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 19 April 2014
Tribun Jakarta

Cagub DKI Diminta Tak Asyik Mainkan Emosi Publik

Kamis, 9 Agustus 2012 01:47 WIB
Cagub DKI Diminta Tak Asyik Mainkan Emosi Publik
TRIBUNNEWS.COM/DANY PERMANA/HERUDIN
Fauzi Bowo (kiri) dan Joko Widodo (kanan)

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Pilkada DKI Jakarta putaran kedua yang akan berlangsung tanggal 20 september 2012 sudah terlihat sangat dekat, namun proses kampanye dari para Calon Gubernur (Cagub) DKI Jakarta yang lolos diputaran kedua yakni Fauzi Bowo (Foke) dan Joko Widodo (Jokowi) sudah terkesan keluar dari substansi permasalahan Ibu Kota.

"Sebagai ibukota, Jakarta memiliki beban yang cukup berat dari semua aspek. Seharusnya masalah perkotaan harus menjadi prioritas untuk segera dipecahkan dari para cagub dan bukan terkesan berusaha saling mengaburkan substansi masalah," kata Ketua PP GP Ansor, Rahmat Hidayat Pulungan saat dihubungi Tribunnews.com di Jakarta, Rabu(8/8/2012) malam.

Rahmat menilai, kedua Cagub tersebut terkesan tengah asyik memainkan emosi publik untuk meraih dukungan dan simpati warga Jakarta. Padahal, kompleksitas masalah di Jakarta sudah sangat akut.
"Sejak pagi kita keluar rumah, kita sudah berhadapan langsung dengan masalah-masalah publik, seperti macet, polusi, parkir liar, anak jalanan, tawuran pelajar, banyaknya PKL, dan lainnya," tutur Rahmat.

"Sudah selayaknya para kontestan Cagub yang lolos pada putaran ke 2 baik Foke dan Jokowi berkonsentrasi pada masalah-masalah publik dan konsep penyelesaiannya. Bukan asyik memainkan emosi dan sentimen publik," tegasnya.

Lebih lanjut Rahmat menjelaskan, cara-cara seperti itu menunjukan ketidakhadiran kapasitas dan kompetensi dari para Cagub dalam menyelesaikan masalah-masalah pokok yang ada di Jakarta.

Menurut Rahmat, pemilih di Jakarta sudah memiliki keunggulan tersendiri dari daerah-daerah lain. Karena akses informasi, pengetahuan, independensi dan kemandiriannya lebih baik ketimbang daerah-daerah lain. Karena pola patronase dan ketaatan terhadap institusi partai politik bisa dibilang tidak terlalu kuat, lantaran masyarakat Jakarta terlalu cair dan otonom.

"Pada akhirnya pemilih di Jakarta akan memilih dari apa yang mereka lihat dan rasakan secara langsung, serta harapan mereka tentunya ke depan," ungkapnya.

Oleh karena itu menurutnya, sudah selayaknya dengan peta pemilih dan kompleksitas kota Jakarta, para Cagub harus lebih menonjolkan kekuatan konsep, ide, gagasan dan pengalaman dalam membangun Ibu Kota.

"Karena, masyarakat Jakarta berkepentingan atas siapapun kandidat yang terpilih menjadi gubernur Jakarta dalam menjalankan visi dan programnya dengan nyata serta dapat menyelesaikan masalah-masalah perkotaan dengan sistematis dan partisipatif. Karenanya kualitas dari proses pemilihan pilgub dapat menjadi salah satu indikator untuk membaca itu semua," pungkasnya.

Berita Terkait: Pemilihan Gubernur DKI

Penulis: Willy Widianto
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
810531 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas