• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 17 April 2014
Tribun Jakarta

Banjir adalah Musuh Tertua Jakarta

Rabu, 26 Desember 2012 10:27 WIB
Banjir adalah Musuh Tertua Jakarta
WARTA KOTA/ANGGA BN
Warga melintasi banjir di Gang Langgar, Kampung Sawah, Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (25/12/2012) malam. Banjir setinggi paha orang dewasa yang terjadi pada pukul 22.00 WIB akibat meluapnya Kali Krukut membuat puluhan rumah di daerah tersebut terendam.

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Edwin Firdaus

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejarawan JJ Rizal, menyatakan, banjir merupakan masalah tertua di Jakarta, yang belum bisa diselesaikan sampai saat ini.

Rizal mengatakan, upaya pembebasan banjir di Jakarta sudah dimulai dari abad kelima setelah masehi.

Hal itu dapat dibuktikan dengan sejarah Raja Kertanegara yang membuat kanal banjir sepanjang 10 kilometer di Jakarta.

"Jadi, banjir salah satu musuh paling tua di Jakarta. Musuh Jakarta lainnya adalah nyamuk," ujarnya kepada wartawan, Rabu (26/12/2012).

Menurut Rizal, Jakarta memang memiliki wilayah yang memehuni syarat, menjadi langganan banjir.

Pertama, dasar tanah Jakarta sebagian besar berawa dan kedua punya ketinggian tanah yang lebih rendah dari permukaan air laut.

"Sehingga Jakarta mudah sekali terkena banjir," ujarnya.

Menurut catatan sejarah, lanjut Rizal, upaya lebih serius membebaskan Jakarta dari banjir juga terjadi pada abad ke-19. Keseriusan pemerintah menekan permasalah itu, khususnya pada tahun 1918.

Diterangkannya, Pemerintah Kolonial Belanda melalui Profesor H Van Breen, saat itu melakukan kajian pola tata air di Kota Batavia dengan dibantu terpelajar pribumi, Mohammad Husni Thamrin. Kajian tersebut mereka terbitkan dalam majalah De Engineering.

"Dalam tulisannya, dia menawarkan langkah-langkah penanggulan banjir," kata Rizal menerangkan konsep Van Breen belakangan dikenal dengan pembangunan Banjir Kanal.

Dalam kajian itu, sambungnya, Van Breen, menyimpulkan bahwa banjir yang kerap menerjang Jakarta salah satunya diakibatkan kerusakan ekologi di Selatan Jakarta. Di daerah pinggiran itu banyak hutan yang kemudian diganti menjadi kebun teh.

"Akibatnya debit air Ciliwung di musim hujan bisa meningkat sampai 70 persen," kata Rizal.

Selain itu, Van Breen menerangkan harus ada peraturan yang menjamin profil lingkungan Jakarta oleh pemerintah kolonial.

Seperti melarang membangunan perumahan di tepian aliran sungai, daerah-daerah resapan air, dan di daerah yang sekarang dikenal sebagai kawasan Puncak, Jawa Barat.

"Van Breen juga menganalisis hujan lokal dan hujan-hujan di sekitar Batavia terkait penanggulangan banjir," terangnya.

Penanganan banjir tidak berhenti sampai di situ. Pada 1930-an, sambung Rizal, penerus Van Breen, Blomen Stein juga mengeluarkan gagasan menarik untuk mengatasi banjir Jakarta.

Spesialis banjir di Jawa dan Madura ini menyarankan agar pemerintah memotong jalur banjir dengan membuat danau-danau besar di luar Batavia sebagai daerah resapan air.

"Tapi saran Blomen Stein ini sepertinya mirip dengan yang dilakukan Kertanegara pada abad kelima," terangnya.

Menurut Rizal, sudut pandang cara menangani banjir Jakarta yang dilakukan dari Raja Kertanegara hingga Blomen Stein lebih maju ketimbang yang dilakukan pemerintah sejak kemerdekaan.

Dia mencontohkan sudut pandang yang diambil Soetiyoso ketika menjabat sebagai Gubernur Jakarta dalam mengatasi banjir.

"Perjuangan abad kelima, abad ke-19 sampai ke-20 melihat banjir bukan sekedar takdir, ini menarik. Sebab, Gubernur Soetiyoso pernah mengatakan topografi Jakarta lebih rendah dari laut sehingga mudah banjir. (Pernyataan) ini mundur," imbuhnya.

BACA JUGA:

Penulis: Edwin Firdaus
Editor: Anwar Sadat Guna
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1254922 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas