• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribun Jakarta

Isu SARA Warisan Kolonial Belanda

Minggu, 12 Agustus 2012 08:36 WIB

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Isu SARA yang masih berkembang di Indonesia, terutama pada pemilukada DKI tahun ini, diyakini karena isu tersebut merupakan warisan sejak zaman kolonial Belanda.

Menurut Pengamat Sosial dari UIN Sunan Ampel, Nuril Huda, saat zaman kolonial di Indonesia, Belanda memakai strategi Devide Et Impera untuk memecah belah antar etnis yang ada di tanah air. "Taktik Devide Et Impera ini menyebabkan kelompok-kelompok yang berperang merugi besar, dan Belanda tidak perlu mengeluarkan energi lebih," ujar Nuril, Sabtu (11/8/2012) saat acara diskusi di Warung Daun Cikini, Jakarta Pusat.

Lebih lanjut, Nuril menuturkan isu SARA sebenarnya tidak boleh disinggung karena bisa menimbulkan konflik horizontal. "Bila isu SARA menjadi komoditas, akan menimbulkan kebencian antar kelompok, agama, dan ras," cetusnya.

Nuril menambahkan, dalam konteks sejarah di Indonesia, isu SARA itu erat dengan peristiwa konflik Ambon, konflik Sampit, dan kerusuhan Mei 1998 saat era Orde Baru. "Saat itu ada kebencian antar etnis. Jadi kalau berbicara isu SARA, itu yang terlintas dalam bayangan. Jadi kalau ada wacana soal memilih pemimpin seiman dalam pemilukada DKI, itu hanya di kelompok masing-masing. Tetapi saya yakin itu kembali pada kecerdasan pemilih," imbuhnya.

Penulis: Danang Setiaji Prabowo
Editor: Gusti Sawabi
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas